Babad Usana Bali
 
Isi Singkat Babad Usana Bali

Diceriterakan Bhatara Mahadewa beryoga, datanglah putranya seorang yang bernama Bhatara Gana dan yang perempuan bernama Bhatari Manik Geni.
Kedua putranya ini pulang ke gunung Mahameru.
Sesampainya di Gunung Mahameru Bhatari Manik Geni diambil oleh Mpu Gnijaya seorang Brahmana.
Dengan demikian adanya Pulau Bali yang diperintah oleh Gnijaya bersama Bhatara Putrajaya serta berstana di Gunung Watukaru. Kemudian ketika tahta Sri Aji Herlangga di Kerajaan Daha, datanglah Mpu Gnijaya bersama Mpu Mahameru, Mpu Gana dan Mpu Kuturan atas petunjuk dari Bhatara, Pasupati di Besakih, Dan Mpu Mahameru turun ke Besakih pada Isaka 912.
Mpu Kuturan turun ke Bali pada Isaka 922 Buda Kliwon Pahang.
Mpu Pradah bertempat di Pajarakan.
Diceriterakan Mpu Gnijaya berputra tujuh orang lahir dari Dewi Manik Geni.
Putranya itu bernama Mpu Ketek, Mpu Kanandha, Mpu Wirajnyana, Mpu Witadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka dan Mpu Dangka.
Mpu Pradah berputra dua orang yang bernama Mpu Çiwagandhu dan Mpu Bahula.
Mpu Ketek kawin dengan putri Arya Padang Subadra, dan menurunkan Sanghyang Pamaca.
Mpu Pananda kawin dengan putri Mpu Sweta Wijaya berputra Mpu Swetawijaya.
Mpu Wiranjana kawin dengan anak Mpu Panataran dan melahirkan Mpu Wiranata.
Mpu Wiradharma kawin dengan anak Mpu Dharmaja menurunkan Mpu Wiradharma.
Mpu Ragarunting kawin dengan anak Mpu Tanakung, menurunkan Mpu Wirarunting.
Mpu Prateka kawin dengan anak Mpu Pasuruan melahirkan Mpu Prateka Yajnya.
Mpu Danka kawin dengan anak Mpu Sumedang melahirkan Mpu Wiradangka.
Kesemuanya ini disebut Sanak Pitu.
Kemudian Mpu Bahula kawin dengan putri dari Walunatha di Dirah yang bernama Dewi Ratna Manggali menurunkan Ni Dewi Smaranika, Ni Dewi Ajnyani, Ni Dewi Merta Manggali.
Mpu Çiwagandhu kawin dengan anak Mpu Wiraraga menurunkan Mpu Witaraga, Dewi Ratna Sumeru, Dewi Girinatha, Dewi Patnidewi. Sedangkan Mpu Pradah tinggal di Silayukti, datanglah Mpu Kuturan menyambut dengan perasaan haru karena kedatangan beliau ke Silayukti ini menaiki Kapukapu.
Ajaran Mpu Pradah bernama Kuranta Siksa, dan Sanghyang Siddhi Wakbajra.
Karena ilmu beliau sangat dalam, maka banyak mendapat cobaan-cobaan seperti Naga, burung gagak putih dan sebagainya. Setelah itu Mpu Kuturan menuju Besakih dengan melalui Padang, dan Desa Gelgel.
Mpu Sang Kulputih adalah putra dari Mpu Swetawijaya dan cucu dari Mpu Bahula.
Kemudian Mpu Wiranata kawin dengan anak Mpu Bahula yang bernama Dewi Mertamanggali serta menurunkan Mpu Purwa Nata dan Ni Ayu Wetan, Ni Ayu Tirtha.
Mpu Wiradharma kawin dengan Ni Dewi Girinatha melahirkan Mpu Lampita, Mpu Pananda dan Mpu Pastika.
Dan Mpu Dangkya kawin dengan Dewi Sukerti menurunkan Sang Wira Kadangkan, Ni Dangki, Ni Dangka.
Diceriterakan Sang Kulputih kawin dengan Ni Ayu Sadra melahirkan Sang, Kulputih.
Juga Mpu Wiranata menurunkan Mpu Purwa, Mpu Lampita melahirkan Mpu Wijaksara.
Kemudian disebutkan pemerintahan Sri Aji Dangdang Gendis di Daha, sangat bijaksana, beliau mengerahkan semua para Mpu membuat senjata.
Bagi para Mpu yang tidak bisa menuruti kehendak Sang Aji Dangdang Gendis, minggat ke Tumapel dan ke Pasuruan.
Yang pindah ke Tumapel adalah Mpu Swetawijaya, Sanghyang Pamaca, Mpu Wiranata, Mpu Wiradharma, Mpu Paramadaksa, Mpu Pratekayajnya, Mpu Wiradangka.
