Babad Usana Jawa
 
Isi Singkat Babad Usana Jawa

Dimulai dengan ceritera kerajaan Majapahit.
Raja beristana di alas Terik.
Adik baginda bernama Sirarya Damar, beristana di Tulembang.
Patih tua tinggal di Majapahit, ia adalah paman raja kedua, bersaudara di atas hubungan dari ibu (wadu), Wesya Majapahit.
Seorang patih bernama Tumenggung Sura, diganti oleh Patih Gajah Mada (berasal dari Bale Agung Mada).
Patih Gajah Mada dan Sirarya Damar adalah andalan Majapahit dalam segala kegiatan.
Saudara saudara (sasanak) Sang Arya Damar adalah: Sang Arya Beleteng, Sang Arya Waringin, Sang Arya Belog, Sang Arya Kepakisan, Sang Arya Benculuk, Sang Arya Sentong, semuanya tinggal di Tulembang, wilayah Majapahit.
Dicatat jumlah seluruh rakyat Sang Arya Damar di Tulembang.
Dicatat seluruh desa desa dalam daerah kekuasaan Majapahit di sebelah barat, timur, dan utara.
Di sebelah selatan hanya orang orang Tambine dan Kedore, semua golongan sudra.
Lain dari para Arya di atas, ada delapan orang Arya yang di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu: Sang Arya Teruan, Sang Arya Kundamwa, Sang Arya Pamwatan, Sang Arya Panjaja Jiwa, Sang Arya Jambi, Sang Arya Lekan, Sang Arya Manguri, Sang Arya Dangang.
Tersebut bahwa raja Bali tidak mau menguasai raja Majapahit.
Raja Majapahit dengan saudara saudaranya prabu-anom prabu-anom, Patih Gajah Mada, Sang Arya Damar dan para Arya lain, mengadakan perundingan.
Raja memerintahkan untuk menyerang Pulau Bali dan agar menangkap Ki Pasung Grigis hidup hidup.
Penyerangan dilakukan dari dua arah.
Dari utara dipimpin oleh Sang Arya Damar, dari selatan dipimpin oleh patih Gajah Mada. Terjadi pertempuran sengit di utara, jatuh korban puluhan ribu. Ki Pasung Giri pemimpin rakyat Bali gugur di Ularan.
Sang Arya Damar kembali ke Majapahit melaporkan basil karyanya, Raja Majapahit marah karena terbunuhnya Ki Pasung Giri dan memerintahkan agar Arya Damar kembali lagi menyerang Bali hingga dikuasai. Mereka pun berangkat, dan dalam waktu tidak lama tiba lagi di Ularan.
Selama Arya Damar berada di Ularan, berdatangan rakyat pantai utara dan Bali timur, menyatakan takluk kepada Sang Arya Damar, sebanyak tiga puluh ribu orang.
Arya Damar pergi ke arah selatan untuk melihat gerakan Patih Gajah Mada, didapatinya tenang tenang di Kuta, belum menghasilkan apa apa.
Timbul kemarahan Arya Damar, namun dijawab dengan tenang oleh Patih Gajah Mada bahwa ia menunggu perintah raja.
Akhirnya Sang Arya Damar berhasil menundukkan Bali Selatan.
Kagum Patih Gajah Mada menyaksikan keberhasilan Sang Arya Damar.
Sang Arya Damar dan Patih Gajah Mada segera kembali ke Majapahit atas panggilan Raja Majapahit yang disampaikan oleh utusan bernama Ki Kuda Pangasih.
Para Arya yang lain serta rakyat pasukannya masih bertahan di Bali.
Antara lain: Arya Sentong, Arya Beleteng, Arya Waringin, Arya Belog, Arya Kepakisan, Arya Minculuk.
Sang Arya Damar, patih Gajah Mada dan Ki Kuda Pangasih segera menghadap raja Majapahit, melaporkan keberhasilannya.
Raja Majapahit ingin berkunjung ke Bali, tiba tiba datang menghadap Arya Sentong membawa berita bahwa Sang Mraja Danawa menggempur serta membunuh Dalem Bedahulu dengan tiba-tiba.
Raja Majapahit memerintahkan agar Arya Damar dan Patih Gajah Mada menghancurkan Mraja Danawa itu, karena berdosa telah membunuh raja Bedahulu.
Terjadi peperangan di Sungai Salukat dipimpin langsung oleh raja Majapahit, Sang Mraja Danawa mengalami kekalahan.
Rakyat Bali dikumpulkan oleh Arya Damar dan diatur pembagiannya untuk masing-masing para Arya sebagai pemimpinnya.
Kemudian raja menuju Gelgel dan dalam waktu singkat mendirikan istana di sana.
Keamanan dan kesentosaan berjalan baik.
Suatu ketika raja membuat persidangan, dalam persidangan itu baginda mengganti nama Sang Arya Damar menjadi Sang Arya Kenceng, memberikan mandat dan tanggung jawab untuk mengatur Pulau Bali.
Agar selalu menjamin dan menjalin kerja sama yang baik antara patih dengan raja.
Sang Arya Kenceng ditempatkan di Tabanan dengan rakyat berjumlah 40,000.
Raja menasihati para Arya yang lain agar tidak timbul kesalahpahaman, karena anugrah raja itu yang ternyata agak berbeda, sampai dengan masalah penggunaan bade.
Para Arya yang lain tunduk kepada sabda raja.
Sang Arya Kenceng diperintahkan agar mengatur menempatkan para Arya yang lain.
Sang Arya Waringin di desa Kapal,
Sang Arya Belog di desa Kabakaba,
Sang Arya Kepakisan di desa Abyan Semal,
Sang Arya Benculuk di desa Tangkas,
Sang Arya Sentong dijadikan kesayangan,
Sang Arya Beleteng dijadikan patih,
Ki Panakawan masih diam di Gelgel.
Brahmana di Katepeng Reges mempunyai tiga orang putri.
Yang tertua dijadikan permaisuri raja,
yang kedua diperistri oleh Arya Kenceng,
yang ketiga diperistri oleh Arya Sentong.
Semuanya berada di pulau Bali.
Kemudian, ketiganya mempunyai putra. Sang raja putra diberikan gelar Sang Ratu Anom.

