Babad Arya Kanuruhan (Versi 2)
 
Isi Singkat Babad Arya Kanuruhan.

Kata pembukaan (pangaksama), dengan memuja Çiwa dan Buda memohon restu dan memohon ampun untuk membicarakan cerita lama, dengan tujuan menyediakan bacaan pada para keturunannya.

Diceritakan secara singkat kekuasaan seorang raja raksasa garang yang berhasil dikalahkan oleh Sang Hyang Puruhitakantep (Wisnu). Dilanjutkan dengan pemerintahan Sri Masula Masuli, hingga pemerintahan Sri Gajah Wahana dengan patihnya Ki Pasung Grigis.

Ekspedisi Majapahit (Gajah Mada) ke Bali. Bali diserang dari tiga penjuru. Dari sebelah Timur dipimpin oleh Gajah Mada. Dari sebelah Utara dipimpin oleh Arya Damar, Arya Sentong, dan Arya Kutawaringin. Dari sebelah selatan dipimpin oleh Arya Kenceng dan Arya Belog. Pertempuran terjadi di seluruh penjuru, para patih Bali di desa-desa semua berguguran.

Dengan siasat yang licin Gajah Mada berhasil menangkap Ki Pasung Grigis di Tengkulak, dengan demikian pulau Bali ditundukkan oleh Majapahit.

Pada saat-saat pasukan Majapahit memperoleh kemenangan, datang utusan Raja Majapahit bernama Ki Kuda Pangasih, mencari Patih Gajah Mada agar segera kembali. Gajah Mada dan Arya Damar kembali ke Majapahit setelah selesai menetapkan tempat para Arya di Bali untuk menjaga dan mengatur pemerintahan.

Dilanjutkan dengan silsilah keturunan Arya Kanuruhan. Dimulai dari Ra Hyang Dimaharaja Manu turun-temurun, hingga Sri Erlangga bertahta di Daha. Sri Erlangga berputra Sri Jayabaya dan Sri Jayasaba. Sri Jayabaya, berputra Sri Dangdang Gendis, Sri Siwa Wandiri, dan Sri Jayakusuma. Sri Dangdang Gendis berputra Sri Jaya Katong, Sri Jaya Katong berputra Sri Jaya Kata. Pada waktu Daha diserang oleh Tumapel maka Sri Jaya Kata dan Sri Jaya Waringin ditawan dan dilarikan ke Tumapel. Sri Jaya Kata berputra tiga orang, yang tertua Arya Wayahan Dalem Manyeneng, putra yang kedua Arya Katanggaran, putra yang Bungsu Arya Nuddhata.

Arya Wayahan Dalem Manyeneng menurunkan warga Arya Gajah Para dan Arya Getas. Sri Jaya Waringin menurunkan Arya Kutawaringin, Arya Katanggaran berputra Kebo Anabrang. Kemudian dikenal dengan nama Arya Sabrang, karena diutus menyerang daerah seberang (Melayu) oleh raja Kertanegara, berhasil menawan Dara Petak dan Dara Jingga. Ketika kembali dari Melayu, Singasari telah hancur, maka kedua putri itu diserahkan kepada raja Majapahit (Raden Wijaya). Arya Sabrang berputra Kebo Taruna kemudian bergelar Arya Singa Sarddhula, karena menjabat pangkat Kanuruhan maka lebih dikenal bernama Arya Kanuruhan.

Dikisahkan kembali, bahwa setelah lama Bali ditaklukkan oleh Majapahit untuk sementara Patih Gajah Mada menunjuk Mpu Dwijaksara dan keluarganya untuk mengatur pemerintahan di Bali. Kemudian pemerintah sementara itu mengirim utusan ke Majapahit, agar segera ditempatkan kepala Pemerintahan yang sah di Bali.

Maka pada tahun Çaka 1274 atau tahun 1352 Masehi; Gajah Mada menetapkan Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja Bali berkedudukan di desa Samprangan (jaman Samprangan). Didampingi oleh para Arya, yaitu Arya Kanuruhan, Arya Wang Bang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kutawaringin, Arya Kapakisan, Arya Gajah Para, Arya Getas, dan lain-lainnya, ditempatkan di desa-desa tertentu. Arya Kanuruhan di Desa Tangkas.

