Lontar Raja Purana
 
 
Tim Penterjemah Kembali ke atas
  1. Drs. l Wayan Warna.
  2. Ida Bagus Gede Murdha, BA.
  3. Drs. I Nyoman Sujana.
  4. Ida Bagus Maka
  5. Ida Bagus Sunu
  6. I Dewa Gede Catra
  7. Drs. I Gede Sura

Editor :

  1. Drs. l Wayan Warna.
  2. Ida Bagus Gede Murdha, BA.
 
Kata Pengantar Kembali ke atas


Dengan segala kerendahan hati kami persembahkan buku RAJA PURANA PANGANDIKA RING GUNUNG AGUNG ini kepada khalayak rarnai - karena tidak kesempumaan hasil terjemahan yang dapat kami sajikan. Kami sudah berusaha dengan segala cara untuk menernukan makna sejumlah kata-kata, narnun kami sendiri tidak puas dengan apa yang kami peroleh baik karena istilah itu sudah tidak terpakai lagi pada dewasa ini, tetapi pula bentuk katanya yang sangat meragukan kami, namun semua naskah memuat seperti itu.
Dalam penerbitan ini kami mengambil naskah rontal milik I Dewa Wayan Pucangan dari Jero Kangin Sidemen, Karangasem (A). Di samping itu pula ada tiga buah naskah lain yang kami pergunakan untuk bandingan jika terdapat keragu-raguan kami akan sebuah kata. Naskah-naskah itu ialah: naskah yang ada terjemahannya oleh I Gusti Putu Jiwa (B), naskah lontar No. 958 b Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Bali (C) dan naskah lontar No. 1341 Gedong Kertya Singaraja (D). Di samping kelompok keempat naskah tersebut yang mempunyai isi yang sama terdapat pula naskah yang lain dengan judul RAJA PURANA No. 1531 Kertya dan naskah dengan judul PIAGEM PURA BESAKIH, memuat isi yang berbeda dengan kelompok Naskah terdahulu, tidak kami pergunakan dalam penerbitan ini. Mengenai keempat buah naskah tersebut dapat kami sampaikan bahwa pada dasarnya mempunyai isi yang sama, tetapi tentang panjang naskah kelompok A dan B mempunyai panjang yang sama, sedang kelompok C dan B panjangnya lebih dari Kelompok A dan B sebanyak kurang lebih dua halaman folio ketik. Tetapi setelah kami periksa ternyata tambahan itu tidak mernuat hal yang baru, hanyalah merupakan pengulangan dari beberapa alinea yang sudah disebutkan dalam halaman-halaman terlebih dahulu, dengan mengambil sebuah alinea yang berisi kutukan kepada mereka yang ingkar akan kewajibannya terhadap Pura Besakih. Dengan demikian dimaksud agar Raja Purana tersebut berbentuk satu kesatuan karangan, padahal jika melihat sistem penulisannya mengambil bentuk 'pangeling-ngeling'- Catatan - catatan tentang sesuatu tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan dalam upacara-upacara tertentu.

Penerbitan ini hanyalah dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada masyarakat umum bagaimana' cara, pengaturan upacara - upacara yang dilaksanakan di Pura Besakih pada masa penulisan Raja Purana ini, tentang laba pura, dan tentang banten yang dipersembahkan pada upacara - upacara yang ditentukan. Akhirnya ucapan terima kasih kami kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan ini baik berupa saran, buah pikiran dan informasi - informasi akan hal-hal yang sulit kami ternukan terutama Peranda Istri Mas dari Geria Budakeling Karangasern, I. G. Ayu Mas Putra dan lain-lainnya.

Sekali lagi semoga khalayak rarnai dapat memaafkan kekurang sempurnaan penerbitan ini dan tegur sapa dalam rangka penyempurnaan. penerbitan ini sangat kami harapkan.

Denpasar 10 Januari 1987.


 
SAMBUTAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI Kembali ke atas


OM SWASTYASTU,

Saya menyambut dengan gembira usaha alih aksara dan terjemahan Raja Purana Besakih yang selanjutnya diterbitkan dan disebarkan seluas luasnya di kalangan masyarakat. Saya yakin hasil alih aksara dan terjemahan ini akan sangat berguna bagi masyarakat serta bagi perkembangan penelitian sejarah Pura-pura di Bali. Setidak-tidaknya ada dua manfaat yang kita peroleh dari alih aksara dan penerbitan ini, yaitu di satu pihak merupakan dokumentasi budaya yang kemudian dapat diwariskan kepada generasi muda penerus budaya, dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya itu sendiri, baik sebagai sumber inspirasi maupun sebagai sumber pengembangan kepribadian. Sedangkan di pihak lain akan berfungsi sebagai sumber informasi yang benar bukan saja bagi para peminat tetapi juga bagi seluruh masyarakat.

Sesungguhnya masih banyak sumber-sumber peninggalan sejarah berupa prasasti yang belum bisa diadakan alih aksara dan diterjemahkan ke dalam aksara dan bahasa yang bisa dimengerti oleh masyarakat awam. Hal in! penting sekali. karena bagaimanapun juga kita sebagai pewaris dari nilai budaya bangsa berkewajiban untuk mengenal dan mengetahui proses pertumbuhan suatu unsur budaya pada zaman dahulu. Namun karena banyaknya sumber-sumber tersebut diperlukan kecermatan, ketelitian dan obyektifitas.

Akhirnya saya memohon perkenan Ida Hyang Widi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, semoga buku ini berguna bagi masyarakat baik sebagai bahan bacaan maupun sebagai sumber data bagi kegiatan penelitian budaya.

Selamat dan terima kasih.
Om, Santi. Santi, Santi, Om.
GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI.