Babad Dalem (versi 4)
 
Isi Singkat Babad Dalem

Kata pendahuluan penulis, dengan memanjatkan doa ke hadapan Hyang Maha Kuasa agar karyanya berhasil, dan memohon agar panjang umur serta kesentosaan sampai turun-temurun. Diceritakan riwayat raja Bali yang garang, lahirnya Sri Masula- Masuli, sampai dengan takluknya Bali oleh Majapahit, tertawannya Ki Pasung Grigis. Sri Maharaja Kepakisan sebagai raja Bali, dibantu oleh para Arya: Kanuruhan, Wangbang, Kenceng, Dalancang, Belog, Pangalasan, Manguri, Kutawaringin, Gajah Para. Pulau Bali belum aman, terjadi pemberontakan-pemberontakan di desa-desa. Raja Bali menerima anugrah pakaian kebesaran dan keris Ki Lobar dari Mahapatih Gajah Mada. Setelah wafat Sri Kala Gemet di Majapahit diselenggarakan sejenis sayembara untuk memperoleh suami putri-putrinya. Kemudian lahir Sri Hayam Wuruk (Jhayattular, Smara Kajantaka). Diceritakan juga riwayat meninggalnya Maha Patih Gajah Mada di tengah- tengah samudra. Sri Maharaja Kepakisan telah wafat. Putranya 3 orang. Yang menggantikan adalah Dalem Samprangan (putra sulung) tidak mampu mengendalikan pemerintahan. I Gusti Bendesa Klapodyana (De Ngurah Abian Tubuh) mencari Dalem Ketut Ngulesir dan dinobatkan menjadi raja berkedudukan di Gelgel. Kyayi Klapodyana mempersembahkan rumahnya untuk istana. Pada masa pemerintahan Sri Hayam Wuruk di Majapahit, diselenggarakan yajnya besar-besaran dengan mengundang raja-raja dari luar Majapahit. Sri Smara Kepakisan (Ngulesir) hendak menghadiri undangan upacara/ yajnya itu. Berangkat dengan tata cara kebesaran diiringkan oleh pejabat- pejabat teras/ tinggi, dengan pimpinan I Gusti Kubon Tubuh. Diuraikan tentang perjalanan rombongan raja Bali keindahan alam yang melatari perjalanan tersebut. Akhirnya tiba di Majapahit. Dilanjutkan dengan kisah suatu persidangan para raja, di mana raja Bali menjadi kekaguman para hadirin. Khusus kepada raja Bali, baginda raja Hayam Wuruk menghadiahkan keris Ki Bangawan Canggu dan pakaian kebesaran, setelah baginda menyaksikan tanda hitam (seperti tattoo) berbentuk gambar "Caurri", pada paha raja Bali kemudian raja-raja dari luar Majapahit kembali ke daerahnya masing-masing. Secara singkat dituturkan pula bahwa Kerajaan Majapahit mengalami kehancuran. Baginda raja Bali menghadiri undangan ke Madura. Mampir ke Majapahit, beliau mendapat penjelasan seorang pendeta bernama Çiwa Waringin tentang sebab musabab runtuhnya kerajaan Majapahit. Dilanjutkan rencana raja Bali untuk melakukan "Podgala". Mengundang pendeta dari Keling bernama Jangganing Kayu Manis untuk "Nabe". Suatu kisah permohonan Kyayi Nyuhaya untuk membunuh Kyayi Gusti Abian Tubuh karena terjadi salah paham yang diakibatkan oleh perkawinan dengan Kyayi Gusti Abian Tubuh dengan I Gusti Ayu Adi, kakak kandung Kyayi Nyuhaya. Pertikaian itu, diselesaikan dengan cermat oleh raja Sri Smara Kepakisan, tercipta kekeluargaan yang terjalin akrab antara mereka. Menyusul pengacauan harimau hitam di Blambangan, Raja Bali mengutus Kyayi Kubon Tubuh yakni untuk menumpasnya, harimau itu dapat dibunuh oleh Kyayi Kubon Tubuh. Kemudian raja Bali menghadiahkan "Piagam" dan Pura Dalem Tlugu, kepada Kyayi Gusti Kubon Tubuh, dan sebilah sumpitan bernama Ki Macan Guguh. Baginda raja Sri Smara Kepakisan wafat, diganti oleh putranya yang sulung Dalem Waturenggong. Para menteri yang telah tiada, diganti oleh putra-putranya.

