TAFSIR AGAMA HINDU
 
Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara

 

  1. Latar belakang dan pengertian.
    Melaksanakan upacara yadnya termasuk di dalamnya upacara Pitra Yadnya adalah merupakan kewajiban bagi setiap umat Hindu. Upacara Pitra Yadnya terdiri dari:
    1. Upacara Sawa Wedana
      bermakna mengembalikan unsur- unsur Panca Maha Bhuta (Sthula sarira) dan menyucikan
      atma orang yang telah meninggal) dunia.

    2. Upacara Atma Wedana
      bermakna menyucikan suksma sarira dan atma sebagai kelanjutan dari upacara Sawa Wedana. Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara (Dewa Hyang) dapat dilaksanakan berupa menstanakan kembali atma (roh suci) yang diyakini telah mencapai "Atmasiddha dewata".
      di Sanggah Kamulan (Pemerajan) atau Pura Kawitan (Pura Leluhur).

  2. Tujuan dan fungsi upacara.
    Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara (Menstanakan Dewa Hyang/ Atma leluhur diyakini telah suci) bertujuan untuk menjalin bhakti keturunan atau santana dengan para leluhur di samping juga melalui para leluhur umat manusia dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Sang Hyang Widhi.

    Adapun fungsi upacara pemujaan kepada para leluhur ini adalah sebagai sarana supaya para leluhur dapat memberikan perlindungan dan pengayoman kepada keturunannya, di samping untuk dapat menghubungkan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

  3. Tata Pelaksanaan.
    1. Rangkaian upacara
      1. Setelah melaksanakan upacara Atma Wedana, dilanjutkan pula dengan upacara Nyegara Gunung/ Nyegara Giri atau Majar- ajar ke laut dan ke gunung.

      2. Upacara selanjutnya adalah menstanakan atau Ngalinggihang Dewa Pitara atau Dewa Hyang dengan rangkaian sebagai berikut
        1. Nuntun dari pura Dalem (Kahyangan Tiga, Segara atau Pura Dalem Puri Besakih.
        2. Dilanjutkan dengan upacara menstanakan Ngalinggihang di Sanggah Kamulan (Pamerajan) atau Pura Kawitan (leluhur).


        Penjelasan :

        1. Bagi yang nuntun di pura Dalem (Kahyangan Tiga)
          Pertama melaksanakan upacara mempersembahkan sesajen (ayaban) ke hadapan Ida Bhatara di pura Dalem (Siwa). Selanjutnya pimpinan upacara (Pinandita atau. Pandita) memohon supaya leluhur keluarga yang bersangkutan (yang memohon) diperkenankan disthanakan pada Sanggah Kamulan (Pamerajan), Pura Kawitan atau pura leluhur.
          Sarana yang dipergunakan adalah "Daksina palinggih" yang kemudian dilanjutkan dengan upacara Pradaksina mengelilingi palinggih Pura Dalem tiga kali. Sebelum upacara ini dilaksanakan terlebih dahulu dipersembahkan Segehan Agung dengan "penyambleh ayam Hitam". Dewa Pitara (Dewa Hyang kemudian diiring menuju Sanggah Kamulan (Pemerajan), Pura Kawitan atau Pura Leluhur untuk disthanakan.

        2. Bagi yang memilih nuntun dari segara rangkaian upacaranya hampir sama dengan menuntun di pura Dalem (Kahyangan Tiga) dengan tambahan mapekelem (persembahan sesajen yang dilabuh ke laut) berupa sajen suci hitam, itik hitam dan salaran.

        3. Bagi yang memilih menuntun di Pura Dalem Puri upacaranya lebih besar dan upacara (l) dan (2) di atas. dengan pertama melaksanakan upacara di Pura Segara Gua Lawah dan dilanjutkan. dengan upacara ke Pura Dalem Puri. Sebelum menuju Pura
          Dalem Puri terlebih dahulu mempersembahkan sesajen "Piuning" ke Pura Manik Mas, Bangun Sakti, Ulun Kulkul, Pura Gua dan Pura Banua.
          Perjalanan selanjutnya dan Pura Manik Mas menuju pura Dalem Puri terlebih dahulu menyeberangi Titi Gonggang dan Batu Macepak yang terletak pada jurang sebelah barat Pura Manik Mas.
          Pada kedua tempat ini (Titi Gonggang dan Batu Macepak) mempersembahkan sesajen Pejati atau Penebusan. Setelah selesai memohon Dewa Pitara di Dalem Puri dilanjutkan dengan mempersembahkan Pejati di Pura Basukihan, Padharman (bila yang bersangkutan memiliki Padharman) dan diakhiri dengan mempersembahkan Pejati di Pura Penataran Agung.

    2. Upakara (Sesajen).
      Adapun upakara atau sesajen dan sarana yang merupakan inti adalah : Banten saji Dewa Putih Kuning, Jerimpen Agung, Sesayut, Pangulapan, Pengambyan, Benang Tri Datu (tiga .warna : merah, putih, hitam) satu tukel (satu gulung),uang kepeng 225 biji yang diikatkan pada benang
      tridatu. Sebuah tutup (tombak) yang diikat dengan benang tridatu dialasi l buah kelapa yang dikupas serabutnya, diisi beras, pada ujung tombak dilengkapi dengan "Sat- sat" dari janur di samping sebuah daksina palinggih dan kain sebagai Tigasana.
      Penjelasan:
      Jumlah dan sarana upakara (sesajen) disesuaikan dengan kemampuan (desa, kala, patra) serta petunjuk Pinandita atau Pandita.

    3. Puja Mantra :
      Puja Mantra disesuaikan dengan manifestasi Sang Hyang Widhi yang dipuja :
      1. Durgastawa.
      2. Sagarastawa.
      3. Pertiwistawa.
      4. Gurustawa.
      5. Saraswatistawa.
      6. Prajapatistawa.
      7. Dan lain- lain sesuai dengan lokasi pura dan sarana upakaranya.


      Penjelasan :
      Bila yang memimpin upacara seorang Pinandita (Pamangku) hendaknya mempergunakan "seha" sesuai dengan kewenangannya.

  4. Sumber ajaran.
    Pemujaan Dewa Pitara atau Pitara yang telah suci adalah merupakan salah satu pokok ajaran agama Hindu yang mengajarkan penyembahan kepada leluhur yang telah suci atau Dewa Pitara di samping menyembah Ida Sang Hyang Widhi dan Dewa- Dewa sebagai manifestasi Nya. Pemujaan leluhur yang telah suci itu diajarkan dalam kitab suci agama Hindu dan sastra- sastranya yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan umat di mana agama Hindu itu berkembang. Sumber- sumber ajaran tersebut antara lain sebagai berikut:

      1. Weda.
      2. Itihasa dan Purana.
      3. Negara Kertagama.
      4. Wrhaspatitattwa.
      5. Siwagama
      6. Siwatattwapurana.
      7. Purwabhumikamulan.
      8. Puja Mamukur.
      9. Yama Purwanatattwa.
      10. Pitutur Leburgangsa.
      11. Sanghyang Leburgangsa.

 


Ketua,
ttd.
Drs. l G B N Pandji.

 
Denpasar 14 Maret 1989
Sekretaris,
ttd.
Drs. I Made Titib