Babad Dalem (versi 2)
 
Isi Singkat Babad Dalem

Kata pendahuluan penulis, dengan memanjatkan doa ke hadapan Hyang Maha kuasa, dan kepada leluhur, agar karyanya berhasil dengan selamat, serta mengharapkan kesentosaan sampai turun- temurun. Kemudian dilanjutkan dengan ceritera- ceritera raja yang bersifat loba, moha dan murka, yang dibinasakan oleh Dewa Indra (Hyang Puru Hutakantep). Lahirnya Sri Masula-Masuli, dan yang terakhir adalah raja Topahulung atau Sri Gajah Wahana, di Bedahulu dengan patihnya Ki Pasung Grigis ditaklukkan oleh Majapahit atas pimpinan Arya Damar dan Patih Gajah Mada. Pasung Grigis tertawan kemudian ditugaskan menyerang Sumbawa. Gajah Mada memerintahkan Mpu Dwijaksara serta keturunan Mpu Sanak Pitu untuk menyelenggarakan upacara di kahyangan- kahyangan di Bali. silsilah Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang dimulai dari Mpu Bajra Satwa, turun- temurun. Kyayi Patih Wulung dan kawan- kawan menghadap Raja Kala Gemet, mohon agar di Bali segera diisi seorang adipati. Dalem Ketut Kresna Kepakisan dikirim ke Bali tahun Çaka 1274. (yogan, muni, netra, baskara). dibantu oleh para Arya. Raja berkedudukan di Samprangan. sedangkan para Arya ditempatkan di desa- desa yang dianggap rawan. Timbul pemberontakan- pemberontakan di desa-desa Bali Aga seperti Batur, Songan, Cempaga, dan lain-lain. Adipati Bali hendak kembali ke Jawa, tetapi tidak diijinkan oleh Gajah Mada, Adipati Bali dianugerahi pakaian kebesaran dan keris Si Ganja Dungkul. Adipati Bali mengadakan pembagian tugas dan wewenang kepada warga Pasek keturunan Sapta Resi. Sri Kala Gemet wafat. Diadakan sayembara untuk menjodohkan putri- putri baginda. Dimenangkan oleh kerajaan Koripan dan Gagelang. Kemudian lahir Sri Hayam Wuruk, yang nantinya bertahta di Majapahit. Adipati Bali, Dalem Ketut Kresna Kepakisan telah wafat, tinggal putra- putra baginda. Ida I Dewa Samprangan, Ida I Dewa Taruk, Ida I Dewa Ketut Ngulesir lahir dari Ni Gusti Ayu Tirta putri Sirarya Gajah Para. Yang bungsu yaitu Ida I Dewa Tegal Besung, lahir dari Ni Gusti Ayu Kutawaringin putri Sirarya Kutawaringin, Ida I Dewa Samprangan menggantikan ayahnya menjadi raja berkedudukan Samprangan. tetapi, kurang mampu memegang tampuk pemerintahan. Kyayi Bendesa Gelgel Klapodyana mencari Ida I Dewa Ketut ke Desa Pandak. Dengan berbagai usaha, sampai-sampai Kyayi Bendesa Klapodyana menyerahkan rumahnya untuk istana raja. Maka, mulailah Kerajaan Gelgel dengan raja Ida I Dewa Ketut bergelar Dalem Ketut Smara Kepakisan. Para Arya yang telah banyak meninggal dunia, jabatan digantikan oleh putra- putranya. Tiga menteri utama, yaitu I Gusti Patandakan, Ki Gusti Pinatih dan Ki Gusti Kubon Tubuh. Di Majapahit diadakan suatu upacara besar- besaran dengan mengundang adipati-adipati di luar Majapahit. dikisahkan perjalanan utusan Majapahit ke tiap- tiap daerah. Diuraikan persidangan raja Bali menerima utusan Majapahit dan merencanakan perjalanan ke Majapahit. Perjalanan Sri Smara Kepakisan ke Majapahit, dengan rombongan di bawah pimpinan Kryan Patandakan, Kryan Penatih dan Kryan Kubon Tubuh. Diuraikan liku- liku perjalanan dengan segala keindahannya. Selama di Majapahit, Sri Smara Kepakisan selalu aktif mengikuti kegiatan- kegiatan yang diadakan. Suatu