Canang Sari - Dharmawacana
Topik sebelumnya  Topik selanjutnya
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
 
Tentang: PENCANTUMAN GELAR SAYA DI HD-NET
 
31 Agustus 2003

Rekan-rekan sedharma Yth.

Om Swastiastu,

Menanggapi ada pertanyan rekan mengapa saya mencantumkan GELAR lengkap dengan alamat pada setiap tulisan saya di HD-Net, maka dapat saya jelaskan sebagai berikut.

  1. Ketika saya menyatakan ingin bergabung dalam HD-Net banyak tokoh Agama antara lain Bapak Putu Setia, dan rekan-rekan seperti Putu Suharta di Madiun yang merasa khawatir apakah nantinya saya tidak merasa tercemar jika ada anggauta yang bertanya atau menyangkal pendapat saya dalam "dharmatula" di HD-Net, karena anggautanya dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak muda yang suka ceplas-ceplos.

    Sebelumnya saya ceritrakan dahulu pengalaman saya merantau keluar Bali sejak 1964 sampai 1998 ke berbagai pelosok Nusantara: Malang, Jakarta, Bondowoso, Makasar, Ambon, Sengkang, Banyuwangi, Medan, Tanjung Balai-Asahan, dan Surabaya. Ketika tamat SMEA saya ke Malang, kost bersama teman-teman di Gang Samaan, dekat Celaket. Teman-teman kost semuanya Islam dan mereka sholat 5 waktu. Saya sendiri tidak pernah sembahyang karena memang tidak tahu, maklum di tahun-tahun itu Agama Hindu belum diajarkan secara intensif seperti sekarang di sekolah-sekolah. Apalagi ketika SD saya sekolah di SD Protestan di Ende-Flores. Nah rupanya ibu kost saya di Malang memperhatikan dan saya ditanyai: "Nak Putu, kok tidak pernah sembahyang?" Dengan polos saya menjawab: "Bu saya di Bali sembahyang di Pura kalau odalan" Ibu kost meneruskan bertanya: "Odalannya tiap berapa hari?". "Tiap enam bulan bu" jawab saya. "Oh jadi nak Putu sembahyangnya enam bulan sekali?" tanya ibu kost dengan nada heran. "Ya bu" jawab saya dengan lugu. Sekarang saya pikir alangkah bodohnya saya di waktu itu. Pertanyan ibu kost itu selalu terngiang di telinga saya setiap melihat teman-teman saya sholat. Saya merasa miskin sekali dan "jengah" maka sejak saat itu saya mencari guru spiritual ketika pulang libur ke Bali. Untunglah alm. Ida Pedanda Kemenuh mau memberi pelajaran dasar Agama Hindu, dan terus membimbing saya dari jarak jauh sampai tahun 1974, selanjutnya tahun 1974 s/d 1981 saya bertugas di Klungkung dan Gianyar sehingga membuka peluang emas bagi saya untuk belajar dan mendalami Agama Hindu di bawah bimbingan alm. Ida Tjokorda Mayun Putra (kemudian bergelar Dalem Pemayun), Pedanda Geria Dawan Kaler, Pedanda Bajing dan Pedanda Istri Gunaksa.

  2. Saya bertekad bahwa "kemiskinan" saya di tahun 1964 tidak akan terulang bagi anak-cucu dan rekan-rekan sedharma terutama yang ada di perantauan. Maka ketika Bapak Putu Setia menanyakan tentang kekhawatiran beliau pada sasana kesulinggihan saya, saya berpikir: MANA MUNGKIN KITA TAKUT BELEPOTAN LUMPUR JIKA KITA INGIN MENANAM PADI? Itu juga jawaban saya kepada rekan-rekan di PHDI Buleleng ketika saya menyatakan ingin berdharma wacana dan berdharmatula langsung ke masyarakat. Dalam pengalaman saya empat tahun berdharma wacana dan berdharma tula memang pahit getir sudah saya alami, misalnya ada yang lantang berkata bahwa saya mencari popularitas, malah ada yang bilang: "Beliau itu bekas orang Bank jadi kepandaiannya berpromosi digunakan sekarang"

  3. To the point:

    1. Melalui HD-Net saya dapat peluang melaksanakan tugas saya sebagai Sulinggih dalam bidang Jnana Yadnya.

    2. Sebagai seorang Sulinggih saya sudah "Madwijati" artinya lahir kedua kali. Kelahiran pertama dari rahim ibu, dan kelahiran kedua dari Nabe atas kekuatan Gayatri Mantram. Oleh karena itu saya:

      1. Amati Raga artinya mampu menguasai indria.

      2. Amari Sesana artinya berganti kebiasaan hidup dari walaka menjadi kebiasaan/ sesana sulingih;

      3. Amari Aran artinya berganti nama, di mana nama yang lama dianggap sudah mati dan selanjutnya menggunakan nama baru anugrah dari Nabe saya.

