|
Sembah hamba ke hadapan Batara junjungan, daulat paduka leluhur
yang telah menjadi batara, Engkau yang menganugerahi kehidupan
(makanan) dan kebahagiaan, keberhasilan dalam segala kehendak,
senantiasa bersemayam dalam perasaan dan pikiran, dipuja agar
merestui, para bijak di lingkungan keluarga memohon untuk menyebarkan
cerita ( sejarah ) ini, yang berkenaan dengan kewajiban seorang
raja, menerangi dan menjadi contoh di dunia, akan diuraikan tentang
silsilah keturunan oleh beliau junjungan utama yang telah sempurna.
Pada awalnya dimulai. Selamat dan panjang usia, terhindar dari
kutuk celaan fitnah bagaikan terkena racun, semoga terus dijunjung
di dunia. Ya Tuhan semoga menemukan keberhasilan.
Selamat pada tahun Saka 530 yang telah lewat, bulan Cetra (sekitar
Maret), hari ke-12 terang bulan, hari dalam sepekan Julung Pujut,
pada saat itu titah paduka batara Maharaja Manu, tiba di pulau
Jawa di Medangkamulan, di sana dipuja sebagai dewa, dan menjadi
pelindung pertama di negeri itu.
Gurunam sobitah siyotah.
Sebabnya beliau turun, karena atas titah ayah
beliau , Batara Guru, menitahkan untuk menegakkan dharma ( kebenaran
) di Medangkemulan, kemudian selesainya melaksanakan dharma beliau,
beliau juga melakukan semadi, menghadap/ memuja Surya pada waktu
mulai terbit. Hasil dari tapanya, beliau bagaikan dewa dalam alam
nyata, oleh karena itu tidak ada yang menyamai di dunia, demikian
selesai.
Taman loke turanjitah, stroteyam satya dharmmanam,
Sakyam wakbhitah krtti loke, bhuta bhawanam wancanam.
Karenanya tenteramlah negeri itu selama beliau dijunjung bagi
beliau tidak ada yang melebihi selain darma, itulah sebabnya berhasil
segala yang diucapkannya, Hyang Maharaja Manu juga memahami tentang
kebatinan.
Jawanam mandawe swijah, dasantih bhujanggam tayah,
tasiyamnco ywanam prajah, haiwam santanam Wijnanah.
Entah berapa lama hyang Batara Maharaja Manu, bertahta menjadi
pemimpin di sana, bagaikan dewa dalam kenyataan, beliau tetap
mempertahankan kemuliaan, sampai ke seluruh negeri, disegani oleh
rakyat maupun bangsawan, orang pertama dalam keturunan Manu, di
kerajaan, Medangkamulan.
Awiji ekam sastito.
Awalnya beliau Maharaja Manu, menurunkan keturunan utama seorang
laki-laki, bergelar Sri Jaya Langit. Adapun Sri Jaya langit, menurunkan
Sri Wrttikandayun. Adapun Sri Wrttikandayun, menurunkan Sri Kameswara
Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, menurunkan
Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa, beliau sebagai
pemimpin utama, perencana unggul, raja di antara para yogi dan
penguasa tertinggi, menjabarkan tujuh formasi ilmu Sanskrit dalam
tata bahasa, oleh dilampaui orang. Hasil karya Bagawan Byasa,
digubah dalam palawakya, memahami seluk beluk cerita prosa dari
Astadasa Parwa. Beliau bagaikan Raja yang unggul di dunia, pikiran
beliau mengutamakan kebenaran, tidak diperdaya sebagai raja, menjaga
daerah kekuasaan, mengutamakan kejujuran dan kesetiaan, sungguh
beliau menjadi pelindung dunia.
Prawaktayan sri gotrabih. Beliau raja penguasa pertama, pada
waktu beliau memerintah negeri itu makmur, para pernuka tidak
ada yang berani menentang beliau. Demikian keistimewaan beliau
Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa.
Beberapa lama beliau dijunjung menjadi penguasa negeri, berhasil
mempunyai keturunan, beliau berputra laki-laki yang utama, bernama
Sri Kameswara, seperti nama buyut beliau. Adapun Sri Kameswara,
memiliki keturunan tiga laki-laki, dan seorang perempuan, Semuanya
ada empat, rinciannya adalah, yang tertua bernama Sri Krtta Dharma,
beliau yang wafat di Jirah. Adapun adik beliau, Sri Tunggul Ametung,
beliau wafat di Tumapel, saudara yang perempuan, bernama Dewi
Ghori Puspatha, disunting oleh Mpu Widha, saudara dari Medhawati,
telah menyatu ke alam baka, berkedudukan di kuburan. Adapun yang
keempat, adalah Sri Airlangga, yang diangkat dari Sri Udayana
Warmadewa, raja Bali, beserta Sri Guna Priya Dharmapatni, keturunan
dari Mpu Sendok.
Adapun Sri Airlangga menjadi raja penguasa berkedudukan di negara
Daha. Memiliki keturunan dua laki-laki utama, yang ketiga putri
di luar istana. Putra tertua itu bernama Sri Jayabhaya, dan Sri
Jayashaba, lahir dari ibu permaisuri. Semuanya keturunan Wisnuwangsa
Kediri. Adapun yang di luar istana (puspa capa), bergelar Sri
Arya Buru, sama-sama keturunan orang dusun, cikal bakal lurah
Tutwan, Si Gunaraksa yang datang ke Bali.
Silsilah raja Sri Jayabhaya yang diuraikan terlebih dahulu, raja
Sri Jayabhaya, berputra tiga orang laki-laki, yang tertua bernama
raja Sri Dandang Gendis, Sri Siwa Wandhira, Sri Jaya Kusuma, demikian
keturunan beliau Sri Jayabhaya. Adapun raja Sri Dandang Gendis,
memiliki keturunan Sri Jaya Katong, dia wafat dalam peperangan,
Sri Jaya Katong, berputra Sri Jaya Katha, adapun Sri Siwa Wandhira
berputra Sri Jaya Waringin, Sri Jaya Waringin berputra Sri Kuta
Wandhira berputra bernama Arya Kutawaringin, dia pergi ke Bali,
diutus oleh beliau Patih Mada, berkembang keturunannya menjadi
keluarga Kubon Tubuh, Kuta Waringin, sampai di sana diceritakan.
Adapun Sri Jaya Kusuma, memiliki keturunan Sri Wira Kusuma, tidak
mengikuti aturan kata krama keluarga, melahirkan keturunan berada
di Pulau Jawa, tidak diceritakan lagi kelanjutannya.
Kembali Sri Jayasabha yang diceritakan, memiliki keturunan seorang
laki-laki, bernama Sirarya Kediri, memiliki keturunan bernama
Arya Kapakisan, beliau dikirim oleh keturunan dua orang semua
laki-laki, beliau Pangeran Nyuhaya, dan Pangeran Asak, sama-sama
mengembangkan keturunan di Bali, cerita disudahi.
Kembali diceritakan yang terdahulu, Jaya Waringin dan Jaya Katha,
keturunan beliau Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong beliau berdua
yang gugur dalam pertempuran, beliau berdua yaitu Jaya Waringin
dan Jaya Katha, yang menyerah ke Tumapel, waktu ayah beliau hancur
dalam peperangan negara Daha menjadi kacau, akhirnya berlanjut
sampai cucu terkena kehancuran, kutuk beliau pendeta Çiwa
maupun golongan Budha.
Apa yang menyebabkan terjadinya perang itu? Menyebabkan
Keraton menjadi hancur ?
Dengarkan tambahan cerita ini, pada tahun Çaka
yang lalu 1144 ( 1222 M ), bulan Palguna (sekitar Pebruari), hari
ketiga belas setelah bulan Purnama, hari sepekan Watu Gunung,
pada saat itu perintah beliau raja Ken Angrok, beliau yang bertahta
di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, atas desakan beliau para
pendeta Çiwa maupun golongan Budha. Bahwasanya raja Sri
Dangdang Gendis, durhaka pada para pendeta, menghina kewajiban
sang Brahmana, ibaratnya seperti maharaja Nahusa, yang berkeinginan
menguasai Surga. Demikian perbuatan raja Sri Dangdang Gendis,
menyebabkan semua pendeta menjadi bingung mengungsi ke Tumapel,
sekarang kerajaan Daha, ibaratnya seperti segunung rumput kering,
hancur lebur terbakar oleh api, siap dibakar?, itulah kemarahan
sang pertapa, berkobar dalam pikirannya, ditiup angin tak henti-hentinya
Raja Sri Ken Angrok menghembus, semakin menyala tak ada tandingnya.
Pada akhirnya menyerah Sri Aji Dangdang Gendis, sadar akan ajalnya
tiba, karena raja Sri Ken Angrok sungguh seorang keturunan Brahmana
dari Waisnawa, beliau juga dijuluki Hyang Guru, nah itu sebabnya
Sri Raja Dangdang Gendis, memusatkan pikiran, menggelar rahasia
batin, segera moksa tanpa jasad turut pula kandang kuda beserta
pembawa puan, payung, terlihat samar bayangan beliau, melambai
di angkasa, menuju Wisnuloka. Demikian jelas Sri raja telah menyatu
di alam sana.
Ada lagi yang diceritakan yaitu para prajurit dan menteri lebih-lebih
para keluarga utama ( dekat ), rakyat yang masih hidup, semua
cerai-berai, mencari tempat berlindung, mencari tempat persembunyian,
agar selamat, sebab pemimpin perang adalah Siwa Wandhira, beserta
Misawalungan, Semuanya telah gugur, dengan penuh keberanian.
Masih ada dua orang keluarga keturunan utama, Jaya Katha, dan
Jaya Waringin yang terkenal, keturunan Jaya Katong, beserta Siwa
Wandhira, yang gugur dalam medan perang.
Mereka berdua dendam, atas tewas ayahnya dalam pertempuran, maju
menyerang seperti harimau galak, lalu ditangkap bersama-sama oleh
empat orang gagah berani yang masing-masing bernama , Arya Wang
Bang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, di sana Jaya
Katha dan Jaya Waringin, keduanya ditangkap. Tidak mampu melawan
ikut pula istri Jaya Katha dibawa berlari beliau sedang hamil,
sedang mengidam. Adapun Jaya Waringin, masih perjaka, belum mempunyai
istri. Keempat menteri tersebut semua belas kasihan terhadap beliau
Jaya Katha, dan pula terhadap Siwa Wandhira, itulah sebabnya lepas
tidak terkena senjata.