Di antara Para Arya itu, tiga orang yang terkemuka yaitu Kepala Menteri Arya Kepakisan, yang kedua Arya Kutawaringin, dan Panyarikan Arya Kanuruhan. Raja Bali (Dalem Ketut Kresna Kepakisan) menugaskan Ki Patih Ulung dan warganya yaitu keturunan Mpu Sanak Pitu untuk memelihara dan menyelenggarakan upacara yajnya di seluruh Pura-Pura Kahyangan di Bali sesuai dengan titah raja Majapahit dan Patih Gajah Mada. Dalem Ketut Kresna Kepakisan berputra empat orang yaitu: Ida I Dewa Samprangan, Ida I Dewa Taruk, Ida I Dewa Ketut beribu Ni Gusti Ayu Tirta putri Sirarya Gajah Para. Dan Ida I Dewa Tegal Besung beribu putri dari Sira Arya Kutawaringin.

Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat pada tahun 1302 atau tahun 1330 Masehi, digantikan oleh putranya, yang sulung yang kemudian terkenal dengan sebutan Dalem Ile. Arya Kanuruhan menjabat pangkat "panyarikan", beliau seorang menteri terpercaya karena loyalitas pengabdiannya kepada raja/ negara. Arya Kanuruhan berputra tiga orang laki-laki yaitu Kyayi Brangsinga, Kyayi Tangkas, dan Kyayi Pagatepan. Ketiga orang putra Arya Kanuruhan itu juba mengabdikan diri dengan sepenuhnya pada negara seperti ayahnya. Kemudian Kyayi Brangsinga menggantikan ayahnya menjabat "panyarikan". Dalem Ile tidak mampu mengendalikan roda pemerintahan maka I Gusti Kubon Tubuh, Kyayi Brangsinga dan para Arya yang lain berusaha mencari Dalem Ketut, baginda dijadikan raja berkedudukan di Gelgel.

Lembaran baru jaman Gelgel mulai tahun Çaka 1305 atau 1383 Masehi. Para menterinya yang terutama Kryan Patandakan, Kryan Kubon Tubuh, sebagai "Kanuruhan", Kryan Brangsinga bermukim di Tangkas. Negara Bali aman dan sejahtera. Kyayi Brangsinga berputra dua orang yaitu Kyayi Brangsinga Pandita dan Kyayi Madya Kanuruhan Kesari. Dalem Ketut Smara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) diundang ke Majapahit oleh Sri Hayam Wuruk dalam rangkaian upacara Sradha, Kyayi Brangsinga Pandita ikut pergi, Baginda Dalem menerima petuah- petuah penting dari Raja Majapahit dan hadiah keris yang terkenal dengan nama Ki Bangawan Canggu.

Dalem Ketut Smara Kepakisan wafat tahun Çaka 1382, tahun 1460 Masehi (sapangrenga sang dwija sumirat agni kadi surya) digantikan oleh putra baginda yang bergelar Sri Waturenggong. Baginda seorang raja terbesar di masa kerajaan Gelgel. Kryan Brangsinga Pandita berputra tiga orang yaitu: Ki Gusti Singa Kanuruhan, Ki Gusti Madya Kanuruhan, Ki Gusti Abra Singasari. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong, Ki Gusti Batan Jeruk Menjabat Patih Agung, Ki Gusti Abyan Tubuh menjabat patih, Kyayi Brangsinga Pandita menjabat Kanuruhan (=panyarikan), Kryan Tangkas putra Kanuruhan bermukim di Kretalangu, sebagai penguasa menggantikan penguasa yang telah pergi. Beliau berputra bernama Kyayi Tangkas Dimade yang dibunuh oleh ayahnya sendiri, diakibatkan oleh sebuah surat perintah Dalem untuk membunuh yang membawa surat itu. Sedangkan yang membawa surat itu dari Gelgel segera pergi setelah menyerahkannya kepada Kyayi Tangkas Dimade. Kemudian Dalem menganugrahkan seorang istri baginda yang telah hamil agar Kryan Tangkas memperoleh keturunan. Setelah lahir putranya itu diberi nama Pangeran Tangkas Kori Agung. Kyayi Pagatepan diutus meleraikan percekcokan putra- putra Arya Gajah Para di Tianyar, dan menetap di sana, berputra dua orang yaitu Kyayi Pagatepan dan Kyayi Madya Dukyan. Dalem Waturenggong menyerang, Sri Juru di Blambangan di bawah pimpinan Patih Ularan Kyayi Madya Kanuruhan Kesari, gugur dalam pertempuran di Blambangan itu. Kekuasaan Dalem Waturenggong meliputi daerah-daerah sebelah timur Puger, Pasuruhan, Sumbawa, Sasak. Baginda didampingi oleh pendeta Siwa dan Buda yaitu Danghyang Nirartha dan Mpu Astapaka.