Diceritakan riwayat perpindahan Danghyang Nirartha sampai ke Bali, bermukim di Gadingwani, dan di Desa Mas. Raja Bali Dalem Waturenggong mengutus Ki Gusti Dawuh Panulisan untuk menjemput Danghyang Nirartha ke Mas. Ki Dawuh Panulisan (Baleagung ) pujangga yang banyak karangannya, di antaranya Wukir Padelengan, dan lain- lain. Peristiwa peperangan di Brangbangan (Blambangan), yang dipimpin oleh Kyayi Ularan, karena lamaran raja Bali ditolak oleh Adipati Banyuwangi. Berakhir dengan pindahnya Kyayi Ularan dan bermukim di Desa Patemon. Dan Bali menguasai daerah-daerah sebelah timur Puger tahun Çaka 1434 (siyu samas tigang dasa papat). Dalem ingin melaksanakan upacara Podgala dan menobatkan Nabe kepada Danghyang Angsoka. Namun akhirnya menobatkan Nabe kepada Danghyang Nirartha. Tercipta kidung Smara Racana dan Sara Kusuma. Secara singkat diceriterakan datangnya Mpu Astapaka ke Bali. Negara aman dan makmur di bawah raja Waturenggong dengan patihnya Kryan Batan Jeruk. Kesusastraan maju dengan pesat. Raja Dalem Waturenggong wafat, diganti oleh putranya yang sulung yaitu I Dewa Pembayun (Bekung). Dalem Bekung dan Dalem Seganing diasuh oleh paman-pamannya: I Dewa Gedong Arta dan adik-adiknya, yaitu putra dari Sri Aji Tegal Besung. Sri Aji Tegal Besung pada adalah putra bungsu dari Dalem Wawu Rawuh (yang pertama di Bali). Peristiwa perang hebat di Gelgel di satu pihak dipimpin oleh I Gusti Batan Jeruk, dan di pihak lain dipimpin oleh Kyayi Nginte, Kyayi Kubon Tubuh dan lain-lain. Berakhir dengan gugurnya I Gusti Batan Jeruk. Kyayi Nginte menjabat Patih, Dalem Seganing sebagai raja muda. Kryan Pande, mendapat pengampunan kemudian menjadi andalan kerajaan. Sebelum Danghyang Nirartha berpulang, sempat bernasehat kepada para putranya. Pemerintahan kurang stabil karena Dalem Bekung sangat lemah. Akhirnya timbul peristiwa sampai gugurnya I Gusti Pande Çaka 1500 (sawang, sunia, panca, dewa) yang diawali dengan terbunuhnya I Gusti Telabah. Tercipta kidung Arjuna Pragalba. Kemudian Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Seganing. Ki Gusti Jelantik diutus untuk menyerang Pasuruhan. Beliau gugur di medan laga, tanpa senjata sebilah pun, Kemudian istrinya melahirkan putra diberi nama I Gusti Jlantik Bogol. Kryan Nginte wafat diganti oleh putra-putranya, I Gusti Agung Widya dan I Gusti Kaler Prandawa. Selanjutnya dicatat pula para putranya, sampai lahirnya I Gusti Mambal. Dalem Seganing banyak istri dan anak-anak. Antara lain I Dewa Dimade, I Dewa Anom Kaler dan lain-lainnya (14 orang) Dalem Seganing wafat tahun Çaka 1587. Digantikan oleh I Dewa Dimade yang menikah dengan Ni Gusti Selat putri Ki Gusti Kamasan. Dan beberapa orang istri yang lain. Patih baginda ialah Kyayi Kedung dan Kyayi Panida. Dilanjutkan dengan silsilah keturunan Kryan Nginte. Diuraikan pula secara singkat keturunan para Arya (Jawa) yang telah menetap di Bali. I Gusti Ngurah Mambal menderita penyakit mata. Kemudian sembuh oleh Ida Manuaba. Ida Manuaba mengarang Bali Sanghara. Dituturkan pula, tentang kemahiran ilmu Ida Manuaba. Disinggung tentang silsilah keturunan I Gusti Lurah Sidemen, semula Arya Wangbang berputra Ki Gusti Tulus Aya dan Sri Banyak Wide (yang menurunkan Pinatih). Kisah De Ngurah Batan Nyuh (Ki Jumbuh), diangkat sebagai Anglurah. Riwayat ringkas keris-keris kebanggaan raja, Si Bangawan Canggu, Si Lobar, dan lain-lain. Diuraikan bahwa Dang Hyang Aji Rembat, berputra Ki Dukuh Suladri. Ki Dukuh Suladri kedatangan seorang kanak-kanak pria, kemudian diangkat menjadi menantu. Seorang putri Ki Dukuh menjadi istri Dalem (raja). Putri Ki Dukuh yang bersuamikan pendatang berputra pria dan istri raja berputra wanita. Kemudian lahirlah Pungakan Den Bancingah. Uraian tentang suasana kerajaan pada suatu hari bulan hidup (purnama). Raja dengan pakaian kebesaran dihadap oleh para Arya, menteri dan warga baginda. Pada permusyawarahan itu, diputuskan untuk menyerang Pasuruhan dipimpin oleh Anglurah Agung. Kyayi Tabanan dan Pacung. Di Gelgel terjadi perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh Anglurah Agung. Dalem Dimade mengungsi ke Guliang. Akhirnya putra Dalem Dimade dibantu oleh Singarsa, Badung dan Bukit (Buleleng) berhasil merebut kembali kerajaan Gelgel dari tangan Anglurah Agung. Raja tidak berkedudukan di Gelgel lagi, tetapi di Smarajaya (Klungkung) sebagai awal kerajaan Klungkung.

Nama/ Judul Babad :
Babad Dalem
Nomor/ kode :
 
Koleksi :
I Gusti Lanang Mantra
Alamat :
Sindu, Sidemen, Karangasem
Bahasa :
Jawa Kuna
Huruf :
Bali
Jumlah halaman :
 
Ditulis oleh :
 
Colophon/ Tahun :
 
Kalimat awal :
Awighnam astu. Pangaksama ni nghulun ...
Kalimat akhir :
Senungakna nugraha mungbwinm surat Piyagem. Telas.