Adapun setibanya beliau di Tumapel, disayang oleh yang mendirikan
memerintah Tumapel, diasuh oleh orang Japara, masih merupakan
keturunan istri Mpu Sendok, dan Kebo ljo, di sana dipelihara,
tidak mendapat kekuasaan. Beberapa lama mereka berada di Tumapel,
setelah tiba masanya, akhirnya Jaya Katha berputra tiga orang
laki-laki, yang sulung bernama Arya Wayahan Dalem Manyeneng, ketika
ibunya dibawa lari janin itu berada dengan selamat di rahim ibunya,
itulah sebabnya diberi nama Dalem Manyeneng.
Adapun adiknya bernama Arya Katanggaran, itu yang menurunkan
Kebo Anabrang, orang tua dari Arya Kanuruhan, yang dikirim ke
Bali, mengembangkan keturunan, yaitu Arya Brangsinga, Tangkas,
Pagatepan, sampai di sana diceritakan.
Putra yang bungsu bernama Arya Nuddhata, seorang Arya yang menetap
berdiam di Tumapel mengembangkan keturunan di kerajaan di Jawa,
tidak diceritakan lebih lanjut.
Adapun beliau Arya Wayahan Dalem Manyeneng, berputra dua orang
laki-laki, yang sulung bernama Arya Gajah Para, adik beliau bernama
Arya Getas, Mereka berdua itu diutus oleh Gajah Mada ke Bali,
demikian uraiannya pada zaman dahulu.
Ya Tuhan yang bersemayam dalam kalbu dan pikiran, yang diwujudkan
dengan Ongkara dalam kesucian Batara junjungan hamba, para leluhur
yang telah suci, hamba menghaturkan sembah suci agar berhasil,
oleh karena semua para anggota keluarga, keturunan, karena beliau
yang pertama mengembangkan keluarga hamba sendiri, tiada lain
beliau itu yang menetap di Tumapel. Beliau itu adalah Arya Wayahan
Dalem Manyeneng, gelar beliau yang terkenal. Beliau yang pertama
menurunkan keluarga hamba, maafkan agar tidak kena kutukan, para
keluarga hamba mohon ijin untuk menguraikan cerita ini, semoga
selamat dan panjang umur, menemui kesempurnaan, sampai anggota
keluarga dan keturunan, berhasil dalam segala tujuan, tidak kekurangan
pangan, kekayaan, semoga tetap disegani di bumi. Ya Tuhan semoga
sukses, berhasil selalu.
Permulaan cerita disusun dalam silsilah, berkat jasa beliau seorang
brahmana pendeta sakti, beliau bergelar Wayahan Tianyar, yang
berasrama di Griya Punia, atas dorongan Kyayi I Gusti Ngurah Tianyar,
pemimpin di utara gunung, keturunan beliau Jaya Katong dari Kediri,
itulah sebabnya sang pendeta sakti, menulis tentang silsilah ,
telah dimuat dalam tulisan sesuai dengan bahasa dalam babad Jawa.
Adapula diceritakan, bernama Kriyan Patih Gajah Mada, memanggil
Arya Damar, atas titah dari maha raja Pulau Jawa, melaksanakan
empat daya upaya, menyerang kerajaan Bali, setelah siap perbekalan
dan kendaraan, segeralah beliau berangkat ikut pula para Arya
semua, para perwira dan menteri berkelompok-kelompok menaiki perahu,
disertai pula prajurit beliau, tepi laut Bali dikelilingi oleh
musuh, para Arya itu dibagi-bagi oleh Kriyan Patih Mada, utara,
timur, barat selatan semuanya penuh, penuh sesak di pantai laut,
yang masing-masing menempati posisinya, ditambatkan perahunya.
Adapun beliau Arya Gajah Para, beserta saudara beliau Arya Getas,
disertai oleh Arya Kutawaringin yang cekatan, diikuti oleh Jahaweddhya,
para gusti dari Majapahit, seperti tiga patih bersaudara, yang
bernama Tan Kawur, Tan Mundur, dan Tan Kober. Beliau tiga bersaudara
menambatkan perahu layarnya di pelabuhan Tejakula, yang menyerang
dari barat Toya Anyar.
Desa-desa menjadi kacau balau, semuanya yang ada di kerajaan
Bali, sangat ramai pergulatan perang itu, memarang diparang, kacau
balau, banyak rakyat yang tewas, dan menderita, karena keperkasaannya
serangan dan Pulau Jawa. Dengan sekejap kalah pasukan Maharaja
Sri Bhedamuka (Bedahulu), amat panjang tidak diceritakan dalam
buku ini.
Sementara setelah gugurnya maharaja Bhedamuka, para Arya itu
semua kembali, menuju Majapahit, keadaan Pulau Bali menjadi sunyi
senyap, karena belum ada yang memimpin Bali, demikian. Setelah
sekian lama datanglah Sri Kresna Kepakisan, dinobatkan menjadi
raja di Pulau Bali. Diikuti oleh semua Arya, Arya Kepakisan, Arya
Wang Bang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Kanuruhan,
lagi beliau Arya Wang Bang, Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur,
yang terakhir Arya Kutawaringin semua mengiringi sebagai para
perwira menteri, Beliau Arya Kutawaringin, menjadi kepala penasehat
pasukan tinggi tersebut.
Sesampainya Sri Maharaja Kapakisan, dinobatkan menjadi raja Pulau
Bali, orang- orang dusun ada yang tidak mau menghormati ( tunduk
), yang di sebelah utara gunung Agung, oleh karena tidak ada pemimpin
yang disegani yang datang di sana. Demikian cerita berakhir.
Kemudian kembali diceritakan, beliau Arya Gajahpara, bersama
saudara beliau Arya Getas didesak oleh raja, sebagai mahapatih
raja yang ada di Bali. Beliau menurut ( menyerah ), karena ingat
dengan kewajiban sebagai seorang anak, tidak pantas melawan perintah
orang tua, demikian motto kepemimpinan beliau, dengan tetap pula
melaksanakan keperwiraan utama dan keadilan, kedua Arya tersebut
diberikan istri, juga merupakan putra Arya. Tetapi di sana para
Arya itu segera diajar tentang kewajiban dan tingkah laku seorang
kesatria, oleh ayah beliau, untuk tetap melaksanakan cita-cita
kewajiban seorang pahlawan (pemberani).
Setelah demikian, kedua Arya itu menyembah dan mohon pamit, berdiri
dan segera berangkat. Sekejap telah sampai di pantai laut, segera
beliau naik ke perahu, perahu berlayar hilir mudik, setelah melewati
pertengahan laut, selanjutnya, berlabuhlah beliau di daerah Pulaki,
barat daya Pulau Bali, beliau menumpang di rumah I Gusti Bendesa
Pulaki, yang merupakan keluarga keturunan Bendesa Mas. Sangat
senang hati I Gusti Bendesa, tulus hatinya dan sangat ramahtamah
sambutannya, hormat terhadap kedua Arya itu, seperti berbunga-bunga
hati sang tuan rumah, lengkap dengan jamuan penyambutan I Gusti
Bendesa Pulaki. Di sana beliau menginap dua malam.
Pagi-pagi pergilah kedua Arya tersebut, diantar oleh I Gusti
Bendesa, tujuannya untuk menghadap Sri Maharaja, yang beristana
di Samprangan. Tidak habis jika diceritakan perjalanan kedua Arya
tersebut, diantar oleh beliau I Gusti Bendesa. Segera tiba di
penghadapan, beliau langsung mendekat dan menghadap pada baginda
raja. Tak lama antaranya kedua Arya tersebut dipandang oleh sang
raja, dengan sopan dan tulus sembah kedua Arya tersebut, demikian
pula I Gusti Bendesa, menimbulkan kekaguman setiap yang melihat,
orang yang berada di tempat penghadapan, oleh tingkah laku yang
baik kedua Arya itu.
Ada petunjuk dari sang raja, terhadap kedua Arya, dinobatkan
menjadi patih oleh beliau raja penguasa, bertempat di sana di
sebelah utara Tohlangkir, bermukim di Sukangeneb penyerangan beliau
Mada untuk membunuh raja Bedha Murdhi ( Bedahulu ), kalahnya Pulau
Bali oleh Majapahit. Menjadi patuhlah Arya itu, dengan segera
ditutuplah penghadapan raja. Setelah itu mohon pamitlah beliau
pada Sri Maharaja, dan permohonannya dikabulkan, kedua Arya itu
berjalan menuju ke utara, diiringkan oleh rakyat sebanyak lima
puluh orang, menuju Sukangeneb Toya Anyar. Setibanya di sana,
segera beliau membangun rumah, tenanglah penduduk sebelah utara
gunung Agung itu, batas sebelah timurnya adalah Basang Alas, sebelah
baratnya sampai di Tejakula, sebelah utaranya sampai di desa Got,
demikian batas wilayah kerja beliau, wilayah pemerintahan Arya
Gajah Para, berdua beserta saudara beliau.
Beberapa lama kemudian beliau Arya Gajahpara berdua bersama saudara
beliau, hidup di Sukangeneb Toya Anyar, beliau berdua sama-sama
memiliki putra. Adapun putra beliau Gajah Para tiga orang laki-laki
dan perempuan, laki-laki yang sulung I Gusti Ngurah Toya Anyar,
adiknya ( bernama ) I Gusti Ngurah Sukangeneb, yang perempuan
Ni Gusti Luh Raras, diambil dijadikan istri oleh beliau Sri Raja
Wawu Rawuh, untuk sementara tidak diceritakan.
Beliau Arya Getas yang diceritakan sekarang, berputra dua orang
laki-laki, yang tertua bernama I Gusti Ngurah Getas, adiknya diberi
nama I Gusti Kekeran Getas. Adapun beliau Arya Getas, setelah
berputra dua orang diadu oleh Sri Maharaja, disuruh menyerang
daerah Selaparang, karena beliau menguasai empat daya upaya yang
licin, diikuti oleh seribu enam ratus orang bawahannya, setelah
semua lengkap dengan perbekalan dan kendaraan, menjadi penuhlah
desa-desa pesisir di sepanjang pantai, beliau bersama semua rakyatnya
hilir mudik menaiki perahu.
Setelah itu berhasillah beliau berlabuh di tepi pantai Selaparang,
turun dari perahu, berjalan beliau Arya Getas. Rakyat Selaparang
menjadi terdiam, oleh karena beliau ( Arya Getas ) berhasil memasang
empat daya upaya yang licin, beliau langsung menerobos memasuki
semua desa, orang-orang yang berada di Praya semua diam, semua
memberi hormat kepada Arya Getas, itu sebabnya ( beliau ) tinggal
di Praya sampai sekarang dan mengembangkan keturunan.
