Kembali ke kayonan
Canang Sari - Dharmawacana
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
 
Tentang: ONGKARA
42
28 Juli 2003

Rekan sedharma yth.

Om Swastiastu,

Ada yang menanyakan bentuk/ gambar simbol Ongkara di India dengan di Bali kok beda? Padahal sama-sama Hindu. Tentang simbol Ongkara di India saya belum temukan sumber sastranya, mungkin bapak Dr. I Made Titib atau bapak Drs. Ketut Wiana yang bisa menjawab. Tentang bentuk Ongkara di Bali saya dapat jelaskan (sumber: Lontar Krakah Modre Aji Griguh) sebagai berikut:

  1. Jenis-jenis Ongkara ada 5 yaitu: Ongkara Gni, Ongkara Sabdha, Ongkara Mrta, Ongkara Pasah dan Ongkara Adu-muka. Penggunaan berbagai jenis Ongkara ini dalam rerajahan sarana upakara pada upacara Panca Yadnya dimaksudkan untuk mendapat kekuatan magis yang dibutuhkan dalam melancarkan serta mencapai tujuan upacara.

    1 Ongkara Gni
    2 Ongkara Sabdha
    3 Ongkara Mrta
    4 Ongkara Pasah
    5 Ongkara Adu Muka

  2. Unsur-unsur Ongkara ada 5 yaitu: 1) Nada, 2) Windu, 3) Arda Candra, 4) Angka telu (versi Bali), 5) Tarung. Semuanya melambangkan Panca Mahabutha, unsur-unsur sakti Hyang Widhi, yaitu: Nada = Bayu, angin, bintang; Windu = Teja, api, surya/ matahari; Arda Candra = Apah, air, bulan; Angka telu = Akasa, langit, ether; Tarung = Pertiwi, bumi, tanah.



    Unsur-unsur Panca Mahabutha di alam raya itu dinamakan Bhuwana Agung. Panca Mahabutha ada juga dalam tubuh manusia:

    1. Daging dan tulang adalah unsur Pertiwi
    2. Darah, air seni, air kelenjar (ludah, dll) adalah unsur Apah
    3. Panas badan dan sinar mata adalah unsur Teja
    4. Paru-paru adalah unsur Bayu
    5. Urat syaraf, rambut, kuku, dan 9 buah lobang dalam tubuh: 2 lobang telinga, 2 lobang mata, 2 lobang hidung, 1 lobang mulut, 1 lobang dubur, dan 1 lobang kelamin, adalah unsur Akasa.

    Unsur-unsur Panca Mahabutha dalam tubuh manusia disebut sebagi Bhuwana Alit. Dalam kaitan inilah upacara Pitra Yadnya dilakukan ketika manusia meninggal dunia di mana dengan upacara ngaben (ngapen=ngapiin), unsur-unsur Panca Mahabutha dalam tubuh manusia (Bhuwana Alit) dikembalikan/ disatukan ke Panca Mahabutha di alam semesta (Bhuwana Agung).

  3. Kesimpulan: Simbol Ongkara adalah simbol ke Maha Kuasaan Hyang Widhi.

  4. Simbol Ongkara di Bali pertama kali dikembangkan oleh Maha-Rsi: Ida Bhatara Mpu Kuturan sekitar abad ke11 M, ditulis dalam naskah beliau yang bernama "Tutur Kuturan"

Om Santi, Santi, Santi, Om.....


1 September 2003

Ongkara di bokong turis atau di pusar artis

Omkara adalah symbol. Dalam Upanisad disebut Niyasa artinya alat bantu agar konsentrasi kita menuju kepada Hyang Widhi, serta pemuja mendapat vibrasi kesucian Hyang Widhi. Niyasa yang lain misalnya banten, pelinggih, kober, dll. Oleh karena itu maka niyasa diletakkan pada tempat yang wajar karena disucikan. Agama adalah keyakinan. Demikian pula penggunaan niyasa adalah keyakinan seseorang pada ke Maha Kuasaan Hyang Widhi. Seseorang yang tidak mempunyai keyakinan demikian mungkin saja menempatkan niyasa sembarangan atau memperlakukan tidak hormat seperti menginjak, menduduki, dll.

Perlakuan pada niyasa-niyasa yang tidak wajar juga mungkin karena tidak tahu (awidya) atau memang sengaja (rajasika). Mengapa salah satu niyasa berbentuk Omkara, karena gambar itulah yang dilihat dalam jnana para Maha Rsi penerima wahyu Hyang Widhi, yang kemudian diajarkan kepada kita turun temurun.

Sebagai seorang bhakta, marilah kita yakin bahwa hukum karma-phala selalu berlaku sepanjang masa dan universal. Karena kemahakuasaan Hyang Widhi juga universal, maka siapa yang berbuat melecehkan niyasa pasti akan menerima pahalanya, cepat atau lambat. Kita wajib menegur, mengingatkan, mereka yang melecehkan niyasa dan berjuang menegakkan kesucian niyasa.

Om Santi, Santi, Santi, Om.....

 
Kembali ke Hindu Dharma
 
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
Geria Tamansari Lingga Ashrama
Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja, Bali
Telpon: 0362-22113, 0362-27010. HP. 081-797-1986-4