Pura Pengerurah
Pura Pengerurah

Pendahuluan Kembali ke atas

OM SWASTI ASTU,

Desa Adat Tunjuk Kecamatan dan Kabupaten Tabanan terdiri dari 850 KK, saat ini memiliki 2 (dua) Kayangan Tiga yang terdapat pada ulun Desa yang diberi nama Kayangan Tiga Kaja dan teben Desa yang diberi nama Kayangan Tiga Kelod serta sebuah Kayangan Pangerurah. Masing-masing Kayangan Tiga ini terdiri dari Pura Desa, Puseh dan Dalem. Sedangkan ditengah-tengah Desa Adat Tunjuk/diantara Kayangan Tiga Kaja dan Kayangan Tiga Kelod terdapat Kayangan Pangerurah. Kayangan Tiga yang terdapat di Desa Adat Tunjuk disungsung oleh warga Desa Adat Tunjuk, namun masing-masing Kayangan memiliki pengempon yang berbeda-beda. Kalau kita melihat Kayangan Tiga pada umumnya pada Desa-Desa Adat lainnya di Kabupaten Tabanan, Pelinggih Pangerurah terdapat di Pura Puseh. Namun di Desa Adat Tunjuk, Pelinggih Pangerurah tidak dijumpai di Pura Puseh, akan tetapi merupakan Pura (Kayangan) yang berdiri sendiri. Sama halnya dengan Kayangan-kayangan yang ada di Desa Tunjuk, Kayangan Pangerurah disungsung oleh warga Desa Adat Tunjuk, dengan jumlah pengempon sebanyak 77 KK. Akan tetapi ada suatu keunikan, khususnya di Kayangan Pangerurah penyungsungnya tidak terbatas hanya pada warga Desa Adat Tunjuk saja, akan tetapi juga dari warga dari etnis Cina yang beragama Hindu dan penyungsung dari Desa/Kabupaten lain yaitu dari Denpasar dan Buleleng.


RENCANA PEMBANGUNAN YANG AKAN DILAKSANAKAN,

Mengenai rencana pembangunan yang akan dilaksanakan, seperti yang telah diuraikan secara mendetail dalam Proposal Pembangunan Kayangan Pangerurah Desa Adat Tunjuk, perlu kiranya ditambahkan bahwa pelaksanaan pembangunan yang diperkirakan menelan biaya ± Rp. 294.800.000.- (dua ratus sembilan puluh empat juta delapan ratus ribu rupiah), biaya ini sepenuhnya menjadi tugas dan tanggungjawab pengemong yang berjumlah 77 KK.

OM SANTHI SANTHI SANTHI OM. .

Panitia Pembangunan Kahyangan Pengerurah
Desa Adat Tunjuk - Tabanan

IDA BAGUS PUTU DIKA -Ketua
TOS PARTHA - Sekretaris

Rekening no 142-0120181
BCA Cabang Tabanan
atas nama : Tos Partha / Nyoman Rugrug

 

Sejarah pendirian Kembali ke atas

Tidak seorangpun dari warga Desa Adat Tunjuk dapat menjelaskan secara rinci kapan dan oleh siapa Kayangan Pangerurah ini didirikan. Hal ini disebabkan karena warga Desa sudah mewarisi Kayangan ini dari para leluhurnya, disamping tidak adanya bukti-bukti tertulis baik berupa prasasti maupun purana berkenaan dengan keberadaan Kayangan Pangerurah tersebut. Dari beberapa pengemong Kayangan yang pernah ikut terlibat dalam kejadian pembangunan Kayangan ini, bahwa Kayangan ini dibuatkan penyengker dan perbaikan pada tahun 1949, pembangunan Padmasana pada tahun 1968 dan pembangunan Gedong Konci pada tahun 1979. Pembangunan Padmasana di Kayangan Pangerurah dilaksanakan berdasarkan adanya pemuwus/pewisik melalui Pemangku pada saat piodalan tahun 1967. Adapun isi dari pemuwus/pewisik tersebut menyatakan bahwa para pejuang kemerdekaan pada tahun 1945 yang berasal dari daerah Tabanan dan bermaskas di Desa Tunjuk, pernah memohon kepada Ida Betara di Kayangan Pangerurah untuk mendapatkan keselamatan. Permohonan ini disertai dengan sesangi/janji, yang pada intinya menyebutkan "bahwa apabila permohonannya terpenuhi dan kelak Indonesia merdeka, mereka sanggup mendirikan pelinggih berupa Padmasana". Ternyata permohonan para pejuang tersebut terkabulkan. Oleh karena sebagian besar para pejuang kemerdekaan gugur dalam Puputan Margarana, sehingga sesangi/janji para pejuang seolah-olah terabaikan (tidak ada yang menindak lanjuti). Dari beberapa pejuang yang masih hidup membenarkan isi pemuwus/pewisik tersebut bahwasanya sesangi/janji para pejuang kemerdekaan pada waktu itu memang benar adanya. Atas dasar kesadaran/bhakti pengemong Kayangan terhadap Ida Betara dan adanya rasa kekhawatiran akan terjadinya aib terhadap warga Desa Adat, maka oleh pengemong dengan persetujuan Desa Adat pada tahun 1967 membangun Padmasana tersebut. Sehingga dari sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan, terbukti bahwa Ida Betara di Kayangan Pangerurah berkenan merestui perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