Diceritakan kedua putra beliau yang tinggal di Sukangeneb Toya
Anyar, sama-sama mengembangkan keturunan, telah tercatat. Kembali
diceritakan, tersebut I Gusti Ngurah Sukangeneb, pindah ke arah
barat, diikuti oleh rakyat dengan tiba-tiba, terlunta-lunta perjalanan
beliau, sampai tiba di desa Pegametan, bergegas penduduk di sana,
disambut oleh I Gusti Bendesa Pegametan, keturunan dari Bendesa
Mas, senang hati I Gusti Bendesa sama-sama memohon maaf dengan
tulus dan sopan, tidak beberapa lama masuklah di sana I Gusti
Ngurah Sukangeneb, bergandeng tangan dengan I Gusti Bendesa, yang
menjadi penguasa di Pegametan, masuk ke dalam Puri, duduk di beranda
rumah, beliau sama-sama senang saling bertukar pikiran dan berunding,
tidak diceritakan jamuan beliau I Gusti Bendesa. Karena saling
mengasihi dari dulu.
Waktu telah berlalu, sekarang I Gusti Ngurah Sukangeneb, beliau
berdiam di Pegametan, menyebabkan I Gusti Bendesa menjadi akrab,
dengan I Gusti Sukangeneb. Oleh karena itu dijadikan menantu laki
oleh I Gusti Bendesa. I Gusti Ngurah Sukangeneb. Permintaan I
Gusti Bendesa agar I Gusti Ngurah Sukangeneb dikawinkan dengan
I Gusti
..Kekeran,
I Gusti Getas, dinikahkan pada hari, Senin Umanis, Wuku Tolu,
tanggal empat belas hari terang bulan, sasih kelima ( sekitar
Nopember ) pada tahun Saka 1560 ( 1638 M). Tidak diceritakan perkawinan
beliau, pada akhirnya beliau mempunyai dua orang putra, laki-laki,
yang sulung I Gusti Gede Pulaki, adiknya I Gusti Ngurah Pegametan.
Cerita selesai sampai di sini.
Selanjutnya kembali diceritakan, tersebutlah I Gusti Ngurah Toya
Anyar, ada saudara beliau, laki-laki dua orang dan perempuan seorang.
Adapun yang tertua I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan
menggantikan ayah beliau Arya Gajah Para, yang ketiga mengambil
istri I Gusti Ayu Diah Wwesukia, adiknya I Gusti Ngurah Kaler,
kawin dengan I Gusti Diah Lor. Adiknya yang bernama I Gusti Luh
Tianyar, dijadikan istri oleh Pendeta Sakti Manuaba. Adapun I
Gusti Ngurah Getas, dan I Gusti Ngurah Kekeran Getas, beliau tinggal
di Sukangeneb, Toya Anyar, beliau sama-sama mengembangkan keturunan.
Kemudian kembali dikisahkan, diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar,
beliau yang dinobatkan menjadi tetua di Toya Anyar, generasi ketiga,
putra beliau yang seibu yaitu I Gusti Ayu Diah Wwesukia. Putra
tertua ( bernama ) I Gusti Gede Tianyar, yang selanjutnya berdiam
dan memiliki keturunan di Kebon Culik, putra kedua ( juga ) laki-laki
bernama I Gusti Made Tianyar, yang kemudian tinggal dan berkembang
di Sukangeneb Toya Anyar. Putra yang bungsu I Gusti Nyoman Tianyar,
beliau ( yang ) lahir di Desa Pamuhugan, tidak berbeda seperti
leluhur beliau dahulu, janin itu selamat dalam rahim ibunya yang
sangat setia kepada suaminya, berkat anugerah beliau sang raja
penguasa di Gelgel, ketiganya itu diijinkan kembali ke Toya Anyar.
Sekarang kembali diceritakan I Gusti Ngurah Kaler, mempunyai
empat orang putra dari seorang ibu lahir dari I Gusti Ayu Diah
Lor, putra tertua bernama I Gusti Gede Kaler, pindah menuju desa
Antiga, berdiam di sana dan mengembangkan keturunan, putra kedua
I Gusti Made Kekeran, pindah menuju Desa Kubu, berkembang di sana.
Putra ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, pindah ke Desa Sukadana
Tigaron, menetap dan mengembangkan keturunan di sana. Adapun yang
bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, beliau
dijuluki Ubuh, karena ayahnya meninggal pada saat masih dalam
kandungan ibunya Sang Diah yang setia terhadap suami, akhirnya
tinggal dan mengembangkan keturunan di Tanggawisia, dihentikan
penuturannya sebentar. Cerita kembali lagi, pada I Gusti Gede
Pulaki, diambil anaknya I Gusti Bendesa Pulaki, dikawinkan menjadi
istri bernama I Gusti Luh Mas. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pegametan,
beliau tinggal di desa Pegametan. Adapun saudara beliau I Gusti
Gede Pulaki, tinggal di desa Pulaki, putra beliau laki-laki, terlanjur
sudah, beliau meninggal. Sedih hatinya I Gusti Gede Pulaki.
Diceritakan sekarang Batara Nirartha, adik dari Mpu Angsoka,
putra dari Hyang Danghyang Asmaranatha, beliau menemukan kemurahan
batin, datang di Bali, menaiki buah labu (waluh kele), dan sampan
yang bocor, mendarat di tepi pantai Purancak, mampir di pondok
I Gusti Gede Pulaki, beserta putra beliau semua. Ada putra Batara
Nirartha, laki perempuan lahir dari golongan Brahmana Keturunan
Daha, yang sulung sangat cantik dan parasnya menawan, tidak ada
yang menyamai di dunia, harum semerbak baunya. Adiknya bernama
Pedanda Kemenuh, lagi pula ada saudara beliau seorang perempuan,
menikah dengan Mpu Astamala beliau dari Aliran Budha
Ada pula anak beliau yang lahir dari putri Brahmana dari Pasuruhan,
empat orang laki-laki, tertua Pedanda Kulwan, Pedanda Lor, Pedanda
Ler. Ada lagi putra dari Pedanda Batara Nirartha, laki perempuan,
ibunya dari golongan Kesatria saudara dari Dalem Keniten Blambangan,
bernama Patni Keniten. Istri Pedanda Rai, pendeta perempuan tidak
bersuami, Pedanda Telaga, Pedanda Keniten.
Kembali lagi pada cerita, Batara Nirartha, berada di pondok I
Gusti Gede Pulaki, disambut dan diterima oleh I Gusti Gede Pulaki,
beliau berucap "Aum-aum hamba sangat bahagia atas kedatangan
sang pendeta, apa tujuan tuan pendeta, katakan yang sebenarnya",
Danghyang Nirartha menjawab, "Aum Ngurah Gede Pulaki, tujuan
saya datang padamu, maksud saya untuk menyembunyikan putraku sekarang,
takut saya jika ia datang di kerajaan menghadap pada raja, karena
harum semerbak bau tubuhnya, juga sangat cantik paras mukanya,
maksud saya sekarang untuk menyatukan kembali ke alam sepi (alam
gaib), I Gusti Gede Pulaki menyetujui dan berkenan mengantar,
seraya memohon ikut ke alam gaib ia bersedih dan berduka karena
terputus keturunannya, tidak ada lagi putranya, diam ( lah ) Batara
Nirartha, memikirkan perasaan hati I Gusti Gede Pulaki. Maka bersabdalah
Batara Nirartha, sabdanya, "Duhai Ngurah Pulaki, apa sebabnya
demikian, menjadi sangat sedih perasaan hatimu, janganlah engkau
demikian". Bersikeras I Gusti Gede Pulaki, memohon restu,
agar ia mengiringkan menuju alam gaib. Dengan demikian dikabulkan
semua perkataan I Gusti Gede Pulaki, bersama putra beliau, beserta
semua prajuritnya mengiringkan putra beliau (Batara Nirartha)
tidaklah nampak lagi di alam nyata oleh semua orang.
Diceritakan sekarang berhubung dipenuhinya permintaan I Gusti
Ngurah Pulaki, senanglah hati beliau, maka menyiapkan prajurit,
kemudian disuruh membuat upacara selamat, di Pura Dalem, lengkap
dengan sanggar cucuk, masing-masing pasukannya disuruh untuk memasang
di pintu masing-masing, pada had Kamis Kliwon, lengkap dengan
sesajennya. Dengan sekuat tenaga Batara Nirartha, melakukan yoga
smertti, terhadap Batara Berawa, beserta penghormatan dan permohonan,
kemudian dianugerahi beliau oleh Batara sarana untuk tidak tampak
di alam ini, oleh semua orang.
Segera setelah itu ada terlihat tabung bambu kuning bergelayutan,
tanpa gantungan, dari dalam sebuah tempat pemujaan di kahyangan
( pura ), tidak lama kemudian keluar baju loreng, dari lubang
tabung bambu kuning tersebut. Segera diambil baju itu oleh semua
orang. Demikian pula I Gusti Ngurah Pulaki, sama-sama disuruh
mengenakan pakaian itu, masing-masing sebuah, di sana orang-orang
itu semua dan I Gusti Ngurah Pulaki, segera berubah wujud, menjadi
harimau, desa tempat tinggal itu, hilang tidak tampak di alam
ini. Adapun putra beliau Batara Nirartha, secara gaib menyatu
di alam tidak tampak, berdiam di Mlanting, di puja oleh orang
yang tidak kelihatan (samar), sampai sekarang.
Cerita kembali lagi, waktu I Gusti Ngurah Pulaki, memohon berubah
wujud menyatu dalam alam tidak tampak mengikuti Batara di Mlanting,
I Gusti Ngurah Pegametan, sedang tidak ada di rumah, beliau pergi
mengunjungi Bendesa Kelab, yang berada di Jembrana. Beberapa hari
berada di sana, kembali pulang dia ke Pulaki, bersama semua pengiringnya,
tidak diceriterakan dalam perjalanan, segera sampai di perbatasan
desa, kaget perasaannya I Gusti Ngurah Pegametan, karena tidak
seperti sedia kala, bingung perasaan I Gusti Ngurah Pegametan
.
"Wahai saudaraku, apa sebabnya tidak tampak olehku penduduk
desa itu, tidak seperti sedia kala tempat tinggal desaku saat
ini ".
Kemudian terdengarlah suara-suara binatang bercampur dengan suara
harimau, mengaum ribut tiada tara. Terkejut perasaan I Gusti Ngurah
Pegametan, tidak kepalang tanggung hati I Gusti Ngurah Pegametan,
ingin mengadu keberaniannya, beliau marah dan mengumpat-umpat,
ujarnya " Hai engkau harimau semua, tampakkanlah wujudmu,
hadapi keberanianku sekarang.
