 |
|
| Bersumber dari buku terbitan Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali tahun
1986 diterjemahkan oleh Drs.
I Wayan Warna, Ida Bagus Gede Murdha B.A., Drs. I Nyoman Sujana,
Ida Bagus Maka, Ida Bagus Sunu, I Dewa Gede Catra, Drs. I
Gede Sura. Editor: Drs. I Wayan Warna, Ida Bagus Gede Murdha
B.A. Isinya tentang cara pengaturan upacara yang dilaksanakan
di pura Besakih pada masa penulisan Raja Purana ini, tentang
laba pura, tentang banten yang dipersembahkan pada upacara-upacara
tertentu. Berikut kami tayangkan bagian teks yang telah diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia... |
|
 |
|
| Diterjemahkan oleh team pengkaji
Lontar Universitas Udayana, Fakultas Sastra. Dipimpin oleh
Bapak Drs. I Nyoman Suarka M Hum. Team ini telah berhasil
mengalih-mediakan belasan lontar ke dalam CD. Sebuah terobosan
budaya dalam usaha mengerahkan seluruh upaya teknologi dan
estetika demi pelestarian salah satu unsur budaya yang hampir
terlupakan. Team ini masih terus bergerak maju walaupun dengan
dukungan yang minim. Yayasan Bali Galang memperoleh kepercayaan
untuk ikut berperan dalam bidang pencitraannya. Berikut ditayangkan
sesunting halaman-halaman depannya, untuk memberikan gambaran
betapa pentingnya misi yang diemban oleh team ini... |
|
 |
|
| Diterjemahkan oleh team pengkaji
Lontar Universitas Udayana, Fakultas Sastra. Dipimpin oleh
Bapak Drs. I Nyoman Suarka M Hum. Team ini telah berhasil
mengalih-mediakan belasan lontar ke dalam CD. Sebuah terobosan
budaya dalam usaha mengerahkan seluruh upaya teknologi dan
estetika demi pelestarian salah satu unsur budaya yang hampir
terlupakan. Team ini masih terus bergerak maju walaupun dengan
dukungan yang minim. Yayasan Bali Galang memperoleh kepercayaan
untuk ikut berperan dalam bidang pencitraannya. Berikut ditayangkan
sesunting halaman-halaman depannya, untuk memberikan gambaran
betapa pentingnya misi yang diemban oleh team ini... |
|
 |
|
|
Diceriterakan setelah kalahnya Raja Bedahulu
di Bali, akhirnya keadaan Bali pada saat itu menjadi tenang.
Sehingga Patih Nirada Mada menjadi tidak senang disebutkan
ada seorang pendeta yang sangat sempurna bernama Dhang Hyang
Kepakisan. Beliau berputra tiga orang laki-laki dan seorang
wanita. Salah satunya dimohon menjadi raja oleh Gajah Mada
di Bangsul (Bali), bernama Sri Dalem Kresna Kepakisan, Baginda
beristana di Samprangan, setelah beberapa generasi terakhir
digantikan oleh Dalem Sagening...
|
|
 |
|
|
Dengan adanya ekspedisi Majapahit ke Bali.
Bali pun pada akhirnya menjadi bagian kekuasaannya. Walaupun
demikian di belahan Bali Timur terus terjadi gejolak penentangan.
Untuk meredam gejolak tersebut, diutuslah Sirarya Gajah
Para dan Sirarya Getas. Akhirnya kedua Arya tersebut tinggal
di Sukangeneb, Toya Anyar, dan menurunkan beberapa keturunan.
Selanjutnya Sirarya Getas diutus untuk mengadakan penyerangan
ke Selaparang, beliaupun akhirnya menetap di sana (Praya)...
|
|
 |
|
Ki Tambyak adalah putra dari Begawan Maya
Cakru, semenjak lahir ia ditinggal oleh orang tuanya, akhirnya
ia dijadikan anak angkat oleh Kebayan Panarajon. Sebagai
anak angkat yang dipungut sewaktu masih bayi, kemudian tumbuh
menjadi pemuda yang gagah dan berilmu sehingga disegani
masyarakat lingkungannya. dalam hal ini bukan saja oleh
masyarakat lingkungannya, bahkan raja Bedahulu pun mengangkatnya
sebagai seorang patih...
|
|
 |
|
| Ida Bang Manik Angkeran adalah putra dari Dang Hyang Siddhimantra. Berikut kisah beliau, diambil dari sebuah terbitan untuk para pratisentananya. |
|
 |
|
| Bersumber dari buku terbitan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan terjemahan dari lontar
asli yang disimpan di Gedong Kirtya. |
|
 |
|
| Lontar yang sangat penting dan menjadi
pedoman pembuatan bangunan-bangunan suci. Lontar ini sedang
kami terjemahkan dan kami sarikan di bagian lain dalam kelir
babadbali.com, sedangkan naskah aslinya akan segera kami tayangkan
di sini |
|
 |
|
| Daftar lontar yang terdapat di Museum
lontar Gedong Kirtya, Singaraja. |
|