Kembali ke kayonan
Canang Sari - Dharmawacana
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
 
Tentang: SATYAM, SIWAM, SUNDARAM - lanjutan 2
Seri sebelumnya Topik utama Seri selanjutnya
5 Agustus - 7 September 2003

Rekan-rekan sedharma Yth.

Om Swastiastu,

Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga.

BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/ suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut Bhakta.

Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama.

Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja.

Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi.

Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol (niyasa).

Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri).

Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti, namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan apara-bhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti. Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus tentang para dan apara-bhakti.

Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA:
Bhakti marga sering disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benar-benar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan Yoga-Marga dengan baik.

Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin bersembahyang, bermeditasi, beryoga. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh rasa ikhlas, tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan akan pahalanya. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia, menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi, sedangkan mereka yang apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. Bhakti kepada Hyang Widhi melenyapkan rasa takut, marah, benci, dan iri hati.

Bhagawadgita XII.17:
Yo na hrishyati na dveshti, Na sochati na kankshati, Bhaktiman ya same priyah.
Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci, tiada berduka dan bernafsu apa, membebaskan diri dari kebathilan dan rasa berbuat kebaikan, penuh dengan kebaktian, dialah yang Ku-kasihi.

Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang Widhi, janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul bilamana kesenangan terancam. Juga jangan membenci karena kebencian menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya, amarah, iri hati dan nafsu yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. Itulah hal-hal yang menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya. Bila kita cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih kepada semua ciptaan-Nya. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata adalah atas kehendak-Nya. Bebaskanlah dari kebathilan, karena itu bertentangan dengan hakekat bhakti, dan bebaskanlah dari rasa berbuat kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. Pengampunan akan diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta.

Bhagawadgita XII.6,7:
Ye tu sarvanni karmani, mayi samnyasya matparah, anayenai va yogena, mam dhyayanta upasale. Tesham aham samuddharta, mrtyu samsara sagarat, bhavani nachirat partha, mayi avesita chetasam.
Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan hidup mereka kepada-Ku, memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan kebaktian yang terpusatkan, yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku, dengan segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir dan mati (artinya mencapai MOKSA), Oh Partha......................

Sekian dahulu sampai ketemu pada seri berikutnya.

Om Santi, Santi, Santi, Om....

 
Kembali ke Hindu Dharma
 
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
Geria Tamansari Lingga Ashrama
Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja, Bali
Telpon: 0362-22113, 0362-27010. HP. 081-797-1986-4