Segera I Gusti Ngurah Pegametan melangkah, tidak kelihatan yang
bersuara gemuruh itu, kemudian beliau berjalan hendak meninjau
Toya Anyar. Berjalan beliau bersama prajurit, sampai tiba di Rajatama,
perjalanannya diikuti oleh wujud yang maya itu, sekilas tampak
berupa harimau, semua pengikut itu perasaannya menjadi takut,
semakin mendekat harimau itu, perilakunya seperti orang menghormat,
menunduk pada I Gusti Ngurah Pegametan, kemudian mengumpat serta
menghunus keris. Jadi hilang rupa bayangan itu, segeralah beliau
melanjutkan perjalanan. Tidak diceritakan desa yang telah dilewati,
orang-orang yang mengiringinya, diceritakan sekarang telah sampai
di desa Wana Wangi, banyak pengiring itu berlarian teringat para
pengiring yang hilang sebanyak lima puluh orang, karena jurangnya
menyulitkan berbahaya dan terjal diliputi oleh gelap, tidak terlihat
keberadaan di dalam hutan.
Tidak terpikir oleh I Gusti Ngurah Pegametan, tidak menghiraukan
lembah terjal perjalanan beliau, segera sampai di Samirenteng.
Menuju ke timur perjalanan beliau, sampailah beliau di hutan sekitar
Sukangeneb Toya Anyar. Beristirahatlah beliau di sana, dihitung
prajuritnya, dulu diiringi oleh dua ratus prajurit, telah hilang
tersesat lima puluh orang, sekarang pengiringnya tinggal seratus
lima puluh orang, itulah sebabnya ( tempat itu ), bernama Desa
Karobelahan sampai sekarang.
Adapun lima puluh orang pengikut yang tersesat, dikumpulkan bertempat
di Bengkala. Adapun beliau I Gusti Ngurah Pegametan, beserta pengikut
menuju keluarganya di Sukangeneb Toya Anyar. Tidak diceritakan
sekarang untuk sementara.
Cerita kembali lagi, sekarang diceritakan beliau Arya Gajah Para,
setelah lama beliau berada di Sukangeneb, Toya Anyar. Karena masa
tuanya, pada saatnya akan dijemput oleh Kala Mrtyu ( Kematian
), sudah tampak tanda-tanda kematiannya. Sudah diyakini oleh beliau,
tidak boleh tidak beliau pasti akan meninggal.
Ada pesan beliau terhadap cucunya, yang bernama I Gusti Ngurah
Kaler, katanya " Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti
saya meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di puncak gunung
Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari), dihias dengan bunga-bunga,
dan diiringi dengan tabuh dan tari-tarian, karena ibuku dulu bidadari".
Demikian pesan beliau Arya Gajah Para terhadap cucunya I Gusti
Ngurah Kaler, cucu beliau mematuhi, tidak berani menolak pesan
kakeknya.
Tidak diceritakan lagi telah tiba saatnya maka wafatlah beliau
Arya Gajah Para. Adapun cucu beliau yang bernama I Gusti Ngurah
Tianyar, tidak mengetahui wasiat tersebut, karena ( pada saat
itu ) beliau tidak berada di rumah, beliau pergi ke Gelgel, menghadap
pada Sri Maharaja, bersama-sama dengan I Gusti Ngurah Pegametan,
sama-sama berada di Gelgel.
Tidak diceritakan lagi, setibanya kembali I Gusti Ngurah Tianyar,
beserta saudaranya, dijumpai orang-orang di pun, semua menyongsong
I Gusti Ngurah Tianyar, memberitahukan tentang wafatnya Arya Gajah
Para. Kaget dan terhenyak hati yang baru tiba, berpikir-pikir
tentang wafatnya, segera datang I Gusti Ngurah Kaler, diberitahukan
ada pesan beliau (Arya Gajah Para), bahwa disuruh untuk membuatkan
panggung jasad beliau di puncak gunung Mangun. Demikian perkataan
beliau I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya. Diam I Gusti Ngurah
Tianyar, berpikir-pikir beliau. Tidak disetujui semua ucapan yang
disampaikan I Gusti Ngurah Kaler, bersikeras pula I Gusti Ngurah
Tianyar, menyuruh semua rakyat, untuk membantu bersama-sama mengerjakan
bade ( tempat usungan mayat ) bertumpang sembilan, pancaksahe,
taman agung cakranti tatrawangen, beserta segala upakara ngaben
seperti lazimnya orang-orang berwibawa bernama anyawa wedhana,
harapan beliau agar segera jasad leluhurnya dikremasi. Karena
hari baik sudah dekat, itu sebabnya masyarakat itu beserta tamu
semua segera membantu bekerja baik laki maupun perempuan, membuat
upakara ngaben (pitra yadnya).
Diceritakan sekarang I Gusti Ngurah Kaler, kembali ingat dengan
wasiat pesan leluhurnya dahulu, tidak berani menolak setia pada
perintah, semakin khawatir I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya
I Gusti Ngurah Tianyar. Diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh
rakyat beliau memulai mengerjakan terhadap upacara pengabenan,
setelah beliau tentukan, saat pelaksanaannya, tidak diceritakan
upacara tersebut. Tersebutlah sekarang I Gusti Ngurah Kaler, semakin
besar dendam hatinya, banyak alasannya, marah, terhadap I Gusti
Ngurah Tianyar. Itu Sebabnya I Gusti Ngurah tidak ingat terhadap
kakaknya, terikat oleh kesetiaan beliau, yakin terhadap kebenaran
ucapan wasiat leluhur beliau, perasaan hatinya yang marah tidak
dapat dikendalikan, segera kakaknya ditantang berperang, marah
I Gusti Ngurah Tianyar, memuncak kemarahannya, sama-sama tidak
mau surut kejantanannya, sebagai seorang kesatria untuk mendapatkan
kemashuran di ujung senjata utama, lagi pula prajurit sama-sama
prajurit, semua setia membela kehendak tuannya, sama-sama beringas,
saling parang memarang, terus menerjang berbenturan. Lagi pula
peperangan beliau I Gusti Ngurah Tianyar, dengan I Gusti Ngurah
Kaler, sama-sama gagah berani, sangat hebat peperangan itu, bagaikan
perang kelompok raksasa, banyak rakyat hancur menjadi korban,
darah bercucuran, dan mayat para prajurit menggunung, itu sebabnya
diberi nama Tukad Luwah sampai sekarang. Adapun peperangan I Gusti
Ngurah Kaler, dengan I Gusti Ngurah Tianyar, sama-sama tidak berkurang
keberaniannya, sama-sama saling menikam. I Gusti Ngurah Kaler
menikam dengan keris Si Tan Pasirik, tembus dada I Gusti Ngurah
Tianyar, membalaslah ia menikam dengan keris " I Baru Pangesan
", sekejap sama-sama meninggal beliau berdua.
Kemudian datang I Gusti Abyan Tubuh, bersama I Gusti Pagatepan,
yang merupakan utusan dari Sri Raja penguasa di suruh untuk melerai
pertikaian mereka berdua. Agar tidak terjadi perkelahian, karena
dia bersaudara, sekarang keduanya ditemukan telah meninggal, terhenyak
I Gusti Abyan Tubuh, demikian pula I Gusti Pagatepan, memikirkan
tentang kematiannya berdua, juga tentang ketidakberhasilan tugasnya,
diutus oleh Sri Raja penguasa. Beliau segera kembali untuk menghadap
Baginda Raja, tidak diceritakan perjalanannya I Gusti Abyan Tubuh,
beserta I Gusti Pagatepan, tibalah mereka di Sweca Negara (Gelgel),
segera mereka menghadap sang raja memberitahukan tentang meninggalnya
mereka berdua karena berkelahi katanya. " Baiklah paduka
Sri Prameswara, tidak membuahkan hasil yang baik tugas yang hamba
emban dari paduka, hamba temukan keduanya telah meninggal. Melongo
gundah hati sang raja, berpikir-pikir beliau, bahwa sungguh merupakan
takdir Yang Maha Esa.
Sekarang diceritakan, putra I Gusti Ngurah Kaler, dan I Gusti
Ngurah Tianyar, keturunannya sama-sama pria. Adapun putra I Gusti
Ngurah Tianyar, yang sulung bernama I Gusti Gede Tianyar, adiknya
bernama I Gusti Made Tianyar, yang bungsu bernama I Gusti Nyoman
Tianyar, lahir di desa Pamuhugan, semua bijaksana, paham dengan
segala ilmu pengetahuan. Diceritakan pula putra I Gusti Ngurah
Kaler, empat orang laki-laki, yang tertua I Gusti Gede Kaler seperti
nama ayahnya. Adiknya bernama I Gusti Made Kekeran, yang muda
bernama I Gusti Nyoman Jambeng Campara, yang bungsu I Gusti Ketut
Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, karena di antara dua orang yang
meninggal ( ayahnya ) sama-sama meninggalkan isterinya yang sedang
hamil, itu sebabnya tidak ada yang melakukan satya, "menceburkan
diri dalam api pembakaran mayat " kemudian setelah sama-sama
kandungan mencapai usianya, pada saatnya lahirlah bayi itu sama-sama
pria, ada di Desa Pamuhugan di Tanggawisia, hentikan ceritanya
sebentar.
Sekarang diceritakan, tentang beliau Batara Sakti
Manuaba, putra dari Batara Ler, ibunya dari I Gusti Dawuh Baleagung,
dengan gelar Batara Buruwan, berhasil menjadi pendeta besar, mendapatkan
tingkat kemuliaan yang tinggi, tidak ada yang menyamai tentang
kependetaan beliau, bertempat di Manuaba. Banyak brahmana ikut
tinggal di sana. Beliau mendengar tentang pertikaian I Gusti Ngurah
Tianyar dan I Gusti Ngurah Kaler, yang sama-sama meninggal, beserta
rakyatnya yang mati tidak terhitung jumlahnya. Menjadi kasihan
beliau Batara Sakti Manuaba. Tujuan beliau datang untuk mengetahui
keadaan sesungguhnya kedua orang yang bertikai tersebut. Tidak
diceritakan perjalanan beliau sang Resi sakti. Tidak beberapa
lama tiba beliau di Sukangeneb, Toya Anyar. Dijumpai saudara I
Gusti Ngurah Kaler, perempuan seorang, berpengetahuan dan rupawan,
bernama I Gusti Ayu Tianyar.