saat baginda Raja Majapahit menghadiahkan sebilah keris kepada Adipati Bali yang kemudian terkenal dengan nama Ki Bangawan Canggu, karena pada saat kembali ke Bali, keris itu pernah jatuh di Bangawan Canggu, sedang namanya semula adalah Ki Sudamala. Sri Smara Kepakisan diundang oleh Adipati Madura untuk menghadiri upacara yajnya. Baginda sempat singgah di Majapahit, dan memperoleh keterangan dari seorang pendeta yang bernama Çiwa Waringin tentang sebab-musabah runtuhnya Majapahit. Sri Smara Kepakisan wafat setelah disucikan (di-diksa). oleh Mpu Kayu Manis dari Keling, tahun 1882 (=sapangranga dwipak agni surya = 1460 Masehi). Diganti oleh Sri Watu Renggong. Pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong datang Dang Hyang Nirartha ke Bali, bersama anak istrinya. disebutkan pula alasan beliau meninggalkan Brangbangan dan riwayat perjalanannya sampai ke Gelgel. Baginda raja beranjangsana ke Padangbai, Danghyang Nirartha dan Kyayi Dauh Baleagung langsung ke Padangbai. Kesusastraan berkembang baik. Karangan- karangan Dang Hyang Nirartha: Gegutuk Menur, Cara Kusuma, Ampik, Legarang, Mahisa Langit, Darma Pitutur, Mahisa Megat Kung, Darma Putus, Usana Bali, Anyang Nirartha, Wasista Sraya, Sebun Bangkung. Karangan Pangeran Dauh: Rareng Canggu Saha Wilit, Wukir Padelengan, Segara Gunung, Karas Nagara, Jagul Tuwa, Wilet Mayura, Anting- anting Timah. Peristiwa penyerangan ke Brangbangan yang dipimpin oleh Kyayi Ularan, Sri Juru terbunuh. Kemudian Kyayi Ularan pindah ke Patemon. Pada masa jayanya Dalem Watu Renggong, Ida I Dewa Tegal Besung wafat. Tinggal Putra-putranya, yaitu: I Dewa Anggungan, I Dewa Gedong Arta, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan.
Datang seorang utusan untuk mengislamkan baginda raja, bernama Ki Moder, tidak berhasil. Para Menteri terkemuka: Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Pinatih, Kyayi Klapodyana dan para Arya yang lain, semua setia kepada raja menurut jabatan dan tempatnya masing-masing. Dalem Watu Renggong ingin menjadi seorang Pendeta (Begawan), Mengundang Danghyang Angsoka untuk Nabe, beliau tak berkenan, tetapi merestui agar berguru kepada Danghyang Nirartha, tercipta kidung Sarakusuma dan Smara Racana. Kemudian Pendeta Buda Astapaka datang ke Bali, maka di Bali mulai diadakan upacara yajnya api (homa). Semua musuh yang ingin menyerang Bali, utamanya musuh dari luar dapat diusir. Contohnya: pertahanan di Kelahan. Melakukan anjangsana ke daerah-daerah kekuasaannya yaitu Lombok dan Sumbawa, mendirikan padarman di Lingsar. Memberikan piagam penghargaan (prasasti) pada pemuka-pemuka masyarakat. Dalem Watu Renggong wafat tahun 1472 Çaka(= sapranga, pandita, catur, janma), tahun 1550 Masehi. Putra Dalem Watu Renggong: Ida I Dewa Pemahyun dan Ida I Dewa Dimade (Seganing). Diasuh oleh putra I Dewa Tegal Besung yaitu: I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan. I Dewa Pemahyun (Bekung) bertahta menjadi raja dengan patih I Gusti Batan Jeruk. Timbul peristiwa perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh I Gusti Batan Jeruk tampil Kyayi Manginte untuk mempertahankan kerajaan bersama Kyayi Kubon Tubuh dan lain-lain. Kedua putra raja Watu Renggong berhasil diselamatkan oleh I Gusti Kubon Tubuh.