 

Hubungan Kayangan Pengerurah dengan Pura Luhur Batukaru Kembali ke atas

Antara Kayangan Pangerurah dengan Pura Luhur Batukaru di Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan, khususnya Ida Betara yang berstana (melinggih) di kedua Pura tersebut terdapat hubungan kekeluargaan (pasemetonan) sebagaimana layaknya dalam kehidupan manusia. Dalam hubungan pasemetonan ini sesuai petunjuk secara "niskala" bahwasanya antara Ida Betara di Pura Batukaru dengan beliau di Kayangan Pangerurah adalah hubungan "Raka-Rai", dimana Ida Betara di Pura Batukaru adalah "Raka"nya sedangkan Ida Betara di Kayangan Pangerurah adalah "Rai"nya. Hubungan ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:

  1. Setiap upacara apapun yang dilaksanakan di Kayangan Pengerurah baik upacara piodalaan/mecaru/melaspas baik dalam bentuk upacara besar maupun kecil selalu ada upacara atur piuning serta mendak tirta ke Pura Batukaru. Hal ini telah berlangsung sejak dahulu hingga saat ini.

  2. Pada saat Ida Betara di Batukaru akan melasti ke Pura Tanah Lot, akan ada utusan dari Jero Kabayan di Wongaya Gede untuk menyampaikan rencana tersebut dan memerintahkan Pengemong untuk ngiring Ida Betara di Pangerurah untuk ikut melasti serta mendahului perjalanan melasti (sebagai pemungkah lawang).

    Pada pelaksanaan upacara Melasti tahun 1952 yang diikuti oleh Ida Betara dari Kayangan Tiga masing-masing Desa Adat di Tabanan, terjadi suatu keajaiban sebagai berikut:

    Pada saat Ida Betara di Pura Batukaru beserta pengiringnya telah tiba di tepi pantai, pada saat itu air laut pasang sehingga tidak bisa menyeberang menuju Pura Tanah Lot. Namun ketika Ida Betara di Kayangan Pangerurah tiba di tepi pantai, langsung terjun ke laut dan langsung menyeberang menuju Pura Tanah Lot. Pada saat itu terjadi keajaiban dimana air laut tiba-tiba surut dan seolah-olah terdapat lorong/jalan kecil menuju Pura Tanah Lot. Sedangkan di kiri kanan lorong tersebut air laut tetap tinggi dan yang lebih yang mengherankan lagi ternyata yang bisa menyeberang hanya Ida Betara di Kayangan Pangerurah sebagai pemungkah lawang, Ida Betara di Pura Batukaru dan Ida Betara di Kayangan Tiga Desa Adat Kota Tabanan (sebagai wewengkon Cokorda Tabanan) saja yang bisa mencapai Pura. Sedangkan Ida Betara lainnya tetap berada di tepi pantai.

  3. Pada saat Ida Betara di Pura Batukaru melasti ke Pura Tanah Lot pada tahun 1979 sesampai di Pura Dalem Desa Demung Kecamatan Kediri, Ida Betara di Pura Batukaru tidak mau melanjutkan perjalanan (tan purun memargi) sebelum Ida Betara di Kayangan Pangerurah tiba. Hal ini diketahui berdasarkan pemuwus/pewisik melalui pemangku Pura Batukaru yang menyatakan bahwa Ida Betara di Batukaru harus menunggu "semeton"nya yang melinggih di Kayangan Pangerurah Tunjuk.