Disarankan oleh beliau sang raja penguasa, agar
beliau melamar (meminang ), dikawinkan dijadikan istri sang Resi
Wisesa. Tidak diceritakan beliau.
Ada anak lahir dari I Gusti Ayu Tianyar, laki-laki tiga orang,
yang sulung bernama Ida Wayahan Tianyar, adiknya bernama Ida Nyoman
Tianyar, yang bungsu bernama Ida Ketut Tianyar, bagaikan dewa
Brahma, Wisnu, Çiwa kecerdasannya.
Cerita kembali lagi, diceritakan istri I Gusti Ngurah Tianyar,
dan istri I Gusti Ngurah Kaler, mereka berdua sangat sedih, hatinya
sangat duka, menyebabkan mereka meninggalkan puri. Bersama putra
beliau yang masih bayi, diikuti oleh dua ratus orang pengikut,
tujuannya untuk datang menghadap Sri raja, yang berada di Sweca
pura (Gelgel). Adapun I Gusti Diah Lor, pergi meninggalkan rumahnya,
bersama putranya, diiringkan oleh pengikut sebanyak dua ratus
orang menuju Desa Tanggawisia, tidak diceritakan perjalanan beliau.
Adapun I Gusti Ayu Wwesukia, datang menghadap ke Gelgel, menghadap
raja mohon belas kasihan dari beliau Dalem, dengan sopan dan hormat,
terhenyak hati Dalem, melihat penderitaan I Gusti Diah Wwesukia,
kemudian bersabdalah beliau. "Wahai engkau Wwesukia, aku
paham dengan kesedihan yang menimpamu. Sekarang tabahkan hati
dalam suka duka, karena sudah menjadi nasib, jangan engkau terlalu
bersedih ingatlah akan kesetiaan sebagai seorang istri, jangan
gundah, menyesali karma, aku berikan engkau tempat tinggal, beserta
rakyat yang banyak yang akan menyertaimu, di sana di Desa Pamuhugan",
demikian sabda Dalem. Senang hati I Gusti Diah Wwesukia, bagaikan
disiram dengan air kehidupan, hatinya sangat senang, terdorong
kesetiaannya sebagai seorang istri, lagi pula sabda beliau Dalem
bagaikan sungai Gangga yang membasuh perasaan ternoda.
Diceritakan sekarang I Gusti Diah Wwesukia, memohon diri pada
Dalem, bersama sama dengan pengikutnya, menuju desa Pamuhugan,
beserta putra beliau yang bernama I Gusti Nyoman Tianyar, tinggal
di Desa Pamuhugan, mereka menyiapkan dan menyuruh untuk segera
bekerja, karena banyaknya pengikut, puri cepat terwujud, sampai
di sana diceritakan.
Diceritakan sekarang I Gusti Diah Lor, setibanya di Tanggawisia,
bersama dengan putra beliau yang bernama I Gusti Ketut Kaler Ubuh,
diikuti oleh rakyat sebanyak dua ratus orang, juga ikut tinggal
di sana, mengembangkan keturunannya, di Desa Tanggawisia wilayah
Buleleng, sampai sekarang. Cerita kembali lagi, diceritakan sekarang
yang berada di Sukangeneb, Toya Anyar, itu sudah dewasa, putra
I Gusti Ngurah berdua, yang gugur dalam peperangan, Semuanya bernama
I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar, adapun I Gusti Gede
Tianyar, menghadap pada Sri Raja penguasa di Sweca negara (Gelgel),
menyampaikan tentang penderitaannya berada di Sukangeneb, Toya
Anyar, lemah bagaikan diiris hatinya. Bersabda sang raja, menyuruh
untuk berpindah tempat, tidak menolak perintah, I Gusti Gede Tianyar,
kemudian mohon pamit pada beliau Dalem, berpindah ke Desa Kebon
Dungus, tinggal beliau di sana, mengembangkan keturunan sampai
sekarang. Adapun I Gusti Made Tianyar, tinggallah beliau di Sukangeneb,
Toya Anyar, mengembangkan keturunan di sana sampai kemudian.
Selanjutnya diceritakan putra I Gusti Ngurah Kaler, I Gusti Gede
Kaler Putra yang sulung, I Gusti Ngurah Tianyar Pohajeng pindah,
berjodoh di desa Blungbang Antiga, Adiknya I Gusti Made Kekeran,
berpindah ke Kubu, yang ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara,
segera pindah ke Desa Sukadana Tigaron, telah diceritakan dahulu
semuanya mengembangkan keturunan, cerita selesai.
Diceritakan kembali, Batara Sakti Manuaba, putranya yang lahir
dari I Gusti Ayu Tianyar yang sulung Ida Wayahan Tianyar, Ida
Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, sekarang sudah selesai didiksa
(ditasbih) menjadi pendeta Siwa, dilantik oleh Batara Sakti Abah,
karena beliau itu adalah saudara lain ibu, beliau mencapai puncak
kemuliaan. Setelah selesai dilantik oleh pendeta mahasakti, (
putra ) sulung bergelar Batara Wayahan Tianyar, adiknya bernama
Batara Nyoman Tianyar, yang bungsu Batara Ketut Tianyar, sama-sama
menemukan puncak kemuliaan, lagi pula mereka bertiga dianugerahi
keterampilan, Batara Wayan Tianyar, beliau diberi pangrupak (
alat tulis pada daun lontar ), Batara Nyoman Tianyar diberi pustaka,
Batara Ketut Tianyar dianugerahi ilmu panah, semua sama-sama dipahami,
pemberian guru pendidiknya, cerita selesai.
Selanjutnya diuraikan, yang bernama Gusti Ngurah Batu Lepang,
di Batwan desa beliau, angkara murka dan dengki melihat asrama
di Manuaba, sangat indah dan makmur, keberadaan Asrama Manuaba,
semua brahmana yang berada di asrama itu, tidak urung diobrakabrik,
oleh Si Ngurah Batu Lepang, oleh karena Batara Sakti Manuaba telah
berpulang ke Surga.
Tetapi Batara Sakti Abah yang ditakuti oleh Si Ngurah Batu Lepang,
sedang tidak berada di asrama, sedang bepergian ke Banjar Ambengan.
Segera Si Ngurah Batu Lepang menyiapkan pasukan, lengkap dengan
senjata, ingin menggerebeg Asrama Manuaba. Bergemuruh sorak para
prajurit. Adapun Pedanda Teges menjadi takut, gemetar, memohon
ampun pada Si Ngurah Batu Lepang, adapun para brahmana semua sama-sama
untuk bertahan, sangat pemberani dan melawan, seperti perang antara
dewa melawan raksasa, mundur berlari pasukan Si Ngurah Batu Lepang,
dihancurkan, lain lagi ada yang mati. Si Ngurah Batu Lepang menjadi
marah, maju dengan rakyat yang berlimpah, dikurung asrama tersebut.
Adapun kaum brahmana, sama-sama tidak ada yang mundur, karena
jumlahnya sedikit bergantian dipukul oleh lawan, tidak lama kalah
asrama itu, hancur semuanya, banyak yang meninggal dan yang lainnya
hancur, yang lainnya ada yang menjauh laki perempuan menuju desa
tidak henti-hentinya menangis.
Adapun Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar
baru tanggal gigi pada waktu itu, perjalanannya menuju ke timur
tiba di Bukit Bangli, di pertapaan Pedanda Bajangan. Tersebar
berita I Gusti Dawuh Baleagung, mendengar kabar, di Gelgel, dicari
tiga bersaudara yang berada di Bangli, karena masih ada hubungan
cucu, tidak habis kalau diceritakan, datanglah beliau di Bukit
Bangli, beliau menghadap Pedanda Bajangan, meminta ketiga cucu
beliau, Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar,
semua senang. Memohon pamit pada Pedanda Sakti Bajangan. Tidak
diceritakan dalam perjalanan, telah tiba di Gelgel, didengar oleh
raja, bahwa Ida Wayan Tianyar datang, bersama semua saudaranya,
diutuslah I Dewa Wayahan Tianyar ke istana, menghadap pada Dalem,
disambut dengan lirikan yang manis, dan ucapan yang simpatik,
ujar beliau. Duhai Ida Wayan Tianyar, masuklah ke teras, mari
duduk mendekat, katakanlah sekarang tentang kesedihanmu.
Kemudian berkatalah Ida Wayan Tianyar, sebabnya asrama/pertapaannya
hancur diserbu karena keangkuhan Si Ngurah Batu Lepang, diserang
hancur beserta penghuninya, banyak meninggal yang ada di pertapaan,
bersabdalah sang raja. Kata beliau, Duhai jika demikian, Si Ngurah
Batu Lepang, " Hai semoga ia tidak berlanjut menemukan kewibawaan,
karena ia perusak pendeta, menemukan kesengsaraan ( karena ) membunuh
brahmana ". Demikian kutukan beliau sang raja , terhadap
si Ngurah Batu Lepang.
Demikian pula Pedanda Sakti Abah melepaskan kutukan seperti senjata
Bajra beracun ke luar dari mulut beliau, demikian umpat kutukannya.
''Sekarang Ida Wayan Tianyar beserta dua saudaranya, janganlah
ragu-ragu dalam hati, saya memberikanmu tempat, ada keluargamu
di Pamuhugan, Kyai Nyoman Tianyar nama beliau, juga aku akan memberikan
pengiring, dua ratus orang beserta keris warisan dari ibumu, bernama
Ki Tan Pasirik, dibawa oleh Kyayi Nyoman Tianyar, ini keris Si
Baru Pangesan saya berikan kepadamu", Ida Wayan Tianyar menurut,
demikian pula Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar. Cerita sampai
di sini dulu.
Tidak diceritakan Pedanda Teges setelah kalah/hancurnya Pertapaan
Manuaba, kemudian dijarah semua isi pertapaan. Adapun Pedanda
Sakti Abah, mendengar tentang kehancuran pertapaan, dirusak oleh
Si Ngurah Batu Lepang, beliau marah dan mengutuk. "Jah tasmat
(semoga hancur) Si Ngurah Batu Lepang dia sangat tidak berperasaan,
congkak dan garang kepada kami brahmana, biadab membunuh brahmana
pendeta, semoga dia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, lagi
pula terbenam dalam Yamaniloka (sengsara) pada bersumpah untuk
Si Teges, jangan engkau saling mengambil (dalam perkawinan), dan
menjalin kekeluargaan dengan keturunan Si Teges". Didukung
oleh semua keluarga beliau.
