Canang Sari - Dharmawacana
Topik sebelumnya  Topik selanjutnya
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
 
Tentang: REAKSI PIKIRAN YANG MELIHAT BUSANA
 
2 Sep 2003

Rekan Yth.

Om Swastiastu,

Sloka yang mengatur dengan tegas (hitam di atas putih) tentang cara berbusana bagi para walaka (bukan Sulinggih) belum saya temukan, mungkin rekan-rekan lain ada yang tahu, silakan memberi masukan. Bagi para Sulinggih (Pandita, Bhiksu/ Wiku) disebutkan dalam Silakrama tentang Satyabrata dan Amari Wesa. Jika disimak lebih jauh mengenai pengertian Bhiksuka, bahwa tidak hanya Pandita saja yang bisa dikatakan bhiksuka, tetapi juga para walaka yang sudah memahami Weda dan taat melaksanakan ajaran-Nya. Mereka melaksanakan Satyabrata khususnya satyabrata berpakaian, misalnya pakaian sehari-hari memakai kain dan selempod yang menutupi tubuh bagian bawah dan dada.

Namun demikian sesuai perkembangan budaya khususnya tentang tata busana dari zaman ke zaman mempunyai nilai berbeda. Misalnya ketika Raja-Raja di Bali dilantik oleh J.Mol (Residen Bali & Lombok tahun 1940) di Singaraja, ada raja yang berbusana lengkap dengan keris, tetapi tidak bersepatu/ sandal.

Tahun 1964 saya masih melihat gadis-gadis Bali yang berjualan di pasar, bekerja di sawah, sebagai buruh bangunan, jalanan, dll. banyak yang topless. Di tahun itu juga saya melihat di Desa Marga, Tabanan, wanita dan lelaki mandi telanjang bulat campur aduk di sungai (tempat) yang sama, bahkan ketika si wanita sudah berpakaian dan mau pulang membawa kendi (jun) berisi air, dia minta bantuan sembarang lelaki yang sedang telanjang bulat membantu "ngootin" (mengangkat kendi untuk dijunjung).

Sekarang kita melihat wanita-wanita di Bali ke Pura mengenakan kebaya dari bahan yang seperti kaca atau jala. Jadi jika disimak lebih jauh yang membuat kita risih melihat orang tidak menutupi bagian tubuhnya yang vital dengan sempurna, sebenarnya berkembang dari pikiran kita sendiri,

seperti yang diungkapkan dalam: Sarasamusccaya sloka 82:

Sarvam pasyati caksusman manoyuktena caksusa, manasi vyakule jate pasyannapi na pasyati.

Artinya: Mata dikatakan dapat melihat berbagai benda, tiada lain sebenarnya pikiranlah yang menyertai mata, sehingga jika pikiran bingung maka nafsulah yang menguasai; maka pikiranlah yang memegang peranan utama.

Sarasamusccaya, sloka 86:

Parivratkamukasunamekasyam pramadatanau, kunapah kaminibhaksyamiti tisro vikalpanah.

Artinya: Ada Wiku (pendeta) yang melakukan brata, ada pemuda yang besar nafsu sex-nya, dan ada srigala yang sangat lapar. Ketiganya melihat seorang wanita cantik. Maka Wiku berkata: godaan, saya tidak melihatnya; si pemuda merah padam mukanya tiada henti memandang wanita itu karena nafsu ingin segera menggauli; si srigala menetes air liurnya ingin memakan wanita itu.

Nah sekali lagi pikiranlah yang menguasai tingkah laku kita. Maka kendalikanlah pikiran menuju hal-hal yang baik (dharma) dengan berbagai latihan. Cara berbusana dewasa ini mestinya mengikuti norma-norma susila, etika, dan pertimbangan yang bijaksana. Jangan hanya memikirkan kesenangan dan kepuasan diri pribadi, tetapi juga pertimbangkan pikiran orang lain. Syukurlah jika pikiran orang lain seperti Sang Wiku dalam contoh di atas; bagaimana kalau pikiran orang lain seperti pemuda yang energik itu? Bukankah ini akan mengundang bahaya bagi yang berbusana tidak patut itu? Atau dengan berpakaian minim dapat "menggangu" konsentrasi rekan sedharma yang sedang sembahyang.

Om Santi, Santi, Santi, Om....

 
 
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi
Geria Tamansari Lingga Ashrama
Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja, Bali
Telpon: 0362-22113, 0362-27010. HP. 081-797-1986-4