Dalem Waturenggong menganugrahkan surat wasiat tentang tata upacara yang harus diikuti oleh masing-masing kelompok kekeluargaan para Arya, dan pemuka pemuka masyarakat di Bali (=kini biasa disebut prasasti untuk di Bali).

Dalem Waturenggong wafat tahun 1472 atau tahun 1550 Masehi. Baginda digantikan oleh putranya bernama Dalem Bekung (Ida I Dewa Pemayun), didampingi oleh putra- putra Ida I Dewa Tegal Besung yaitu I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan. Kryan Brangsinga Pandita berputra: I Gusti Singa Kanuruhan, menggantikan kedudukan ayahnya, Adiknya Ki Gusti Madya Kanuruhan menjabat "Panyarikan". Kedua putra masing-masing mempunyai keturunan. Pada masa pemerintahan Dalem Bekung terjadi perebutan kekuasaan yang dipimpin. oleh I Gusti Batan Jeruk, namun gagal. Kemudian timbul peristiwa I Gusti Pande, dengan kejadian terbunuhnya I Gusti Telabah, ternyata Dalem Bekung seorang raja yang lemah.

Dalem Bekung digantikan oleh adik baginda, yang bernama Dalem Anom Seganing, tahun Çaka 1502 atau tahun 1589 Masehi. Keamanan pulih kembali, daerah-daerah yang pernah melepaskan diri dapat dikuasai lagi. Baginda Dalem Seganing banyak istri dan anaknya. Di antara putra- putranya yang terutama Ida I Dewa Anom Pemahyun, Ida I Dewa Dimade, dan seorang putri Ida I Dewa Ayu Rangda Gowang.

Diuraikan silsilah keturunan I Gusti Brangsinga Pandita serta tempatnya masing-masing setelah mengalami perpindahan. Kemudian diuraikan perpindahan dan perkembangan keturunan Kyayi Brangsinga di Daerah Karangasem, yang mengikuti perjalanan perpindahan Ida I Dewa Anom Pemahyun dari Gelgel ke Perasi dan selanjutnya ke Tambega karena terjadi kesalahpahaman dengan adik baginda yang bergelar Ida I Dewa Dimade. Ida I Dewa Anom Pemahyun berkedudukan di Tambega. Kemudian putranya Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade pindah ke desa Sidemen. Dari desa Sidemen hendak mengadakan serangan balasan pada I Gusti Agung Maruti setelah Dalem Dimade mengungsi ke Guliang. Terakhir dicatat keturunan Ki Brangsinga yang mengikuti Ida I Dewa Anom Pemahyun ke Sidemen, serta tempat-tempat di mana kemudian mereka menetap.

Nama/ Judul Babad :
Babad Arya Kanuruhan.
Nomor/ kode :
-
Koleksi :
Dadya Brangsinga.
Alamat :
Kebon, Sidemen, Karangasem.
Bahasa :
Jawa Kuna.
Huruf :
Bali.
Jumlah halaman :
33 lembar (1b s/d 33a).
Ditulis oleh :
-
Colophon/ Tahun :
-
Kalimat awal :
Ong Awignam astu nama Siwa Budayem.
Kalimat akhir :
Iti Babad Arya Kanuruhan, samapta.