      4. Amari Wesa artinya berganti atribut, pakaian, dll. misalnya tidak lagi menggunakan gelar-gelar ketika walaka, berpakaian sebagaimana ketentuan bagi Sulinggih yaitu rambut maperucut, berbaju putih, berkain putih, saput kuning, ke mana-mana memakai tongkat.

  4. Penggunaan Gelar Kesulinggihan, dan pemakaian atribut/ pakaian seperti disebutkan di atas bukan dengan maksud MENYOMBONGKAN DIRI, tetapi dengan tujuan introspeksi atau mengingatkan diri saya bahwa saya sekarang adalah seorang Pandita (Pendeta/ Romo Pandito) yang berperan sebagai:

    1. Sang Satya Wadi: orang yang selalu berbicara tentang kebenaran (menurut Weda) dan kejujuran (hati nurani yang bersih).

    2. Sang Apta: orang yang dapat dipercaya.

    3. Sang Patirthaan: orang yang dapat diminta mensucikan diri masyarakat dengan doa dan nasihat spiritual agar masyarakat terhindar dari godaan-godan adharma.

    4. Sang Panadahan Upadesa: orang yang mampu mendidik masyarakat dalam pembinaan moral yang luhur.

  5. Jadi disaat saya menulis Bhiseka (nama) saya sebagai: Ida Pandita Nabe............. maka saya ingat pada wejangan Nabe: "Nanak tidak boleh begini, tidak boleh begitu, harus ini, harus itu, dst". Di saat saya berkaca melihat bayangan saya dengan atribut kesulinggihan, bathin saya berseru: "lihatlah anda sudah seorang Pandita, yang:

    1. Sista (suci),

    2. Sadana (merealisir seluruh kehidupan berdasarkan ajaran Weda),

    3. Acharya Dewa Bhawa (mengaplikasikan ajaran Weda di masyarakat)"

  6. Menjadi Pandita di jaman Kali memang sangat-sangat sulit karena di samping harus mampu melindungi masyarakat, mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai luhur ajaran-ajaran Weda, juga Pandita sendiri harus mampu menguasai dirinya agar tidak tergerus oleh pengaruh negatif budaya luar.

  7. Pencantuman nama dan alamat lengkap saya ditulisan-tulisan HD-Net juga bertujuan lain:

    1. Agar rekan-rekan sedharma yang ingin mampir ke Geria mudah mencari karena Geria saya juga merangkap Ashram. Ternyata dari HD-Net saya mendapat seorang sisya asal Hokaido (Jepang) bernama Naoko, yang menyatakan akan berguru ke saya.

    2. Mungkin saja ada rekan-rekan yang baru bergabung dan tertarik dengan tulisan saya, bisa mengetahui nama nara sumbernya.

    3. Saya bertanggung jawab dengan tegas pada isi tulisan-tulisan saya misalnya yang sekarang sedang berseri: SATYAM, SIWAM, SUNDARAM.

  8. Jadi sekarang saya sudah tidak punya keinginan atau ambisi apapun kecuali yang satu: Ambisi saya adalah melestarikan dan mengembangkan Hindu.

  9. Ambisi yang bersifat keduniawian: kekayaan, harga diri, penghormatan, kenikmatan hidup lahiriah sudah saya tinggalkan jauh-jauh dan sudah cukup puas di masa Grhastha dahulu. Sekarang di masa Bhiksuka, mudah-mudahan dapat dilakoni dengan baik, tentunya atas partisipasi rekan-rekan sedharma yang saya hormati dan kasihi.

Demikianlah penjelasan saya, namun bila ada kata-kata yang kurang pada tempatnya saya mohon dimaafkan.

Om Santi, Santi, Santi, Om...

 
 
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
Geria Tamansari Lingga Ashrama
Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja, Bali
Telpon: 0362-22113, 0362-27010. HP. 081-797-1986-4