|
>> Denah pura...
MANGU dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) berarti termangu, termenung, ragu, bimbang (kamus Jawa Kuno-Indonesia).
Namun ada kisah menarik yang perlu kita catat untuk menelusuri apakah fungsi dari Pura Pucak Mangu ini. Ternyata Pura Pucak Mangu sebagai Kahyangan Jagat mempunyai catatan tersendiri, khususnya dalam kaitan dengan dinasti kerajaan Mengwi. Karena cikal bakal kerajaan Mengwi yakni I Gusti Agung Putu mendapatkan anugrah kekuasaan dari Ida Bhatara Pucak Mangu.
Dalam babad Mengwi (translate dalam bhs Indonesia) dikatakan: Adapun I Gusti Agung Putu tak habis- habisnya berfikir dalam hati, agar bisa membalas dendam terhadap I Gusti Ngurah Kekeran. Itulah yang dipikirkannya sehar-hari, sehingga muncul keinginan beliau, bagaikan diperintahkan olehNYA, bermaksud untuk pergi dari desa Marga pada waktu malam masuk kedalam semak- semak hutan menuju Gunung Mangu.
Cerita dipercepat, tibalah beliau di puncak gunung, segera beliau duduk melakukan pemujaan terhadap Dewanya Gunung, mengheningkan cipta dan menutup seluruh panca indriyanya. Setelah samadhi mencapai puncaknya, turunlah Ida Bhatara yang berkenan memberikan anugrah. I Gusti Agung Putu diminta memandang ke empat penjuru. Wilayah mana yang terlihat olehnya, sebagai anugrah Ida Bhatara, akan menjadi daerah kekuasaan I Gusti Agung Putu. Singkat cerita I Gusti Agung Putu kembali ke Marga dan akhirnya sedikit demi sedikit namun cepat dan pasti beliau mengembangkan kekuasaan dan beliau akhirnya menjadi Raja Mengwi pertama yang dikenal dengan nama: Tjokorda Sakti Blambangan.
Kesimpulan dari cerita ini, Pura Pucak Mangu telah ada sebelum tahun Içaka 1555 (sebelum tahun 1633 M).
Terkait dengan ngiring upacara Ngeligiya di Puri Mengwi, saya beropini bahwa yang diiring adalah Roh Tjokorda Sakti Blambangan (yang sudah biasa/ caluh pulang- pergi ke Brahmaloka). Lingganya tidak dibakar/ digeseng, sedangkan sekah yang ngiring dilebur (padahal bentuk lingga dan sekah sama), agar astral body/ sukma sarira yang ngiring kembali ke Panca Tan Matra. Sedangkan Anta karana sarira/ atman yang ngiring mengikuti/ ngiring perjalanan Sang Dewata menuju alam Brahmaloka.
Demikian yang bisa saya sampaikan.
AUM çanti, çanti, çanti, AUM.-
IB Singarsa
(Dikutip dari message beliau ke HDNet)
|