Babad Dalem (versi 5)
 
Isi Singkat Babad Dalem

Kata pendahuluan penulis (pangaksama). Kisah jaman Bali kuna (Raja Raksasa), di Kerajaan Bedahulu, dapat ditaklukkan oleh Majapahit berkat daya upaya Kryan Patih Gajah Mada, Raja bernama Topahulung dan patihnya Ki Pasung Grigis, Kebo Waruya, dan lain- lain, Majapahit menempatkan seorang Adipati untuk berkuasa di Bali, bernama Sri Maha Raja Kepakisan, dibantu oleh para Arya. Terjadi pemberontakan- pemberontakan di desa - desa Aga, seperti Batur, Cempaga, dan lain-lain. Raja Bali hampir kembali ke Jawa. Gajah Mada tidak memperkenankannya, serta mengirimkan keris Ki Lobar, dengan pesan agar bertahan dengan segala upaya di Bali. Di Majapahit, terjadi pergantian pemimpin, sampai puncak kebesaran di bawah Prabu Hayam Wuruk. Disusul dengan meninggalnya Maha Patih Gajah Mada. Raja I Bali telah wafat. diganti oleh putranya bernama I Dewa Samprangan. namun tidak mampu mengendalikan pemerintahan. De Bendesa Kubon Tubuh (I Gusti Klapodyana) mencari Ida I Dewa Ketut ke Pandak, dijadikan raja berkedudukan di Gelgel, bergelar Sri Smara Kepakisan. Mulai dengan kerajaan Gelgel. Riwayat Sri Aji Smara Kepakisan pergi ke Majapahit dengan tata kebesaran untuk menghadiri undangan Sri Hayam Wuruk, Menerima sebilah keris yang bernama Nagapasa (Ki Bangawan Canggu). selama sebulan di Majapahit, kemudian beliau kembali ke Bali. juga Sri Smara Kepakisan berkenan menghadiri undangan Adipati Madura dalam rangkaian upacara "Pitra Yajnya". Lama kemudian, Sri Smara Kepakisan hendak disucikan sebagai seorang Begawan mengundang brahmana dari Keling. Dengan berbagai cobaan dan ujian Sang Brahmana bisa tiba di Gelgel dan upacara dapat dilaksanakan. Baginda digantikan oleh putra sulung, bernama Sri Watu Renggong. Riwayat Danghyang Nirartha dan putra-putranya sampai dengan pindah ke pulau Bali. Dan setelah berada di pulau Bali, mengalami beberapa peristiwa, sampai kemudian beliau dijemput oleh Kyayi Dauh Panulisan atas perintah Dalem Watu Renggong dan selanjutnya Danghyang Nirartha menjadi pendamping Dalem. Selanjutnya terjadi penyerangan ke Brangbangan di bawah pimpinan Patih Ularan, dengan sebab Dalem ditolak oleh Sri Juru dengan. cara menghinakan dalam fitnah. Sri Juru kalah, namun patih Ularan menerima ganjaran karena dianggap tidak menepati perintah Dalem, selanjutnya Patih Ularan meninggalkan daerah Gelgel. Dalem Watu Renggong hendak berguru (Nabe) pada Danghyang Angsoka di Jawa, namun Danghyang Angsoka memberikan mandat kepada adiknya, Danghyang Nirartha. Saat itu tercipta Smara Racana oleh Danghyang Angsoka dan Sarakusuma oleh Danghyang Nirartha. Kemudian Dalem Watu Renggong di-diksa oleh Danghyang Nirartha. Pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong datang ke Bali seorang pendeta Buddha bernama Mpu Astapaka, dilukiskan pemerintahan Dalem Watu Renggong amat baik, keamanan terjamin, kebudayaan terutama seni dan sastra berkembang dengan baik dan pesat, musuh-musuh dari luar tidak mampu .menyerang Bali. Juga misi agama Islam, tidak bisa dan tidak mampu mengislamkan Bali, Kemudian Dalem Waturenggong diganti oleh I Dewa Pemahyun didampingi oleh paman- paman baginda yaitu putra I Dewa Tegal Besung.