Diceritakan Pedanda Sakti Abah lama berada di Pertapaan Pedanda
Sakti Bajangan, di sana di Bukit Bangli, Pada suatu ketika, akhirnya
menginjak dewasa ketiga adiknya, sudah wajar diupacarai, diberi
penyucian (padiksan), oleh Pedanda Sakti Abah, sekarang berganti
nama yang sulung Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar,
Pedanda Ketut Tianyar.
Adapun Pedanda Wayan Tianyar, kawin dengan seorang putri dari
Kekeran, Pedanda Nyoman Tianyar beristrikan dari Intaran Badung,
Pedanda Ketut Tianyar dari Blaluwan isterinya. Adapun Pedanda
Sakti Abah, beliau pindah pertapaan ke Banjar Ambengan, selanjutnya
bergelar Pedanda Lering Gunung. Selesai diceriterakan.
Kembali lagi diceritakan Si Ngurah Batu Lepang, setelah beberapa
lamanya, menghancurkan pertapaan itu, lalu terbukti kutuk brahmana
itu mengena, kegusaran, gundah gulana bercampur ( menyebabkan
) kesusahan hati, akhirnya menentang terhadap Sri raja, marahlah
baginda raja, diperintahkan untuk mengangkat senjata, Sri raja
hendak menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, karena kemarahan sang
raja, maka berembug dengan keluarganya semua, perintah Si Ngurah
Batu Lepang, "Terlebih dahulu gempur raja pada malam hari,
agar meninggal" maka didukung oleh keluarganya semua, perintah
Si Batu Lepang pula, menyuruh untuk membunuh semua keluarga dan
isterinya, agar tak ada lagi yang diingat-ingat di rumah, sampai
di sana diceritakan.
Diceritakan sang raja, para punggawa diperintahkan, untuk menghancurkan
Si Ngurah Batu Lepang, semua keluarga sampai anak isterinya. Semua
prajurit itu ribut mengangkat senjata, banyak tak terhitung, penuh
menyebar ke mana-mana tak putus-putusnya dan para menteri sang
raja, siap untuk menyerbu rumah Si Ngurah Batu Lepang, diserang
bersama. Bingung Si Ngurah Batu Lepang, kehilangan akal, hingar
bingar prajurit itu, saling berbenturan mendesak bergulat mengincar
keadaan perang itu, meraba-raba tidak tahu dengan temannya, karena
diliputi oleh gelap, itu sebabnya sama-sama menyalakan obor.
Sekarang kembali mengejar ke arah timur Si Ngurah Batu Lepang,
mundur rakyatnya Si Ngurah Batu Lepang, karena banyak yang mati
dan menderita, kemudian mengamuk Si Ngurah Batu Lepang, tidak
dapat menahan hati, memarang, tombak-menombak menusuk kiri kanan,
oleh karena gelap gulita.
Kemudian Si Ngurah Batu Lepang terhalang tidak melihat jalan,
tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, karena banyak rakyatnya
yang gugur, sisa dari yang gugur semua lari menuju rumah masing-masing.
Bingung hati Si Ngurah Batu Lepang, masuklah ia ke rumah tempat
mesiu, di sana dikejar diburu Si Ngurah Batu Lepang, dikelilingi
oleh banyak prajurit, adapun belas kasihan perlakuan prajurit
dan menteri semuanya, tak diijinkan membunuhnya dengan mengikat
dan menyiksa. Sadar Si Ngurah Batu Lepang, bahwa dirinya akan
dibunuh dengan siksaan oleh musuh, kemudian didekatilah bungkusan
mesiu itu, kemudian dibakar, segera menyala menjulang tinggi sampai
ke angkasa, Si Ngurah Batu Lepang pun segera meninggal, hangus
beserta prajuritnya, demikian akibat kutuk brahmana, karena (dulu
) membunuh brahmana tidak berdosa, saat kematiannya lama menemukan
hina sengsara.
Sekarang kembali diceritakan putra Batara Sakti
Manuaba bagaimana keutamaannya yang bernama Bajangan, mempunyai
tiga orang putra laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Bajangan,
Pedanda Taman, dan Pedanda Abyan. Pedanda Bajangan mendirikan
pertapaan di Bukit Bangli, beliau berputra seorang bernama Pedanda
Tajung. Adapun Pedanda Taman, mendirikan pertapaan di Sidhawa,
putra beliau bernama Pedanda Manggis. Juga Pedanda Abyan, mencari
pertapaan di Tagatawang, mempunyai dua orang putra laki-laki,
disebut Pedanda Buringkit, Pedanda Made Tubuh. Adapun istri Batara
Abah, berputra seorang laki-laki, disebut Pedanda Abah, beliau
bertempat di Bajing, pemberian dari Sri Raja penguasa. Berputra
empat orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Kelingan, Pedanda
Gunung, Pedanda Tamu, Pedanda Abah.
Adapun istri Batara yang bernama I Gusti Ayu Tianyar, keturunannya
tiga orang laki-laki, yang tertua bernama Pedanda Wayan Tianyar,
Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar. Beliau merupakan
Bagawanta Arya Dawuh, di Desa Singharsa (Sidemen). Adapun Pedanda
Wayan Tianyar, memiliki dua orang istri, keturunan Arya Kekeran
seorang, berasal dari Jasi seorang, ada putra lahir dari Kekeran,
seorang laki-laki bernama Pedanda Kekeran, mempunyai seorang adik
perempuan, bernama Laksmi Sisingharsa, lagi pula putra beliau
yang lahir dari keturunan Jasi, bernama Pedanda Tianyar, seperti
nama ayahnya, adiknya perempuan bernama Pasuruhan.
Beliau Pedanda Wayan Tianyar, yang memiliki dua orang istri,
seorang dari Intaran, dari Blaluwan seorang, keturunan yang lahir
dari ibu Intaran, Pedanda Wayan Intaran, Pedanda Made Intaran.
Keturunan dari Blaluwan, seorang perempuan disunting oleh Pedanda
Wayan Kekeran. Pedanda Ketut Tianyar, beristrikan Ngurah Sukahet,
berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Sukahet,
Pedanda Made Wangseyan, dan Pedanda Ketut Wanasari.
Adapun istri Batara yang bernama Kutuh, mempunyai seorang putra
laki-laki, bernama Pedanda Kutuh, kawin dengan perempuan dari
Karangasern, memiliki empat orang putra laki-laki, Pedanda Wayan
Karang, Pedanda Made Karang, Pedanda Nyoman Karang, dan Pedanda
Ketut Karang.
Adapun Istri Batara yang berasal dari Sambawa, berputra seorang
laki-laki, bernama Ida Raden, kemudian beliau berputra bernama
Ida Panji, beliau sudah tercatat.
Diceritakan kembali, I Gusti Nyoman Tianyar, yang berada di Pamuhugan,
melahirkan keturunan lima orang anak laki-laki, tertua I Gusti
Ngurah Sangging, adiknya I Gusti Made Sukangeneb, I Gusti Nyoman
Tianyar, I Gusti Ngurah Diratha, yang bungsu I Gusti Ngurah Intaran.
Pada akhirnya seperti mendapat petunjuk dari leluhur, habis semua
isi rumah beliau, hutan ( ladang ) sawah, ada yang digadaikan,
ada yang dijual, ke desa lain, oleh karena menuruti hawa nafsu,
I Gusti Nyoman Tianyar menjadi tidak henti-hentinya bingung pikirannya,
menjadi kasihan setiap ia melihat anak-anaknya yang masih kecil.
Kemudian di dengar oleh Batara Wayan Tianyar kasihan terhadap
kesusahan I Gusti Nyoman Tianyar, maka beliau pergi menuju Desa
Pamuhugan. Maka disuruhnya I Gusti Nyoman Tianyar, mengambil warisannya
dahulu berupa sebidang tanah, yang berada di Sukangeneb.
Berkata I Gusti Nyoman Tianyar, Ucapnya. "Jika demikian
saya tidak mau kembali ke Sukangeneb Toya Anyar". Berpikir-pikir
Batara Wayan Tianyar, tentang kehancurannya di sana, terketuk
hatinya sangat kasihan melihat keluarga beliau I Gusti Nyoman
Tianyar" Wahai keluargaku semua, jangan anda di sini, mari
bersama-samaku di Singarsa, saya memberi anda tempat, sebab kami
tak bisa berpisah dengan anda".
Diceritakan sekarang I Gusti Nyoman Tianyar semua mengikuti Batara
Wayan Tianyar, berbondong-bondong bersama anak isterinya, tidak
diceritakan dalam perjalanan tiba di Singharsa, I Gusti Nyoman
Tianyar disuruh membangun rumah di Abyan Sekeha, wilayah Dusun
Ulah yang disebut Malayu, dijadikan pengawal pendamping dari asrama
Batara di kota Singharsa.
Adapun putra beliau Batara Wayan Tianyar, yang bernama Batara
Wayan Kekeran, pindah asrama ke Pidada, kawin dengan putra Batara
Nyoman Tianyar, menjadi istri beliau, mempunyai dua orang putra,
yang tua bernama Pedanda Nyoman Pidada, adiknya bernama Pedanda
Ketut Pidada, sama-sama mencapai keutamaan. Pedanda Nyoman Pidada,
pindah asrama menuju ke Pangajaran, Pedanda Ketut Pidada pindah
pertapaan ke Sinduwati, sama-sama mempunyai keturunan. Kembali
diceritakan Pedanda Wayahan Kekeran, yang berada di Pidada, memiliki
seorang putra laki-laki lahir dari golongan bawah yang bernama
Ni Jro Dangin, putra itu bernama Ida Wayan Dangin.
Sekarang diceritakan kembali Pedanda Wayan Intaran, berada di
Gelgel, memiliki murid dari golongan Sulinggih empat orang. Adapun
Pedanda Made Intaran, beliau berada di Toya Mumbul, beliau pindah
dari Toya Mumbul, pindah menuju desa Duda, beliau menetap di sana,
kawin dengan putra Pedanda Wayan Kekeran, berputra dua orang laki-laki
bernama Pedanda Wayan Intaran, di Pendem. Pedanda Made Intaran.
Adapun Pedanda Wayan Intaran memiliki anak dua orang, yang sulung
bernama Pedanda Nyoman Intaran, Pedanda Ketut Intaran, mengembangkan
keturunan di Pendem dan di Kediri Sasak. Adapun Pedanda Made Intaran,
berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Nyoman
Paguyangan, berasrama di Sindhu, Pedanda Ketut Tianyar di Pidada,
ada keturunan beliau di Pasangkan berhasil dalam mengobati segala
penyakit.