Ketika pemerintahan Sri Aji Tunggul Ametung di Tumapel, Sira Angrok mengambil alih pemerintahan serta memperistri Ken Dedes.
Ken Angrok setelah bertahta di Tumapel bergelar Sri Nusapati.
Pada saat pemerintahan Prabu Harsawijaya di Wilatikta, di mana putra dari Sri Kalagemet yang bernama Patih Mada, Sirarya Damar diangkat menjadi Patih di Wilatikta.
Diceriterakan kehancuran dari Sri Bedamuka di Bedahulu yang angkuh diupayakan oleh Kryan Mada.
Setelah meninggalnya Sri Bedamuka, Parhyangan- parhyangan diperbaiki serta upacara- upacara dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Mpu Dwijaksara membangun taman di Gelgel dan diberi nama Taman Bagendha.
Kemudian Sang Kulputih turun ke Bali bersama pengiringnya yang bernama I Guto.
I Guto inilah yang menurunkan Sengguhu.
Putra dari Sang Kulputih adalah Arya Kapasekan.
Anak Arya Kapasekan bernama Sang Kulputih dan Ni Swani.
Mpu Purwa menurunkan Arya Tatar dan Ni Swareka, .
Sang Prateka Menurunkan Gusti Pasek Prateka.
Kemudian Patih Hulung kawin dengan Ni Ayu Prateka menurunkan Ki Gusti Smaranatha.
Ki Gusti Agung Subadra adalah anak dari Arya Kapasekan dengan Ni Ayu Swareka.
Juga Arya Pamacekan kawin dengan saudara dari I Gusti Pasek yang bernama Ni Gusti Luh Pasek menurunkan I Gusti Bandesa Kaywan.
Dan Arya Tutuwan kawin dengan anak dari Arya Pamacekan melahirkan De Pasek Tutuan, De Lurah Pasek Kubayan dan De Pasek Salahin, Ki Pasek Prateka kawin dengan Ni Swaranika menurunkan De Pasek Prateka, De Pasek Kubakal, dan Ni Ayu Prateka.
Keturunan dari Patih Ulung inilah yang memerintah di Bali.

Diceriterakan mulai Çaka 1512 Danghyang Kepakisan memerintah di Jawa. Ada putranya yang bernama Sri Aji Juru memerintah di Blangbangan, Sri Bhimacili memerintah di Pasuruan, dan seorang memerintah di Palembang serta yang paling kecil memerintah di Wilatikta.
Diceriterakan I Gusti Tangkas keturunan dari Arya Kanuruhan, diberikan wilayah di Badung.
Ada seorang putranya yang bernama I Gusti Tangkas Dimade.
Tetapi malang I Gusti Tangkas Dimade, terbunuh oleh orang tuanya, atas surat perintah dari Dalem.
Setelah meninggal putra yaitu, Ki Tangkas dipanggil ke Gelgel menghadap kepada Dalem.
Dalem sangat menyesal atas terbunuhnya Gusti Tangkas Dimade.
Maka dari itu Dalem menyerahkan putranya sebagai pengganti yang bernama Pangeran Tangkas Koriagung.
Putri dari Pangeran Mas yang bernama Ni Gusti Luh Kayumas diambil oleh Pangeran Tangkas Koriagung berputra I Gusti Bandesa Tangkas Koriagung.
I Gusti Bandesa Mas mengambil istri di Manik Hyang menurunkan I Gusti Bandesa Manikan, Kiyai Rareangon kawin dengan Ni Luh Made Manik berputra Kiyai Pasek dan Ni Luh Gelgel, I Gusti Agung Subadra menurunkan Pangeran Toh Jiwa dan I Gusti Padang Subadra.
I Gusti Agung Pasek Gelgel kawin dengan Ni Luh Pasek lahirlah De Pasek Gelgel dan De Pasek Denpasar.
Diceriterakan Sri Aji Herlangga, suatu ketika berburu ke tengah hutan tetapi tidak menemui binatang buruan seekor pun, tetapi beliau bertemu dengan seorang gadis, berambut keriting yang bernama Si Rara Barak, Prabu Erlangga kawin dengan Si Rara Barak dan dari perkawinan ini lahirlah Arya Buru.
Arya Buru kemudian mempunyai putra seorang yang bernama Sirarya Timbul, Sirarya Timbul menurunkan Ni Gunaraksa.
Sirarya Timbul bersama putrinya pergi ke Bali (Gelgel).
Ida Dalem memberikan tempat Sirarya Timbul di Desa Bukit Buluh. Ni Gunaraksa diambil oleh I Gusti Ngurah Tutuwan, dengan perjanjian bila mana Sirarya Buru meninggal agar mau Ngurah Tutuan menyembahnya.