Terjadi kemelut dalam pemerintahan Dalem Pemahyun, ditandai dengan perebutan kekuasaan oleh patih I Gusti Batan Jeruk, Kyayi Batan Jeruk sebutan lainnya. Mpu Astapaka berusaha menyadarkan Kyayi Batan Jeruk, namun sia-sia. Akhirnya Kyayi Batan Jeruk menderita kekalahan, karena bersatunya rakyat, para Arya, dan pemuka- pemuka di bawah pimpinan Pangeran Nginte dan I Gusti Kubon Tubuh. Sanak I Gusti Batan Jeruk, semuanya meninggalkan Gelgel. I Gusti Pande memohon ampun kepada Dalem dengan perantaraan Pangeran Nginte. Kemudian I Gusti Pande menjadi orang kepercayaan Dalem dan berkali-kali mengalami keunggulan. Antara lain, di Sumbawa dan di Kuta. Nasehat Danghyang Nirartha kepada anak cucu beliau, menyarankan agar masing-masing menegakkan kebenaran kependetaan dan agar semua bernabe pada Ida Wayan Kilen (Pedanda Sakti Kemenuh). Hanya Ida Telaga tidak berkenan mengikuti saran- saran itu, hingga terjadi percakapan keras antara Ida Telaga dengan kakaknya. Dicatat pula buah pena Danghyang Nirartha dan putra-putranya. Pemerintahan I Dewa Pemahyun sangat lemah. akhirnya terjadi peristiwa perlawanan antara pihak Dalem dan I Gusti Pande, dengan lantaran terbunuhnya I Gusti Telabah. sesudahnya I Gusti Pande dan putra- putranya gugur dalam pertikaian senjata, tahun Çaka 1500 (suwung sunia panca dewa). I Gusti Dawuh Bale Agung mencipta kidung Arjuna Pralabda. Terjadi dialog antara Kryan Manguri Wiweka (Kyayi Brangsinga) dengan Ki Gusti Pring, tentang ilmu kedyatmikaan (kamoksan). Dalem mengirim pasukan di bawah pimpinan I Gusti Jelantik untuk menyerang Blangbangan. Ki Gusti Jelantik gugur di medan laga untuk melepaskan leluhurnya dari cengkraman sengsara. Kemudian lahir putra Ki Gusti Jelantik, diberi nama Ki Gusti Jelantik Bogol. Setelah wafat Dalem Bekung, pemerintahan sepenuhnya dipegang oleh Dalem Seganing. Patih baginda adalah I Gusti Agung dan I Gusti Kaler (putra-putra Pangeran Nginte). Terjadi percobaan perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh I Gusti Pinatih, dapat ditundukkan oleh I Gusti Agung. Dalem Seganing banyak istri dan putranya. Setelah I Gusti Agung dan I Gusti Kaler meninggal, jabatan patih digantikan oleh putra-putranya, antara lain I Gusti Agung Bekung. Beliau mengangkat putra I Gusti Kalang Anyar sebagai anak angkat bernama I Gusti Agung Dimade yang kemudian menggantikan sebagai patih. Setelah Dalem Seganing wafat, digantikan oleh putranya , yang bernama Dalem Dimade, dengan patih I Gusti Agung Dimade. diuraikan silsilah keturunan Pangeran Nginte. I Gusti Mambal hendak terjun ke laut dicegah oleh Dalem Dimade. Dilanjutkan dengan percakapan antara I Gusti Mambal dengan Pedanda Manuaba, ketika. I Gusti Mambal menderita penyakit mata. Kemudian bisa sembuh oleh. Pedanda Manuaba. Juga I Gusti Mambal pernah dikejutkan oleh Ida Telaga. Dalem. merasa tersinggung atas karangan Pedanda Manuaba,. yang berjudul Bali-Sanghara. Namun setelah memperoleh penjelasan, akhirnya Dalem, memberikan hadiah 20.000. Diuraikan tentang kesaktian Ida Telaga, dalam berbagai peristiwa, demikian pula kesaktian Ida Pedanda Manuaba. tersebut peristiwa terbunuhnya I Gusti Yang Taluh dan dikaitkan dengan silsilah keturunan I Gusti Sidemen Dimade dimulai dengan Sang Arya Wangbang. Percakapan De Ngurah Batan Nyuh (Ki Jumbuh) dengan Ki Gusti Pinatih Perot. Sampai dengan Ki Jumbuh menjadi Anglurah. Diuraikan riwayat keris- keris pusaka yang ada di istana, antara lain Ganja Dungkul, Lobar, Bangawan Canggu dan lain-lain. menyelenggarakan suatu persidangan yang lengkap dihadiri oleh para ksatria, brahmana, para arya dan pemuka- pemuka masyarakat. Diuraikan tatacara dan -percakapan dalam persidangan itu. Satu keputusan yang penting ialah: mengirim pasukan untuk menggempur Pasuruhan, membantu . Blangbangan, dipimpin oleh Ki Gusti Tabanan. Riwayat burung gagak yang selalu mengganggu santapan Dalem. Dapat dibunuh oleh putra Ki Pucangan, Ki Pucangan menerima hadiah rakyat 500 perindukan. Riwayat Ki Dukuh Suladri secara panjang lebar, sampai dengan lahirnya Pungakan Den Bancingah. Di Kerajaan Gelgel terjadi kemelut, perebutan kekuasaan oleh, Patih I Gusti Agung Dimade. Dalem Dimade melarikan diri ke Guliang. Kemudian putra Dalem yang bernama I Dewa Agung Jambe pindah ke Sidemen. Dari sana merencanakan untuk mengadakan serangan balasan. Kerajaan Gelgel dapat direbut kembali. Namun, setelah baginda memegang tampuk pemerintahan, pusat pemerintahan berkedudukan di Smarajaya (Klungkung), inilah lembaran baru Kerajaan Klungkung. Colophon:

Nama/ Judul Babad :
Babad Dalem
Nomor/ kode :
 
Koleksi :
I Gusti Gede Sangka.
Alamat :
Jerowan Tangeb, Mengwi, kecamatan Mengwi, Badung.
Bahasa :
Jawa Kuna.
Huruf :
Bali
Jumlah halaman :
75 lembar
Ditulis oleh :
 
Colophon/ Tahun :
Selesai ditulis pada hari Jumat Paing, Wara Pahang, tanggal (bulan hidup) ke-6, sasih ke-7 ( Januari) rah 9, tenggek 5, Çaka 1859 (1937 Masehi).
Kalimat awal :
Awighnam Astu Wigraha. Pangaksama ninghulun ri pada Hyang mami....
Kalimat akhir :
Sang Mantri mwang ksatria, makadi brahmana, mwang bhujangga, boddha tekaning tapa, mwang Bala, tar nana korup.
Puput sinurat ring dina: Su, Pa, Wara Pahang. tanggal 6, sasih 7, rah 9, tenggek 5, Isaka 1859