Dalam suatu persidangan raja memerintahkan untuk membangun kahyangan di Besakih dipimpin oleh Arya Kenceng.
Dalam perjalanan ke Besakih dapat beristirahat di Desa Tusan.
Dijelaskan pula upacara dan segala pembiayaannya.
Kemudian raja mengadakan persidangan lagi, memberikan nasehat pada para Arya pejabat pejabat seluruhnya, agar ingat pada leluhur, kewajiban masing masing dan agar mempelajari ajaran Kamoksan.
Raja digantikan oleh putranya yang bernama Sang Ratu Anom.
Sang Arya Yasa, putra Sang Arya Kenceng dijadikan abdi oleh Sang Ratu Anom, Sang Arya Yasa diutus ke Majapahit.
Sang Arya Yasa mempunyai tiga orang anak, dua orang pria, yang tertua di Pacung dan adiknya Ki Tambangan bersenjatakan sumpitan tak berlubang.
Seorang lagi wanita diasuh oleh ibunya, kemudian diserahkan kepada Ki Asak, di Karang Amla.
Arya Yasa tiba di Majapahit, didapatkan telah sepi dan rusak. Delapan tahun di sana, kemudian kembali ke Bali.
Rumah dan anak istrinya tidak tidak ada di Gelgel.
Sang Arya Yasa mengutuk agar negara hancur lebur.
Sang Ratu Anom menderita sakit hati, karena santapannya setiap hari diganggu oleh burung gagak, dan berusaha mencari ahli sumpitan.
Cucu Sang Arya Sentong melaporkan bahwa cucu Sang Arya Kenceng di Tambangan bernama Sang Arya Bagus Alit ahli menyumpit.
Ki Pragata dititahkan mencari Sang Arya Bagus Alit, kemudian bersama sama mereka menghadap ke Gelgel, burung gagak itu berhasil dibasmi oleh Sang Arya Bagus Alit.
Sang Ratu Anom menitahkan untuk mencari kembali Sang Arya Yasa agar ke Gelgel.
Dijumpai di gunung Windana.
Setelah tiba di Gelgel Sang Ratu Anom menempatkan Sang Arya Yasa di Tabanan bersama putranya yang tertua.
Sang Arya Bagus Alit di Tambangan Sang Ratu Anom memerintahkan para Arya semua agar tetap menghargai Sang Arya Yasa dan putra putranya, berkat jasa jasanya.

Ekapratama: Sang Brahmana Aji Sulinggih berputra tiga orang.
Yang tertua menjadi Siwa.
Yang kedua Buddha.
Yang ketiga Bujangga, mempunyai ajaran (sikap) masing masing. Juga tata cara upacara pemulasaraan jenasah untuk raja yang berwibawa.
Catatan rakyat yang gugur ketika Arya Kenceng mengalahkan Bali. Juga pemberlakuan upacara Sugihan (sugimanik) Bali khusus untuk penduduk Bali asli dan sugihan Jawa, untuk penduduk Bali asal Majapahit, Jawa.
Tercantum pula kahyangan kahyangan di Bali serta upacaranya, menurut penataan Mpu Kuturan.
Kahyangan kahyangan yang ada di Bali seperti Besakih, Uluwatu, dan lain lain.
Dilanjutkan dengan jenis jenis aksara utama (dasaksara), dan lain lain juga kedudukan para Bhatara dalam tubuh manusia.
Seha (sesonteng) pemangku untuk memuja Ida Sang Hyang Widdhi Wasa, berjenis jenis tujuan dan sajen sajennya dalam berbagai manifestasi.

Nama/ Judul Babad :
Babad Usana Jawa
Koleksi :
I Gusti Lanang Mantra Jero Sidemen
Alamat :
Sidemen, Karangasem
Bahasa :
Jawa Kuna
Huruf :
Bali
Jumlah halaman :
48 lembar (1a s/d 48b)