Diceritakan Pedanda Sukahet, memiliki dua orang istri, seorang
putri dari Pedanda Wayan Kekeran, dari Banjar Kebon seorang, istri
dari golongan Brahmana tersebut memiliki putra, namanya Pedanda
Wayan Sukahet, (dan) Pedanda Made Sukahet, bertempat tinggal di
Banjar Wangseyan, kemudian beliau pindah ke Wanasari, kemudian
pindah lagi ke Pasedehan. Adapun putra beliau yang lahir dari
istri yang berasal dari Banjar Kebon, bernama Ida Nyoman Banjar,
keturunannya berada di Abyan Tubuh daerah Sasak. Adapun Pedanda
Made Sukahet, memiliki putra laki-laki bernama Pedanda Sukahet,
sedangkan Pedanda Wanasari, putranya bernama Pendeta Wayan Wanasari,
beliau yang melahirkan keturunan yang berada di Sindhu daerah
Sasak.
Cerita Kembali lagi, diceritakan putra beliau I Gusti Nyoman
Tianyar, setelah waktu berselang lama, beliau yang memiliki lima
orang anak kini telah tumbuh dewasa. Adapun I Gusti Ngurah Diratha,
pindah rumah tinggal di Kubu Juntal, memiliki keturunan, di antaranya
I Gusti Ngurah Bratha, kemudian berganti nama menjadi I Gusti
Ngurah Bhujangga Ratha. Adiknya bernama I Gusti Ngurah Tianyar.
pindah menuju Katawarah. menetap di sana. I Gusti Ngurah Cakrapatha,
di Bhawana. Yang bungsu I Gusti Ngurah Gajah Para, di Kubu, mengembangkan
keturunan yang berada di Tongtongan, Bubunan, Bondalem, Bakbakan,
Antiga, Gamongan.
Adapun I Gusti Ngurah Intaran, mendirikan tempat tinggal di Banjar
Getas Tianyar. Keturunannya ada tiga orang, I Gusti Ngurah Cadha,
I Gusti Ngurah Cadha Sukangeneb, I Gusti Ngurah Bhojasem yang
memiliki keturunan berada di Tista, semuanya memiliki keturunan.
Adapun I Gusti Nyoman Tianyar, menjadi pengiring Pedanda Made
Intaran, di Toya Mumbul, di sana menetap dan memiliki keturunan.
Adapun I Gusti Made Sukangeneb, berada di Singaraja, memiliki
empat orang putra, yang sulung I Gusti Wayan Tianyar, pindah ke
Badung. Adiknya bernama I Gusti Made Danti, pindah menuju Panghi.
I Gusti Nyoman Tianyar pindah menuju Mataram di daerah Sasak,
yang bungsu I Gusti Ketut Tianyar, menetap di Antiga.
Adapun I Gusti Ngurah Sangging, beliau masih menetap di Abyan
Sekeha ikut dengan ayahnya. Kemudian beliau melakukan diksa, berganti
nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar.
Adapun I Gusti Ngurah Sangging, memiliki tiga orang anak. Putra
tertua I Gusti Ngurah Subratha, adiknya I Gusti Ngurah Jathakumba
pindah menuju Pangi, yang bungsu bernama I Gusti Ngurah Ketut
Tianyar, pindah menuju Bajing, memiliki keturunan dua belas orang.
Adapun beliau I Gusti Ngurah Subratha, mulanya tinggal di Jumpungan,
setelah didiksa kemudian pindah asrama ke Abyan Sekeha. Berganti
nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar Taman. Pindah asrama ke Sindu,
menjadi pengikut Pedanda Ketut Pidada, pada waktu mendirikan asrama
di Sindhu.
Adapula kolam peninggalan beliau di Patal, berupa tempat penyucian
waktu di pertapaan, sangat kemilau dan menyenangkan di Patal,
dihiasi dengan berbagai bunga, di tepi kolam tersebut, merupakan
tempat bercengkrama Pedanda Ketut Pidada. Beliau juga mendirikan
tempat pemujaan, tiga buah, sebuah untuk pemujaan Ida Sang Hyang
Widhi Wasa, ada (pula) titah beliau Pedanda Ketut Pidada terhadap
I Gusti Wayan Tianyar Taman, Duhai anaku Wayan Tianyar, ini bangunan
untuk memuja dewa, tiga buah. Ananda nantinya yang menjadi pemangku,
kemudian saya juga berada di sana, dipersatukan dengan beliau
Sang Hyang Siwa, jangan tidak disucikan, sampai nanti seterusnya,
anda yang menjadi pemangku untuk keluarga saya, bagian yang sebelah
utara diupacarai. Untuk semua keturunanmu, itu yang di sebelah
selatan. Karena itu, jangan melupakan keturunan saya juga keturunanmu
yang seterusnya dapat menemukan Surga (kebahagiaan). I Gusti Wayan
Tianyar Taman mengiyakan, sampai ke lubuk hati, cerita disudahi.
Adapun I Gusti Wayan Tianyar Taman, beliau memulai menetap di
Sinduwati, mengambil wanita menjadi isterinya dan keturunan Pulasari,
memiliki putra seorang bernama I Gusti Gede Tianyar, kemudian
beliau juga didiksa. Adapun I Gusti Gede Tianyar, berputra seorang
laki-laki, tidak berbeda tingkah laku dengan leluhurnya, beliau
juga didiksa, bernama I Gusti Gede Tianyar Sekar. Adapun I Gusti
Gede Tianyar Sekar, memiliki tiga orang keturunan, I Gusti Gede
Tianyar, I Gusti Made Tianyar Blahbatuh, adiknya I Gusti Made
Tianyar Tkurenan, beliau pada akhirnya menjadi Rohaniwan.
Demikian perkembangan keturunan yang berada di Sinduwati, daerah
Singharsa, lengkap dengan tempat pemujaan Dewa, bernama, Pura
Puri Anyar Sukangeneb, diteruskan dari sejak dulu, masa kini dan
masa yang akan datang. Cerita disudahi.
Ya Tuhan semoga selalu berhasil. Ini petunjuk/tingkah laku keturunan
Manu, pesan beliau Batara Manu, agar ditaati oleh para keluarga
dan keturunan, tentang lahirnya dari keturunan Manu. Jika petunjuk/kewajiban/ajaran
ini sudah dikuasai, dapat menyebabkan kesembuhan/menghilangkan
sengsara dalam diri, jika badan dapat dijaga dengan baik, atas
perintah pikiran yang tak ternoda. Tidak tercoreng oleh noda-noda
yang menyakitkan telinga, begitu pula nafsu dan tamak/loba, itu
tujuannya untuk mendapatkan kesenangan yang besar, lebih-lebih
keutamaan batin, kenali perbuatanmu masing-masing.
Singkatnya, ajaran/tuntunan perbuatan itu sungguh dipahami, dan
dilaksanakan, jangan gegabah dengan segala perilaku, itu dapat
menjagamu (agar) tidak menyimpang dari sifat-sifat manusia, oleh
karena tahu akan penjelmaan. Tidak bercampur-baur dengan kaum
Ekajati hendaklah dipilih yang pantas dijadikan sahabat, apa sebab
demikian, karena engkau sungguh manusia yang baik, keturunan dari
golongan Manu, hendaknya ingat dengan tugas masing-masing, lebih-lebih
dalam melaksanakan aturan brata, utamakanlah kesetiaan dan kebaikan
yang dapat mengontrol perbuatanmu, tidak diselingi perbuatan salah,
perbuatan durjana, ini ajaranmu yang pantas diikuti dan dilarang
mendatangkan mala petaka kutuk, ditujukan kepada siapa saja, ditujukan
kepada semua keturunan dan warga Manu.
Pada jaman dahulu kala, di India, beliau Batara penguasa tertinggi,
dapat dikalahkan, oleh musuh, ditangkap dipukul dan disiksa, tidak
dapat membela diri, akhirnya lari dengan tidak menentu, ingin
masuk ke tengah hutan, masuklah ia di bawah biji tumbuhan Jawa,
dinaungi oleh tumbuhan hea beras, ada burung perkutut dan bayan,
lagi pula (ada) sapi hitam mulus. Di sana burung tersebut memakan
biji-bijian, menampakkan keadaan yang wajar, burung itu bersuara,
sapi itu jinak tidak liar. Oleh karena demikian, dikira oleh musuh
beliau Batara, tidak ada orang di sana, segera ditinggalkan, pada
akhirnya selamatlah beliau. Pergilah beliau menuju Jawa, dinobatkan
menjadi pemimpin negeri, beliau berwasiat, seketurunan Wisnuwangsa
tidak memakan daging perkutut, dan Bayan, apalagi daging sapi
yang bulunya berwarna hitam mulus, wija maya (Jawa), eha beras,
sama-sama tidak boleh yang melanggar, oleh semua keluarga seketurunan
golongan Wisnuwangsa.
Demikian wasiat beliau Batara Manu. Apabila tercela dalam kehidupan,
lebih-lebih untuk mengabdi, terhadap keluarganya, akibat kesulitan
penghidupan, oleh karena itu menjadi melanggar pedoman hidup,
itu tidak merupakan dosa, berhak bila merendah terhadap saudara,
sebab satu keturunan, seperti perputaran roda pedati, dapat di
bawah dan dapat pula di atas. Jika engkau memohon bantuan/perlindungan
terhadap orang bawah, ya dapat pula merendahkan derajat, berakibat
menyimpang dari etika, menyebabkan terperosok ke dalam sumur mati,
menjadi manusia biasa ( ekajati), tidak memiliki nama baik, senang
makan minum kepunyaan orang lain, itu namanya hina, tidak dapat
disucikan, ( hendaknya ) dijadikan pedoman bagi empat golongan
manusia, janganlah engkau meniru perbuatan tersebut, semoga selamat,
panjang umur, sempurna, sampai sanak saudara dan keturunannya,
selamanya disenangi di bumi, ya Tuhan semoga senantiasa berhasil.
Ini adalah jenis busana (alat) yang dapat/bisa digunakan dalam
upacara kematian, ijin dari beliau Sri Raja Batur Renggong, engkau
bisa menggunakan busana manusia utama, sesuai dengan tata cara
kerajaan (Dalem), menggunakan peti usungan, upacara penyucian,
upacara Ngaben dengan membakar jenazah, bade ( tempat usungan
) bertumpang sembilan, taman agung, candra sari, cakraantita trawangan,
tempelan kapas lima warna, sembilan tumpang warna warni, kain
panjang, cemeti dari bulu merak yang panjang dan burung cendrawasih
berkuncir, balai-balai dari bambu gading, gender yang digotong
menyertai bade (tempat usungan), binatang singa bersayap, yang
lain sapi/lembu jantan yang hitam, magumi undag sapta, balai silunglung,
lengkap dengan kajang (kain penutup may at) dengan perlengkapannya,
walantaga, pakelem yang dibuat dari emas, lengkap dengan kawat
emas, parbha padma lenkara, bukan diikatkan pada galar. Harus
diberi tirta (air suci) untuk ukuran yang utama dengan uang (harga)
16.000, menengah 8.000, sederhana harga 4.000,. Kelanjutan dari
(upacara) kematian, boleh melakukan upacara Atma wedhana, upacara
baligya sradha, menengah panileman, mangrorasin.
