Kembali ke kayonan
Canang Sari - Dharmawacana
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
 
Tentang: BALINISASI VS JAWANISASI
7
31 Juli 2003

Rekan-rekan sedharma Yth.

Om Swastiastu,

Beberapa minggu yll. ada rekan yang "protes" agar jangan mem-Bali-kan ritual Hindu di Jawa (atau diluar Bali) demikian juga dengan bentuk dan ornamen Pura. Istilah yang digunakan "Balinisasi". Saya jadi teringat dengan sejarah perkembangan Agama Hindu di Indonesia.

Orang-orang Bali sekarang sebenarnya bukan pribumi. Sejak abad ke-6 M Bali kedatangan berturut-turut dalam kelompok-kelompok besar orang-orang: Campa (Thailand) dengan rajanya Kesari Warmadewa (Bujutnya Erlangga), kemudian orang-orang Mpu Sindok (Jawa), seterusnya orang-orang Jawa-Aga pengikut Rsi Markandeya dari Gunung Raung (abad ke-8 M), dan terakhir migrasi orang-orang Jawa Timur besar-besaran terjadi terus menerus menjelang dan setelah keruntuhan Majapahit dan masuknya agama Islam di Jawa (abad ke-11 s/ d 15).

Selain orang-orang Jawa Timur/ Majapahit, semuanya disebut sebagai orang-orang Bali-Aga. Kata "Aga" dalam kamus Bahasa Kawi artinya Gunung. Jadi Bali-Aga artinya orang-orang Bali yang tinggal di pegunungan karena terdesak oleh pendatang mayoritas dari Jawa Timur yang menguasai daerah-daerah pertanian subur di dataran-dataran rendah.

Orang-orang Jawa Timur yang hijrah ke Bali dipimpin oleh Pendeta-Pendeta terkenal seperti: Rsi Markandeya, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bharadah, Mpu Jiwaya, Mpu Manik Angkeran, Danghyang Sidhimantra, Danghyang Kresna Kepakisan (kemudian setelah menjadi Raja bergelar: Sri Aji Kresna Kepakisan), Danghyang Nirartha, dll.

Para Pendeta itulah yang mengajarkan segala bentuk ritual (upacara) dan bentuk banten serta sarana upacara lainnya (upakara) seperti yang diwarisi hingga sekarang. Khusus mengenai pelaksanan ritual sangat disarankan agar dilakukan sesering mungkin (dibuat sangat sibuk berhari-hari) sebagai methode pengajaran Hindu bagi umat yang kurang memahami Jnana (ilmu dan filsafat).

Para Pendeta itu mengevaluasi sebab-sebab sirnanya Agama Hindu di Jawa, antara lain karena umat kurang melaksanakan ritual keseharian dalam kerangka pendidikan Hindu. Upaya untuk mempertahankan eksistensi Agama Hindu di Jawa ketika itu sudah dilaksanakan oleh beberapa tokoh di Jawa Timur antara lain oleh Mpu Tanakung dalam bentuk tulisan dan kekawian: Siwaratri Kalpa. Namun upaya itu tidak berhasil karena justru cicitnya Erlangga yang bernama Sri Wira Kusuma pada abad ke-12 M menjadi pemeluk Islam dan penyebar agama Islam yang tersohor dengan nama Raden Pattah. Oleh karena itu orang-orang Jawa Timur di bawah pimpinan para Pendeta itu secara bertahap menyeberang ke Bali dalam upaya mempertahankan Agama Hindu. Tokoh sentral yang mengisolasi Bali secara strategic dan phisik dari pengaruh Islam di masa itu adalah Danghyang Sidhimantra.

Jadi di zaman itu telah terjadi "Jawanisasi" di Bali. Jika sekarang Agama Hindu berkembang pesat di Jawa, sebenarnya bisa dikatakan "Back to Jawa" bukan Balinisasi.

Nah apalah artinya istilah, yang penting sekarang kita punya umat sedharma di Jawa dan luar Bali banyak, dan ini menyenangkan, membanggakan sekaligus mengharukan. Jika dahulu (di abad 11-15) methode pengajaran Hindu dilaksanakan dengan mengajak umat banyak-banyak berupacara dengan berbagai simbol, atribut, niyasa baik berupa banten, ornamen, dll. mari kita sekarang mengembangkan Hindu dengan lebih banyak menekankan Tattwa dan Susila namun tidak meninggalkan Upacara (ritual). Methode ini lebih pas mengingat umat kita rata-rata sudah berpendidikan tingkat menengah, sehingga mudah mengembangkan Jnana Marga, dan Yoga Marga.

Sekian dahulu, semoga ada manfaatnya. Bila ada kata-kata yang kurang pada tempatnya mohon dimaafkan.

Om Santi, Santi, Santi, Om....

 
Kembali ke Hindu Dharma
 
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
Geria Tamansari Lingga Ashrama
Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja, Bali
Telpon: 0362-22113, 0362-27010. HP. 081-797-1986-4