I Gusti Smaranatha bersama para keluarganya membicarakan tentang I Ngurah Tutuan menyembah mertuanya turunan dari Ni Berit. Kemudian Pangeran Tohjiwa memutuskan hubungan dengan Ngurah Tutuan dan karena itu adanya Bale Pegat.
Kemudian I Gusti Bandesa Tangkas Kori agung kawin dengan adik dari I Gusti Pasek Agung Gelgel serta melahirkan Ni Gusti Luh Tangkas.
Sri Maharaja Kapakisan bersama warga Pasek sekalian menghadap Dalem Samprangan karena di Samprangan lah pusat leluhurnya yang pertama.
Di situlah para Pasek dibagikan tugas masing-masing seperti:
Pasek Prateka bertugas menyelenggarakan segala pekerjaan Dalem,
Pasek Padang Subadra bertugas memangku Sad Kahyangan,
Pasek Tatar bertugas membuatkan dasar parhyangan,
Pasek Kubakal bertugas di bidang perbatasan,
Ki Pasek Salahin, Kubayan memegang Baleagung, Pasek Tohjiwa menjadi bala tentara.
Ki Pasek Gaduh membuat daya upaya,
Ki Pasek Ngukuhin sebagai beteng pertahanan.
Adalah Gurun De Pasek Togog adik dari Pasek Gelgel yang tinggal di Muntig, Besakih telah memegang kependetaan.
Beliau ini ahli di bidang upacara upakara, ajaran ajaran kamoksan.
Kemudian beliau mempunyai tiga orang putra yang berguru (nabe) Dukuh Ambengan, De Dukuh Subudi, De Dukuh Bunga.
De Dukuh Ambengan beryoga di tengah Alang alang bernama Badeg Dukuh, beliau ini menurunkan Dukuh Prawangsa.
Keturunan dari Pasek Tohjiwa bernama Pasek Titi, Pasek Penatahan, Pasek Antasari, Pasek Galahukir, Pasek Lalanglinggah, Pasek Basang Alas, Pasek Bleda, Pasek Swanagari, Pasek Pajahan, Pasek Bantiran, Pasek Kederan, Pasek Marga adalah masuk Warga Gelgel.
Keluarga dari Pasek Prateka adalah Pasek Akah, Pasek Nongan, Pasek Rendang dan Pasek Pasabhan.
Anak dari Pasek Salahin di Tohjiwa bernama Pasek Kubayan menyebar ke desa desa menjadi Pasek Wangaya, Pasek Penebel.
Kemudian Bandesa Tangkas Koriagung memegang desa setelah pindah dari Gelgel menjadi Bandesa Muncan, Bandesa Sibetan, Bandesa Prasi, Bandesa Bugbug, Bandesa Sangkidu, Bandesa Subagan, Bandesa Sibetan, Bandesa Timbrah Bandesa Babi, dan Bandesa Tumbu.
Dalem Ketut Babotoh bertempat di Puri Gelgel, dan menurunkan Dalem Waturenggong, dan Dalem Tegalbesung.
Dalem Waturenggong berputra Dalem Pamayun, Dalem Anom Dimade.
Ida Padanda Gede Made Pinatih kawin dengan putri Ki Dukuh Juntal dan lahirlah Ki Pasek Dukuh Jungutan, Pasek Bahingin, Pasek Dukuh Jungutan tinggal di Kubu, Pasek Bingin tinggal dl Juntai.
Sang Kulputih setelah lama memangku di Besakih ahli dalam tata para Dewa, upacara dan mantram mantram.
Beliau mempunyai putra bernama Mpu Sora.
Setelah itu beliau moksa tanpa bekas.
Sebelum beliau moksa, sempat juga meninggalkan tata upacara dan upakara serta ageman atau pegangan bagi para Pemangku.
Disebutkan nama para dewa, nama parhyangan di seluruh penjuru Pulau Bali yang merupakan tempat pemujaan seluruh amat Hindu.

Nama/ Judul Babad :
Babad Usana Bali
Nomor/ kode :
Va.4761, Gedong Kirtya, Singaraja
Koleksi :
Geria Karang, Sidemen,
Alamat :
Kecamatan Amlapura, Kabupaten Karangasem
Bahasa :
Jawa Kuna Tengahan
Huruf :
Bali
Jumlah halaman :
halaman 70 lembar
Ditulis oleh :
Geria Pidada, Sidemen, Karangasem
Colophon/ Tahun :
Puput. kasurat ring geria Pidada, Sidemen, Karangasem. Duk ring dina Ra, Kl, wara Watugunung, Tangga1 9 Juli 1978 Yusan ing bhumi.