Demikian rangkaian upacara pengabenan tingkatan utama, boleh
menggunakan kawat emas, itu perwujudan dari delapan penjuru arah
yang di tengah-tengahnya terdapat bulatan yang bertuliskan Dasa
Aksara. Berapa besar bahaya keutamaannya? Kamu tidak tabu, hanya
keinginan untuk mempercayai orang lain, mengikat galar, tidak
tahu dengan maknanya, jika engkau ingin mengetahuinya inilah sebenarnya,
Hurat mawrat, tar porat, jika memakai perlengkapan yang berat
( berlimpah ), menengah namanya. Jika tidak memakai perlengkapan
yang berbobot, bernama nista (sederhana). Jika menggunakan/berbobot
perlengkapannya, bernama besar (utama). Rupa/fungsi kawat emas,
bagaimana bentuk kawat mas? Kain putih, lebarnya seukuran destar,
itu sebagai alas, simbul tikar, di tempel bentuk Ongkara kawat
mas, tidak boleh digambari (dirajah) oleh orang kaum rendah (Sudra),
yang berhak juga brahmana.
Setelah siap/sedia , dipasang di atas bagian hulu pawalungan,
itu melambangkan padmanglayang, setelah jenazah diperciki dengan
tirta pangentas, ditutupi dengan kawat emas, agar sama-sama terbakar
dengan jenazah, itu bermakna utama.
Apa keutamaannya ? Ini kenyataannya, dahulu di Surga, pada waktu
semua roh berkumpul, dijemur di teriknya panas, ada satu roh,
terbebas oleh panas, tertutup oleh awan, kemudian ditanyai oleh
Sang Suratma, diperiksa tulisan di kepalanya, menjawab roh itu,
mengaku memakai kawatamas, berbentuk padma reka, itu sebabnya
terbebas dari kekeringan. Itu kemudian ditiru oleh yang mengetahui
keadaan tersebut, karena kawat emas itu sangat utama, demikian
diberitakan, jangan ceroboh.
Ini petunjuk perilaku Arya Gajah Para yang menjadi rohaniawan.
Bagi yang melaksanakan/menjadi Resi, diwajibkan melakukan diksa
brata boleh mengenakan jujumpung dan rambut di sanggul , seperti
pakaian seorang pendeta Siwasidhanta (sekta Siwa), juga boleh
bercukur pendek seperti pendeta golongan Budha. Berpakaian serba
putih, harus memakai tongkat yang berukuran panjang setinggi badan,
pada ujungnya bhajra yantu, tidak boleh lepas tongkat itu, dibawa
pada saat bepergian, sebagai tanda itu, untuk tidak salah tafsir.
Jika sudah diberi tanda, menggunakan tongkat bhajra yantu, yang
menjadi ujungnya, itu sesungguhnya adalah Bhujangga Resi, tidak
keliru (bila) akan bertanya, karena masih ada yang menandakan.
Jika dia Resi, Bhujangga, berjalan tanpa tongkat, itu dapat membuatnya
terserang noda/kotor, bagaimana ia itu, ketiga aliran sulinggih,
berjumpa di jalan, Semuanya menyapa, disertai tercakupnya kedua
telapak tangan, serta membungkukkan badan, sang Resi segera berkata,
mengaku dirinya bukan pendeta, mereka sang tri wangsa menjadi
malu, dalam benaknya salah sangka, marah dalam hatinya, segera
terdengar suara cemoohan, menimpa diri Sang Resi, itulah sebabnya
berjalan dengan tongkat, baru kelihatan keadaan yang nyata (kejatiannya),
wajah Resi Bhujangga, pendeta bertabiat tenang dan murid sang
pendeta.
Demikian perilaku Resi Bhujangga, jangan tidak berhati-hati,
menjaga tingkah laku itu, jelas sang Adi Guru, semoga tidak bercampur
dengan pikiran kotor, bagaikan kristal permata, pikiran itu serta
bersih berkilap tidak berawan, tidak menentang perintah, sang
Adi Guru, sekalipun tertimpa hujan dan panas, berat ringan, lebih-lebih
turun ke sungai jurang yang dalam dan tidak dirisaukan oleh orang
yang menjunjung dharma, bising hening menahan lapar, dahaga menginginkan
agar berhasil perintah sang Adi Guru, bersama orang yang wajib
dihormati, sampai dengan keluarga sang Adi Guru, putri guru, kakak
guru, adik guru, paman guru, kakek guru, keluarga guru, cicit
guru seluruh anggota keluarga, kawan, keluarga sang Adi Guru,
hendaknya semua dapat dihormati. Karena semua pengajar (guru)
dianggap berasal dari perbuatan utama ( baik ).
Lagi pula seorang Resi tidak berhak mencarikan jalan bagi orang
yang satu keturunan (sidikara) bila meninggal, jika mencarikan
jalan keluarga, itu akan menjadi rendah (nista), bukan orang yang
telah suci, apa sebabnya demikian, karena seorang Resi itu adalah
dari keturunan, maka hilanglah keharumannya, tidak dapat disucikan/diupacarakan
oleh sang pendeta Brahmana. Kemudian ada salah seorang berkeinginan
untuk menyucikan diri menjadi pendeta, berlaku seperti Resi Bhujangga,
itu tidak dapat didiksa, puasa, oleh beliau Mpu Dhang Guru Brahmana,
karena murid Resi, bukan keturunan wiku, brahmana, seorang petani
tulen menjadi utama, demikian celakanya bila dicarikan jalan oleh
Resi.
Lagi jika upacara hayu (bukan duka ), upacara
penyucian diri, upacara tentang kehidupan, itu dapat dipimpin
oleh Resi, tetapi sebelumnya menyampaikan perkenan kepada Dhang
Guru agar tidak berbuat sekehendak hati, lancar, bebas/terlepas
dari kekurangan lebih-lebih membuat bingung, tidak berhasil, sebagai
akibat kurang nasihat dari sang Adi Guru, ikut terbawa-bawa sang
guru, oleh karena pelaksanaan keliru muridnya, itu juga sama-sama
menyebabkan ditaati, memohon restu kepada sang Adi Guru, pada
waktu melaksanakan upacara, lagi pula pada saat sang Guru dalam
wujud Ardhanareswari menyatu ke alam sunyatmaka (Surga), Sang
Resi harus mempersembahkan air suci pada kaki, menghaturkan penyucian
kaki beliau. Juga pada waktu hari raya Galungan tiba, Kuningan,
pada saat itu sang Resi (juga) mempersembahkan daging untuk pelaksanaan
Galungan, sebagai persembahan layaknya hormat kepada Gumi. Lagi
pula ingatlah tata krama itu, menghadap sang Adi Guru, jangan
sembunyi-sembunyi, pergi (juga ) sembunyi-sembunyi, tidak mengabaikan
bimbingan, tidak memalingkan muka, tidak salah dengar, tetap menatap
muka, setiap berucap dan berkata dengan hormat, jangan menutupi
pembicaraan yang tidak benar, tidak mencampuri pembicaraan Adi
Guru, tidak menyangkal perintah, mempercepat dapat dimengerti,
jangan tetap membenarkan terhadap apa yang belum benar, tidak
mengeruhkan permandian sang Adi Guru, tidak menolak perintah,
tidak menginjak bayangan sang Adi Guru, tidak menduduki tempat
duduk sang Guru, tidak turun naik dalam perasaan, tidak memotong-potong
pembicaraan sang Adi Guru, jangan sering lemah dan memudar, dan
juga awasi dari kejauhan, jika belum nyata/ pasti tentang keadaan
sang Adi Guru, jangan segera mencampuri, jangan berbicara dan
menjawab dengan membalikkan punggung.
Demikian tata cara seorang putra guru, putri guru, kakak guru,
adik guru, ada penghormatan yang tulus dari dalam hati, dengan
suara yang lembut, bahasanya/nadanya datar, ucapannya mempesona,
dengan perkataan Ida Bagus, Ratu Ida Ayu, lagi pula saat menghadap
sang Adi Guru, jika terlihat putra sang Guru, putri guru, kakak
dan adik guru, ajak (tawari) duduk bersama, jangan engkau menghalangi
duduk, juga jangan membelakangi, jangan menyuguhkan makanan yang
telah diambil dengan tidak teratur. Jika telah tiba saatnya meninggal,
engkau dapat meminta untuk menggunakan Padmasana, apa sebabnya
bisa, karena engkau merupakan perlindungan manusia, menjadi sahabat
sang pendeta menceriterakan jalan/mengupacarakan orang yang telah
meninggal, sekalipun engkau gadis yang kecantikannya telah menyusut,
gadis (istri ) Resi panggilanmu, sama-sama bisa/dapat menjadi
pelindung manusia, memakai gelung kesa gagato seperti pakaian
istri pendeta.
Demikian tata cara sang Resi, taat terhadap sang brahmana, jangan
mabuk menganggap diri tabu, engkau merupakan wadah berbunyi, sang
pendeta yang mengisinya, menghidupkan, dan memberikan kekuatan
jagat, beliau dianggap air kehidupan, sekalipun wadah itu bocor,
tetapi memiliki kewenangan untuk menyalurkan kehidupan, berbeda
dengan kulit seekor kambing, dipakai oleh Baladewa, menimba air
dari sumur, sekalipun pekerjaan suci, waspadai baunya yang busuk,
karena dicemari oleh tempat. Demikian perbuatan yang alpa, itu
sebabnya di waspadai oleh yang menjunjung dharma ( kebenaran ),
berusaha melaksanakan tiga perbuatan baik, agama, kebaikan, tingkah
laku yang baik.
Ini purana (silsilah /cerita kuno ) tentang area
perwujudan di Pura Puri Anyar Sukangeneb, yang berada di Sinduwati,
Singharsa, dipuja oleh para keturunan beliau semua. Ahli waris
yang memelihara, para keturunan Jro Gede Wiryya, keturunan dari
I Gusti Gede Tianyar, beliau memang bersaudara, tiga, anak dari
I Gusti Gede Tianyar Sekar.
|