Terjadi pertempuran hebat, I Gusti Batan Jeruk mengalami kekalahan, beliau gugur tahun 1482 Çaka(= bahu, pasa, yoga, bwana)= 1560 Masehi, Ki Gusti Nginte menggantikan menjabat Patih Agung. Kryan Pande, putra Kryan Dauh Bale Agung, yang ikut pada peristiwa I Gusti Batan Jeruk, diampuni oleh Dalem, kemudian berhasil mengalahkan lawan- lawan di Sumbawa dan Tuban. Tampak kelemahan dan ketidakbijaksanaan Dalem Bekung memegang kendali pemerintahan. Dikisahkan tentang Ida Telaga dan saudara- saudaranya, Karangan Ida Telaga; Ender Rangga Wuni, Amerta Masa, Amurwa Tembang, Patol, Wilit Sih Tan Pegat, Rareng Taman, Rara Kaduri, Kebo Dungkul, Caruk Mirta Masa, Kakangsen, Tepas. Peristiwa terbunuhnya I Gusti Telabah, yang mengakibatkan gugurnya Ki Gusti Pande dan kawan-kawan. Tercipta kidung Arjuna Pralabda. Ki Gusti Jelantik dikirim untuk menyerang Pasuruhan. Beliau gugur dalam pertempuran tanpa senjata. kemudian lahir putranya, diberi nama I Gusti Jelantik Bogol. Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Anom Seganing. Keamanan pulih kembali. Sasak dikuasai lagi pada tahun Çaka 1547, Sumbawa tahun Çaka 1552. Ki Gusti Pinatih mengadakan perlawanan pada raja, dapat diatasi oleh Ki Gusti Agung Widya (Patih). Putra-putra Dalem Seganing 16 orang: Ida I Dewa Anom Pemahyun, Ida I Dewa Dimade, Ida I Dewa Rani Gowang, I Dewa Karangasem dan lain-lain. Pernikahan Ida I Dewa Anom Pemahyun (putra sulung Dalem Seganing) dengan Sri Dewi Pemahyun (putri tunggal Dalem Bekung), melahirkan Ida I Dewa Anom Pemahyun dan Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade, Ida I Dewa Anom Pemahyun menjemput Dalem Bekung. ke Purasi agar kembali ke Gelgel. Tahun Çaka 1572 Kyayi Lurah Singarsa menghadap Dalem Seganing, memohon agar cucu baginda berkenan menerima putrinya sebagai: permaisuri, Ida I Dewa Anom Pemahyun (putra Dalem Seganing) sebagai penguasa daerah Singarsa (Sidemen) dengan Bagawanta Mpu Sukaton (Ida Pedanda Wayahan Buruan). Dalem Seganing wafat tahun Çaka 1517. Digantikan oleh putra yang sulung yaitu Ida I Dewa Anom Pemahyun. Terjadi perebutan kekuasaan, Ida I Dewa Anom Pemahyun pindah ke Purasi. Tahta kerajaan digantikan oleh adiknya Ida I Dewa Dimade (Dalem Dimade) dengan patih Kryan Agung Maruti Dimade, Ida I Dewa Anon Pemahyun serta putranya yaitu Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade bermukim di Purasi. Sempat menyebarkan para Arya dan Pasek ke desa- desa untuk mengaturnya. Kemudian, baginda pindah ke Tambega (Desa Ababi ) Pedanda Sakti Peling, pindah dari Gelgel ke Ulah Desa Sidemen. Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade pindah dari Tambega ke Sidemen, menikah dengan I Gusti Ayu Sapuh Jagat, berputra Ida I Dewa Agung Gde Ngurah dan Ida I Dewa Agung Ayu Gde Raka Pemahyun. Barang- barang pusaka, keris Ki Sudamala, dan lain-lain semua dibawa ke Sidemen. Terjadi perebutan kekuasaan di Gelgel, Dalem pindah ke Guliang, kekuasaan dipegang oleh Kryan Agung Maruti. Kryan Agung Maruti hendak menggempur Sidemen, tetapi gagal. Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade berusaha mengadakan pendekatan dengan putra-putra Dalem Dimade di Guliang. Utusan berkali-kali dilakukan oleh Kyayi Lurah Sidemen Cerawis. Kemudian Ida I Dewa Agung Jambe, pindah dari Guliang ke Sidemen dan bermukim di Ulah bersama dengan kemenakan baginda yaitu Ida I Dewa Agung Gde Ngurah. Mengadakan permusyawaratan untuk menyerang Kryan Agung Maruti di Gelgel. Kemudian penyerangan dilanjutkan, dan Gelgel (Kryan Maruti) dapat ditaklukkan pada tahun Çaka 1626. Ida I Dewa Agung Jambe bertahta di Smarajaya (Klungkung) raja pertama. Ida I Dewa Agung Gde Ngurah dilantik sebagai penguasa daerah Singarsa berkedudukan di Sidemen.

Nama/ Judul Babad :
Babad Dalem
Nomor/ kode :
 
Koleksi :
Ida I Dewa Made Oka
Alamat :
Jro Kanginan, Sidemen, Karangasem
Bahasa :
Jawa Kuna
Huruf :
Bali
Jumlah halaman :
155 lembar.
Ditulis oleh :
 
Colophon/ Tahun :
 
Kalimat awal :
Ong Awighnam Astu
Kalimat akhir :
ardha rajya manut ing kinandhaning Kaprabon. Puput,