  4. Pada saat pelaksanaan upacara nyanyjan yang dilaksanakan pada tanggal 27 September 2000, berkenaan dengan rencana pengemong akan merehab dan memperlebar natar/halaman kayangan diperoleh pemuwus/pewisik melalui pemangku yang menyatakan bahwa sebelum dilakukan kegiatan pembangunan agar matur piuning dan nunas tirta baik untuk nyukat karang/nyukat tempat pelinggih/mecaru maupun melaspas ke Pura Batukaru. Pada saat turunnya pawisik tersebut juga dijelaskan bahwa Ida Betara yang melinggih di Kayangan Pangerurah "masemetonan" dengan Ida Betara di Pura Batukaru. Karena itulah setiap ada upacara di Kayangan Pangerurah harus nunas tirta ke Pura Batukaru. Dalam pemuwus/pewisik tersebut disebutkan pula agar bahan yang dipergunakan untuk bangunan harus sama dengan yang ada di Pura Batukaru (dari batu). Hal ini tidak pernah dijumpai di Kayangan Tiga yang ada Desa Adat Tunjuk.


Hal-hal yang berkaitan dengan bangunan di Kayangan Pengerurah Kembali ke atas
Hal-hal lain yang dijumpai baik yang berkaitan dengan bangunan fisik maupun non fisik di Kayangan Pangerurah adalah sebagai berikut :
  1. Apabila diteliti lebih jauh letak Kayangan Pangerurah ini berada tepat ditengah-tengah Kabupaten Tabanan.

  2. Di Kayangan Pangerurah terdapat 2 (dua) bangunan Pelinggih pokok yaitu Gedong Konci/Pejenengan Agung dan Bebaturan (pelinggih Ratu Nyoman) sedangkan bangunan tambahan berupa Padmasana, yang keberadaannya sebagaimana telah diuraikan didepan.

  3. Pada Gedong Konci terdapat atau disimpan Pratima dan Batu Mekocok. Khusus mengenai Batu Mekocok ini sampai dengan saat ini belum diketahui secara pasti fungsi, khasiatnya dan asal muasalnya, namun benda ini diyakini mempunyai nilai magis yang tinggi dan keberadaan benda ini sejak berdirinya Kayangan Pangerurah.

  4. Apabila ada warga akan bepergian jauh atau bepergian dalam waktu yang cukup lama, baik warga Desa Adat Tunjuk maupun dari Desa lainnya selalu memohon wara nugraha dan matur piuning ke Kayangan Pangerurah. Hal ini tidak mereka lakukan di Pura lainnya.

  5. Sekaa-sekaa kesenian (pesantian, angklung, arja, wayang wong, gong kebyar maupun kesenian-kesenian lainnya) pada awal mereka belajar selalu matur piuning dan mohon wara nugraha di Kayangan Pangerurah. Apabila mereka sudah bisa, maka mereka memohon "pemasupatian" di Kayangan Pangerurah. Upacara ini pernah dilakukan oleh Sekaa Gong Taruna Mekar Desa Tunjuk pada saat akan mengikuti Festival Gong Kebyar mewakili Kabupaten Tabanan dalam Pesta Seni tahun 1990. Pada saat itu Sekaa Gong Taruna Mekar Desa Tunjuk memperoleh juara I Tingkat Propinsi Bali. Hal ini tidak mereka lakukan di Pura lainnya.

  6. Pada jaman kerajaan Bali dahulu, apabila Raja Tabanan mengadakan peparuman/rapat dengan warga Desa Adat Tunjuk selalu mengambil tempat di Kayangan Pangerurah dengan terlebih dahulu mengadakan persembahyangan yang dipimpin langsung oleh Raja Tabanan.

  7. Dalam kaitan upacara Nangluk Merana, dalam perjalanan Raja Tabanan ke Subak-Subak yang ada dalam wewengkon/wilayah Kerajaan Tabanan, selalu mesandekan/istirahat di Kayangan Pangerurah.

  8. Pada tiap-tiap ujian akhir dari dahulu hingga kini murid-murid SD dan SMP di Tunjuk dengan diantar oleh Gurunya selalu mengadakan persembahyangan bersama memohon doa restu agar selamat dalam menempuh ujian. Hal ini juga dilakukan oleh warga Desa Adat Tunjuk yang akan menempuh ujian di Sekolah-Sekolah lainnya.

  9. Dari hal-hal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwasanya Ida Betara yang berstana di Kayangan Pangerurah memiliki kharisma/daya magis yang tinggi dan sangat dihormati serta dijunjung tinggi oleh seluruh warga Desa Adat Tunjuk.